Jumat, 5 Juni 2026

Cut Putri, Kepincut Menjaga Situs Sejarah  

Berkat rekaman video itu pula, mata dunia internasional terbuka, betapa dasyatnya gelombang tsunami menerjang Aceh

Tayang:
Editor: bakri
IST
Cut Putri 

NAMANYA pertama kali dikenal ketika musibah tsunami yang meluluhlantakkan sebagian Aceh pada 2004 silam. Ketika itu ia berhasil merekam detik-detik kedahsyatan gelombang tsunami saat menyapu daratan Aceh. Hampir semua televisi nasional menayangkan video hasil rekamannya, tak terkecuali televisi-televisi mancanegara.

Berkat rekaman video itu pula, mata dunia internasional terbuka, betapa dasyatnya gelombang tsunami menerjang Aceh. Dia adalah Cut Putri, wanita berhidung bangir dengan paras Timur Tengah. Belum lama ini, Cut Putri kembali muncul ke publik. Namun kemunculan Cut Putri kali ini tidak ada kaitan dengan video tsunami yang melambungkan namanya di jagat raya.

Ia kini sedang aktif dalam kegiatan pelestarian sejarah Aceh, pendidikan, sosial, budaya, dakwah, dan agama bersama Yayasan Darud Donya yang ia kelola bersama sejumlah kerabat dan sahabatnya. Cut Putri sendiri didapuk sebagai ketua. Melalui yayasan itu, Cut Putri melakukan berbagai kegiatan, terutama merawat dan menjaga situs sejarah dan cagar budaya di Aceh. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini seperti kepincut untuk terus merawat dan mejaga situs sejarah di Aceh.

Kemarin, ia bersama ayahnya dan Saifunsyah (mantan anggota DPRK Aceh Besar) menyambangi kantor media ini. Cut Putri disambut oleh News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M Ali. Dalam kunjungan tersebut, Cut Putri menyampaikan berbagai hal tentang upaya yang dilakukan pihaknya dan kawan-kawan dalam penyelamatan situs sejarah yang ada di Aceh.

"Ini panggilan jiwa untuk merawat sejarah kita sendiri. Aceh itu lekat dengan sejarah, sejak dulu Aceh itu kuat karena pengetahuan sejarah dituturkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Sekarang di zaman ini, kita yang mengetahui akar sejarah wajib menjaga, merawat, dan memberi tahu," kata Cut Putri.

Dia menuturkan, semua masyarakat Aceh punya kewajiban untuk merawat semua situs sejarah Aceh, seperti makam para para sultan kesultanan Aceh, cagar budaya, dan situs-situs sejarah lainnya. Apalagi Aceh sejak dulu sangat melekat dengan Islam. "Aceh merujuk pada Islam. Aceh berperadaban tinggi, kaya budaya, dan di masa lampu juga dikenal ke seluruh dunia," kata dia.

Saat ini, di tengah-tengah tergerusnya nilai-nilai sejarah dan budaya, Cut Putri merasa prihatin dan merasa wajib berada di garda terdepan untuk mengawalnya. "Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya, jangan sampai anak cucu kita lupa tentang sejarah," kata Cut Putri.

Keturunan Rasulullah

Saat ini, Cut Putri bersama yayasannya juga sedang berupaya maksimal untuk menjaga dan merawat salah satu situs sejarah paling penting untuk Aceh, yakni makam Sultan Sayed Jamalul Alam Badrul Munir, sultan ke-20 di Kesultanan Aceh yang menurut sejarah adalah cucu dari keturunan Rasulullah Saw. Makam tersebut menurut Cut Putri berada di kawasan Jalan Mohammad Jam Banda Aceh, tepatnya di belakang salah satu warung makan kawasan itu. Cut Putri merasa miris karena kompleks makam itu kini seperti tak terawat bahkan ada dua makam di samping makam Sang Sultan sudah tersemen.

"Tidak banyak yang tahu, padahal itu adalah makam Sultan Aceh keturunan Rasulullah Saw. Di situ ada empat makam, tapi kini tinggal dua karena dua lagi sudah tersemen. Kita perlu bersama-sama, termasuk pemerintah untuk menyelematkan lokasi itu," katanya.

Merujuk sejarah, makam itu, kata Cut Putri, masuk dalam Taman Poteu Jeumaloy, sebuah taman yang dibangun saat Istana Darud Donya (istana Kesultanan Aceh) masih ada sebelum dihancurkan oleh Belanda. Di taman itu katanya ada empat makam, makam Sultan Sayed Jamalul Alam Badrul Munir dan istrinya Pocut Wan Syarifah Aja Permaisuri.

Dua makam lagi adalah makam Sultan Sayed Badrul Alam (ayah Sultan Sayed Jamalul Alam Badrul Munir) dan makam Sayed Syarif Ibrahim yang tak lain adalah kakeknya. "Ini benar-benar situs sejarah, tapi tak banyak yang tahu. Kita akan terus merawatnya, beberapa waktu lalu kita juga mengadakan haul di sana meski sangat susah kita mendapat izinnya," kata Cut Putri.

Cut Putri mendesak Pemerintah Kota Banda Aceh untuk menyelamatkan situs sejarah itu dengan cara penertiban kawasan makam. "Kita minta pemerintah untuk menertibkan akses jalan ke sana yang sekarang digunakan untuk berjualan, membebaskan kawasan itu dari bangunan-bangunan, memugar, dan memulihkan situs sejarah tersebut," pinta Cut Putri.

Menurut Cut Putri, ini wajib dilakukan, selain karena Sultan Aceh, Sultan Sayed Jamalul Alam Badrul Munir juga keturunan Rasulullah Saw. “Betapa jahat dan berdosa kita jika ini tidak kita jaga makamnya, ini adalah Sultan Aceh keturusan Rasulullah Saw, wangsa syarief, keturunan sayed, dari Arab mufti Rasulullah," pungkasnya.(subur dani)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved