Breaking News:

Citizen Reporter

Hari Pekan di Bazaria Pantai Kuala Lumpur

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kuala Lumpur....

For Serambinews.com
Chairul Bariah di depan gedung Abdul Samad yang dibangun oleh Inggris. 

Hari Pekan di Bazaria Pantai Kuala Lumpur

CHAIRUL BARIAHDosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kuala Lumpur, Malaysia

MALAYSIA adalah salah satu negara jajahan Inggris dan memproklamirkan kemerdekaannya pada 31 Agustus 1957. Maka tak heran, banyak gedung bersejarah peninggalan Inggris di negara ini. Salah satunya adalah Bangunan Sultan Abdul Samad (1804-1898) yang berdiri kokoh dan menjadi salah satu destinasi wisata di Kuala Lumpur (KL). 

Kota ini merupakan metropolitan dan kota terbesar di Malaysia. Pertumbuhan ekonominya juga sangat pesat.  Layaknya sebuah ibu kota, maka KL memiliki daya tarik kuat untuk dikunjungi. 

Selama satu minggu saya menetap sementara di suatu wilayah “perkampungan tradisi” dalam bahasa Malaysia, namun Indonesia menyebutnya dengan “tradisional”, dari kata ini tentu dapat kita bayangkan bagaimana suasana keseharian penduduknya. 

Kampung tradisional ini bernama Bazaria Pantai Dalam Kuala Lumpur, kampung yang unik dan banyak menyimpan cerita menarik. Di kampung ini terdapat beberapa pedagang kuliner yang mirip seperti di Indonesia.

Menariknya, di kampung ini ada pasar tradisional berupa hari pekan dalam satu minggu tiga hari, yaitu Senin, Rabu, dan Sabtu yang dibuka mulai pukul 14.00 sampai pukul 22.00 waktu Malaysia. Kalau di Aceh, hal seperti ini biasa disebut uroe peukan atau uroe gantoe. Uniknya, pasar ini berada di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi seperti apartemen milik warga maupun pemerintah.

Melalui HUDA, Unissa Brunei Darussalam Janjikan Pengakuan Ijazah Dayah di Aceh

15 Pemain Bergabung di Latihan Perdana Persiraja, Termasuk Mitter dan Bruno

Hari Kedua Tes SKD, 571 CPNS Gugur, 66 Orang tak Hadir dan Terlambat, Ini Imbauan BKPSDM

Berada di pasar tradisional ini saya merasa seperti ada di Uroe Hameh (pekan hari Kamis) di tempat saya tinggal, Matangglumpang Dua, Kabupaten Bireuen, yang berbagai keperluan rumah tangga dan aneka kuliner tersedia di sini. Misalnya cendol, nasi lemak, sambal tempe, ayam bakar, ayam  goreng, bakso, aneka buah, dan lain-lain. Masakan Minang pun tersedia di sini. Harganya juga sangat terjangkau. 

Kalau kita pernah menonton serial Upin dan Ipin dalam satu episode mereka hadir di hari pekan. Saat itu aneka makanan mereka borong dan tentu kita tidak lupa dengan si Mail yang jual ayam gureng “tiga seringgit, tiga seringgit”.

Saat itu suasana di pasar semakin ramai tatkala ibu-ibu rumah tangga sibuk memilih makanan dan tak kalah menariknya adalah ada sekelompok kaum lelaki yang belanjanya lebih banyak dari kaum ibu. Spontan saya bertanya, kenapa belanjanya banyak sekali? Ternyata mereka adalah orang Indonesia dari Madura yang sudah lama tinggal di Malaysia dan profesinya beragam. Di antaranya sebagai pedagang makanan. 

Halaman
123
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved