Enam Mahasiswa Aceh Tinggalkan China
Sebanyak enam mahasiswa Aceh dipastikan akan meninggalkan China dan akan tiba di Aceh dalam dua hari ke depan, menyusul mewabahnya
BANDA ACEH - Sebanyak enam mahasiswa Aceh dipastikan akan meninggalkan China dan akan tiba di Aceh dalam dua hari ke depan, menyusul mewabahnya virus corona di Negeri Tirai Bambu. Keenam mahasiswa ini akan tiba dalam waktu tidak bersamaan dan berangkat dari bandara berbeda-beda, menurut kota tempat tinggal mereka di China.
Namun, dari enam yang sudah memegang tiket pesawat untuk terbang, tidak ada satu pun mahasiswa Aceh yang tinggal di Kota Wuhan yang dikabarkan akan pulang meninggalkan China. Karena seperti diketahui, saat ini, Kota Wuhan tempat munculnya virus mematikan itu saat ini akses transportasinya ditutup, baik darat, laut, maupun udara.
Informasi Serambi peroleh dari posko siaga Dinas Sosial Aceh, keenam mahasiswa tersebut adalah Dinda Destari (Beijing Language and Culture Language/BLCU), Maria Effi (Shanghai University), Muhammad Sahuddin (Nanjing University/NNU), Genta Mardika (JISU Changchung), Fiqhi Nahdhiah Makhmud dan Nadlia Ariyati (ZJNU Jinhua).
Dinda Destari mahasiswa berasal dari Aceh Timur sudah berangkat dari Beijing dan sudah mendarat di Jakarta Senin (27/1) pada pukul 19.00 WIB. Dinda nantinya akan dijemput oleh petugas posko Aceh di Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta.
Sementara itu, Maria Effi Yana mahasiswa Shanghai University, asal Bireuen berangkat dari kota Shanghai menuju Kuala Lumpur pada pukul 02.00 Selasa (28/1). Namun sayangnya, Maria Effi dikabarkan belum mendapatkan tiket Kuala Lumpur-Aceh karena harga tiket saat ini melonjak tinggi.
Selanjutnya, Muhammad Sahuddin mahasiswa di Nanjing (NNU) asal Aceh Barat sudah berangkat dari Nanjing dan sampai ke Kuala Lumpur. Sahuddin dijadwalkan terbang ke Aceh dan akan tiba ke bandara SIM pada Selasa (28/1) sekira pukul 10.00 WIB.
Mahasiswa lainnya, Geunta Mardika, asal Aceh Utara yang kini kuliah di JISU Changchung, saat ini dikabarkan sudah berada di Kota Fuzhou. Dia sudah beli tiket ke Jakarta dan akan terbang pada pukul 22.00 Selasa (28/1) malam dari Airport Fuzhou. Dijadwalkan, pesawat yang ditumpanginya akan transit di Guangzhou selama 10 jam.
Geunta baru akan terbang lagi keesokan harinya dan diperkirakan akan tiba di Jakarta pada, Rabu (29/1) sekira pukul 12.30 WIB. Sedangkan untuk tiket Jakarta-Aceh dikabarkan belum ada. Dua mahasiswa terakhir adalah Fiqhi Nahdhiah Makhmud (Aceh Tengah) dan Nadlia Ariyati (Banda Aceh), keduanya mahasiswa di kampus yang sama, ZJNU Jinhua.
Keduanya menurut informasi yang diperoleh Serambi sudah membeli tiket pulang ke Aceh dari Hangzhou ke Kuala Lumpur lalu ke Medan. Namun, Serambi tak memperoleh secara detail kapan mereka akan berangkat.
Pulang karena tak bisa kembali
Sebelumnya, sebanyak dua Mahasiswa Aceh yang kuliah di Tiongkok sudah tiba di Aceh. Mereka adalah, Mulia Mardi (Direktur PPI se-Tiongkok) yang kuliah di Wuhan Universty, sudah berada di Aceh sejak tanggal 19 Januari 2020.
Mulia meninggalkan kota Wuhan pada tanggal 8 Januari. Ia mengisi musim liburan dengan traveling ke berbagai kota di China. Saat ingin kembali ke Wuhan, kota itu sudah diblokir. Sehingga Mulia memilih memilih pulang ke Aceh.
Hal serupa juga dialami oleh Nia Alfi Khaira mahasiswa di Wuhan (CCNU). Sama seperti Mulia, Nia awalnya keluar dari Wuhan dengan agenda traveling ke Kota Shanghai dan ketika hendak kembali ke Wuhan aksesnya sudah ditutup. Akhirnya Nia memesan tiket kembali ke Indonesia. Ia pulang ke Aceh pada tanggal 25 Januari 2020 melalui Kualanamu setelah transit di Singapore.
Terjebak di Wuhan
Nasib berbeda dialami oleh Sapriadi asal Aceh Barat dan Intan Maghfirah asal Banda Aceh. Dua mahasiswa yang kuliah di Changchun Provinsi Jilin ini malah terjebak di Wuhan saat sedang berlibur di kota itu. Changchun berjarak sekitar 2000 kilometer dari Wuhan.
Sapriadi dan Intan akhirnya bergabung dengan 10 mahasiswa asal Aceh yang kuliah di Wuhan. Kepada Serambinews.com kemarin, Sapriadi mengatakan, ia bersama Intan menumpang pada asrama yang ditinggali 13 mahasiswa asal Indonesia (5 di antaranya asal Aceh), di kawasan kampus Central China Normal University, Kota Wuhan.
Kelima mahasiswa asal Aceh di asrama itu adalah Fadil asal Aceh Utara, Sapriadi Aceh Barat, Intan Banda Aceh, Alfi Rian Aceh Utara, dan Ory Safwar dari Banda Aceh. “Sedangkan 7 orang mahasiwa asal Aceh lainnya tinggal tidak jauh dari lokasi kami tinggal,” kata dia.
Dengan demikin, saat ini di Wuhan ada sekitar 12 mahasiswa asal Aceh yang masih terisolasi dan berlindung di kamar asrama agar tidak terpapar virus corona.
Direktur PPI se-Tiongkok, Mulia Mardi menuturkan, semua mahasiswa yang sudah meninggalkan Negara China saat ini masih menggunakan uang pribadi. "Yang terpenting adalah kawan-kawan ini tiba di Aceh dan terhindar dari virus corona," katanya.
Sekretaris Dinas Sosial Aceh, Devi Riansyah mengatakan, kepulangan para mahasiswa ini patut disyukuri, mengingat saat ini sudah sangat sulit mendapat akses ke China, khususnya ke Wuhan. "Pertama sekali kita bersyukur, ada beberapa mahasiswa Aceh yang sudah keluar dari China dan berhasil, bahkan dua orang sudah tiba di Aceh," katanya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat, khususnya kepada para keluarga mahasiswa yang sedang studi di China agar tidak khawatir berlebihan. “Kondisi mahasiswa Aceh yang ada di China secara menyeluruh dalam kondisi aman,” katanya.
Bahkan, pemerintah Aceh melalui Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah juga sudah membantu biaya untuk kebutuhan hidup kepada mahasiswa Aceh yang sedang terisolasi di wilayah Wuhan, sementara mahasiswa Aceh yang berada di luar Wuhan kebanyakan masih bisa beraktivitas. "Isolasi itu, bentuk perhatian pemerintah China kepada siapa saja yang sedang berada di Wuhan, diisolasi guna menghindari serangan virus corona,” demikian Devi.(dan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penumpang-menggunakan-masker-setelah-melewati-alat-pengukur-suhu-tubuh.jpg)