Kamis, 7 Mei 2026

Aceh Harus Waspadai Corona,  Indonesia Berpotensi Terdampak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan situasi darurat kesehatan global terkait penyebaran virus Corona

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBI/ SUBUR DANI
Ketua Komisi V DPRA, M Rizal Falevi Kirani bersama wakil dan para anggota mendengar penjelasan pihak RSUZA terkait ruangan khusus penanganan pasien virus corona di gedung lama RSUZA, Selasa (28/1/2020). 

BANDA ACEH - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan situasi darurat kesehatan global terkait penyebaran virus Corona dari Wuhan, Cina. Virus yang sudah menewaskan sekitar 170 orang itu, sampai saat ini dipastikan telah   menyebar ke 15 negara.

Menurut Ketua Komisi V DPRA, M Rizal Falevi Kirani, yang membidangi kesehatan dan kesejahteraan, para ilmuwan memprediksi Indonesia berpotensi terkena wabah virus yang menyebar dari hewan itu. Oleh karena itu, menyahuti pengumuman WHO, secara khusus Aceh sebagai salah satu provinsi di Indonesia harus menyiapkan diri dari segala kemungkinan terjangkitnya virus tersebut.

"Aceh harus waspadai Corona. Segera lakukan berbagai persiapan, karena sebaran virus itu biasanya sangat cepat. Kita tentu berharap tidak ada suspek di Aceh dan umumnya di seluruh Indonesia," kata Falevi, Sabtu (½).

Pemerintah Aceh, lanjutnya, melalui pejabat terkait harus lebih serius menyahuti pengumuman WHO tersebut. Mempersiapkan semua kebutuhan peralatan penanganan dan pencegahan secara komprehensif. "Karena peralatan medis kita dalam menangani wabah Corona yang mematikan itu belum siap. Rumah sakit belum ada alat yang dibutuhkan khusus untuk wabah yang mematikan itu," katanya.

DPRA menyambut baik, niat baik pemerintah pusat yang disampaikan Kementerian Luar Negeri  sudah menyiapkan tempat karantina di Jakarta dan menyiapkan perlengkapan medis yang sesuai SOP untuk penanganan wabah  corona, khususnya bagi mahasiswa Aceh yang pulang dari Wuhan, Hubei, Cina.

"Peringatan global ini harus benar-benar tersampaikan kepada masyarakat Aceh dengan upaya-upaya  preventif dan sosialisasi kepada masyarakat dengan memberikan panduan pencegahan secara massif," kata politisi PNA ini.

Semakin meluasnya penyebaran virus Corona menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Terkait hal itu, Ombudsman RI Perwakilan Aceh yang dipimpin langsung oleh Dr Taqwaddin beserta beberapa Asisten Ombudsman melakukan inspeksi mendadak (Sidak), ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, Jumat (31/1). Bandara SIM merupakan pintu masuk penerbangan domestik maupun internasional.

Sidak ini dilakukan untuk mengecek kelengkapan alat dan kesiapan petugas dalam pendeteksian dini virus corona ini. “Hal ini tentu penting dilakukan untuk mengetahui kondisi peralatan dan kesiapan pihak Bandara dari segi pendeteksian maupun pihak medisnya” ujar Taqwaddin.

Dikatakan, dari hasil sidak itu pihaknya bahwa Bandara SIM sudah memiliki  thermo scanner, alat untuk mengukur suhu tubuh para penumpang. “Kalau suhu tubuhnya normal, maka kotak–kotak dalam monitor akan berwarna hijau. Jika ada penumpang dengan suhu di atas 38 derajat celcius, maka kotak tersebut akan berwarna merah,” jelasnya.

Penumpang yang memiliki suhu di atas 38 derajat celcius akan dicek lebih lanjut kesehatannya apakah terindikasi terkena virus berbahaya ini atau tidak. “Kami bekerja sama dengan pihak RSUZA, dimana penumpang pesawat diharuskan untuk pengecekan kembali kesehatannya. Bilik isolasi dan ambulans juga sudah siap beroperasi jika terjadi kondisi darurat. Untuk menjamin kesehatan karyawan, seluruh pihak Bandara juga di haruskan untuk menggunakan masker,” jelas Jun Ichsan, petugas Karantina Kesehatan Bandara didampingi Ferdi dan Wawan, Petugas Imigrasi Banda Aceh.

Dikatakan Taqwaddin, pihaknya bukan hanya mengecek kelengkapan alat dan kesiapan petugas, tapi  juga memastikan kalau semua alat dan bilik isolasi bekerja dengan baik. “Kami menunggu hingga kedatangan penumpang dari Kuala Lumpur untuk memastikan beroperasinya dengan baik semua alat tersebut. Hasilnya kami rasa bandara SIM sudah siap untuk menghadapi kemungkinan terburuk dalam menghadapi masuknya virus corona ini, ujar Dr Taqwaddin.

Ditambahkan, saat ini tercatat ada delapan orang yang datang dari Cina yang mendarat di Bandara SIM. Semua mereka adalah warga Aceh yang sedang menimba ilmu di sana. Meski begitu, mereka bukan mahasiswa yang menuntut ilmu di Wuhan, lokasi awal munculnya virus Corona. "Kita doakan, semoga penyebaran virus ini tidak meluas dan kondisi kembali membaik seperti biasanya," pungkas Taqwaddin.(as)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved