Buku Gayo dan Kerajaan Linge

Buku "Gayo dan Kerajaan Linge" Karya Yusra Habib Abdul Gani, Mengungkap Tabir Gayo

Yusra Habib Abdul Gani, salah seorang intelektual Gayo, kini bermukim di Denmark sejak 1998 Lahir di Kenawat 12 April 1954.

Buku
For Serambinews.com
Buku mengungkap tabir Gayo ditulis DR. Yusra Habib Abdul.Gani, SH. 

Ia meninggal dunia di Lombok, Mataram pada 6 Juni 2018 dalam usia 87 tahun dan dimakamkan di komplek makam raja Aceh, Baperis, Banda Aceh.

Dalam percakapan dengan serambinews.com, di Jakarta, Sultanah Teungku Putroe pernah berencana menunjungi Linge, tanah leluhur kakek buyutnya Sultan Alidin Johan Syah. Sampai ia meninggal dunia, keinginan itu tercapai.

"Kita ini satu. Pendiri Kerajaan Aceh Itu Sultan Johan Syah dari Linge," kata Bunda Putroe mengenai benang sejarah itu.

Lalu bagaimana pula hubungan Gayo dengan Kerajaan Peureulak? Yusra Habib Abdul Gani pada halaman 30, menuliskan, bahwa Malik Ishaq dari Peureulak menyelamatkan diri ke daerah Gayo Isaq sebagai pelarian politik, atas pergolakan perang selama 20 tahun dengan Sriwijaya.

Masa itu, Kerajaan Peureulak diperintah Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahim Sjah Johan (986-1023).

Dalam rangka menyiapkan perbekalan perang, Sultan Peureulak memilih Gayo, seperti Kute Rayang, Kute Robel, Kute Keramil dan lain-lain yang tanahnya subur.

Kehadiran Malik Ishaq di Gayo diterima sangat baik oleh penduduk, dan pengulu setempat bahkan mengijinkan Malik Ishaq mendirikan kerajaan yang berpusat di Isaq pada 988 Masehi.

Setelah perang reda, sebahagian rombongan Malik Isaq pulang ke Peureulak dan sebahagian lagi menetap di Isaq dan mereka menjadi "the new gayo men" tulis Yusra Habib (hal:33).

Buku "Gayo dan Kerajaan Linge" ini mengungkapkan, bahwa jauh sebelum berdirinya Kerajaan Linge dan kehadiran pelarian politik dari Peureulak, Malik Ishaq dan rombongan di Gayo dan mendirikan kerajaandengan pusat di Isaq, di wilayah itu sudah ada komunitas masyarakat Gayo purba yang berhasil diidentifikasi secara ilmiah oleh Balai Arkeologi Medan.

Temuan kerangka manusia purba dan benda-benda budaya berupa anak panah, gerabah, gigi yang diratakan di Ceruk Mendale dan Ujung Karang di tepi Danau Laut Tawar dan hasil uji karbon menunjukkan bahwa usia kerangka manusia dan benda budaya purba itu 8.430 tahun.

Ini artinya nenek moyang Gayo itu sudah lebih awal ada di banding kehadiran Adi Genali dan Malik Ishaq.

"Berdasarkan fakta yang ditemukan di Loyang Mendale dan Ujung Karang membuktikan bahwa karakter nenek moyang Gayo sungguh mahir dan kreatif terutama dalam seni budaya, upacara ritual keagamaan, memiliki falsafah hidup, arsitektur, seni ukir, seni suara dan menganyam. Hal ini dapat dipahami dan diterima oleh karena gaya hidup nomaden pada ketika itu dianggap sudah cukup memadai, mereka rasakan puas, aman, tertib, harmonis dan damai. Mereka belum memiliki pemimpin lokal, yang dikenal hanya pemimpin keluarga yang tinggal dalam rumah besar," tulis Yusra Habib Abdul Gani.

Buku ini juga mencoba mengungkap istilah Gayo. Tulis Yusra Habib, terdapat dua teori yang diakui secara ilmiah oleh orang Gayo berdasarkan kekeberen tradisi lisan.

Pertama, perkataan ’Gayo’ berasal dari bahasa Batak Karo yang berarti ’Gerep’ (Kepiting yang hidup di rawa-rawa atau di Sungai).

Lokasi tempat ’Gerep’ ini hidup disebut ’Pegayon’. Perkataan ’Gayo’, bukan menunjuk kepada eksistensi dan identitas suatu etnis atau bangsa. Ianya hanya menunjuk kepada suatu lokasi dalam peta bumi dunia bernama ’Pegayon’ (suatu lokasi rawa-rawa, dimana banyak hidup kepiting), terletak di Kampung Porang Blang Pegayon (Sekarang: wilayah administrasi Kabupaten Gayo lues).

Pada zaman dahulu, penduduk yang datang dari kampung lain, maupun yang berada di sekitar lokasi, apabila mau mencari Kepiting, mereka kata: ’mau ke Pegayon’.

Perkembangan selanjutnya, perkataan ’Pegayon’, mengalami proses perubahan sebutan dan ta’rif –dari sebutan ’Pegayon’ –yang luasnya kurang dari 500 m., berubah kepada nama suatu sebuah negeri bernama ’Gayo’ (Dataran Tanah Tinggi Gayo).

Dari nama tersebut secara natural, penduduk yang mendiami tanah ini melahirkan ikatan kekerabatan hingga menyusun sebuah konsep kebangsaan Gayo.

Di atas bumi bertuah inilah mereka menyara hidup, beranak keturunan sebagai sebuah bangsa yang memiliki sistem dan struktur kerajaan, tapal batas wilayah, identitas budaya, falsafah dan bahasa Gayo yang dikelompokkan kedalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.

Teori pertama ini dapat diterima kebenarannya, karena, tulis Yusra Habib, dari sudut pandang antropologi dan sosio-politik, perubahan nama dari ’Pegayon’ kepada ’Gayo’ merupakan proses alamiah, yang lazim berlaku di dunia ketatanegaraan dan georaphi.

Misalnya Haiti, yang sebelumnya dinamai La Isla Española, berubah kepada Hispañola dan terakhir berubah menjadi Haiti.

Demikian pula proses sebutan dari ’Melayunisia’ berubah kepada sebutan ’Indunisia’ hingga kepada ’Indonesia’.

Sebutan terhadap Pidië –salah satu Kabupaten di Aceh– juga mempunyai sejarah panjang, setidak-tidaknya antara tahun 1400-1500-an, Pidië dikenali sebagai Poli dan kerajaannya dinamakan kerajaan Poli.

Pada gilirannya, nama Poli berubah kepada Pedir.

Nama Pedir tetap eksis hingga awal abad ke-19, bahkan tempat penandatanganan Perjanjian Rafless pada 22 April 1819 berlangsung di Pedir, bukan Poli dan bukan pula Pidië.

Nama Pidië, secara resmi baru muncul dan diakui setelah dikeluarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 1956, tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Aceh, dimana pada pasal 1, nama Pidie disebut sebagai salah Kabupaten dalam lingkungan wilayah administratif Provinsi Aceh.

Ini urutannya: Poli berubah kepada Pedir dan akhirnya berubah menjadi Pidië.

Teori kedua menyatakan bahwa, perkataan ’Gayo’ berhubung kait dengan peristiwa tragis yang menimpa Merah Mege, ketika enam bersaudaranya (abang) bersepakat menjebloskan adik bungsunya (Merah Mege) kedalam sebuah Telaga tua di Loyang Datu atas alasan merasa irihati, karena Muyang Mersa (Ayah) dinilai pilih kasih –lebih menyayangi Merah Mege berbanding– enam abang kandung lainnya.

Saat disadari oleh Muyang Mersa bahwa anak bungsunya sudah hilang, maka upaya pencarian pun dilakukan oleh penduduk setempat dan setelah berhari-hari dilakukan pencarian, Merah Mege berjaya ditemukan atas bantuan seekor anjing peliharaan Muyang Mersa bernama Pasé, yang rupa-rupanya setiap hari secara rahasia, Pasé memasok makanan kedalam telaga tua itu, dimana Merah Mege berada.

Pencarian membuahkan hasil, dimana Merah Mege berhasil diselamatkan dalam keadaan selamat hidup. Ketika masyarakat yang menemukan Merah Mege, maka secara spontas mereka berteriak sambil melafazkan ’DirGayo’, ’DirGayo’, ’DirGayo’, yang bermakna ’Selamat/sehat wal’afiat.

Pada gilirannya, perkataan ’DirGayo’ mengalami perubahan kepada ’Gayo’ (berarti selamat sejahtera).

Berangkat dari fakta di atas, lanjut Yusra Habib, maka orang Gayo sesungguhnya sejak tahun 988 Masehi –yaitu tahun berdirinya kerajaan Malik Ishaq di Isaq (tanah Gayo)– dan pada tahun 1025 Masehi –yaitu tahun berdirinya kerajaan Islam Linge di Buntul Linge (tanah Gayo)– dimana peradaban Islam sudah hidup dan berkembang di tanah Gayo.

Bandingkan dengan kerajaan Samudera Pasai –sekarang merupakan wilayah administrasi Kabupaten Aceh Utara di Pesisir Aceh– yang baru berdiri pada tahun 1267.

Dengan perkataan lain, setelah 242 tahun lamanya kerajaan Islam Linge wujud, barulah berdiri Kerajaan Pasai (1297-1326 M); atau setelah 279 tahun berdirinya Kerajaan Islam Malik Ishaq wujud di tanah Gayo.

"Memandang akuratnya fakta sejarah Gayo, maka dalam konteks ini sungguh mengejutkan, apabila muncul pendapat/teori bernada ’sungsang’ tentang asal-asul perkataan ‘Gayo’. Teori ini menyebut bahwa, ”… nama Gayo berasal dari kata ’kayo’ yang berarti ”takut” atau melarikan diri." Demikian Yusra Habib Abdul Gani. (*)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved