Jurnalisme Warga

Dinamika Pemilihan dan Prototipe Keuchik Gampong  

BEBERAPA hari lalu saya berdiskusi dengan seorang sahabat. Diskusi kami terkait dengan pemilihan keuchik yang akan dilaksanakan

Dinamika Pemilihan dan Prototipe Keuchik Gampong   
IST
ZARKASYI YUSUF, warga Gampong Barat, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie dan ASN pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH ZARKASYI YUSUF, warga Gampong Barat, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie dan ASN pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

BEBERAPA hari lalu saya berdiskusi dengan seorang sahabat. Diskusi kami terkait dengan pemilihan keuchik yang akan dilaksanakan di kampung halaman saya, yaitu di Gampong Barat, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie.

Diskusi kami berawal dari pertanyaan saya mengapa belum ada pemilihan keuchik baru, padahal ini sudah masuk tahun 2020. Dari perbincangan kami, tak ada sebab pasti mengapa tertunda. Beberapa sebabnya hanya dugaan dan perkiraan kami saja. Saya sendiri berharap, para pihak terkait yang membaca reportase ini bisa berkontribusi untuk mempercepat proses pemilihan keuchik baru. Sebab, tak elok jika sebuah gampong tanpa seorang pemimpin yang definitif. Apalagi dengan karut-marut masyarakatnya yang hanya membawa banyak mafasid (keburukan) daripada maslahahnya. 

Seiring perkembangan zaman, kontestasi pemilihan keuchik hampir sama dengan pemilihan presiden yang sarat dengan dinamika politik. Sebab, para politikus gampong yang sarat kepentingan melakukan manuver agar kandidat yang dijagokan lolos menjadi keuchik terpilih.

Saya yakin, menjelang pemilihan keuchik intensitas politik gampong pasti meningkat, bahkan black campaign  pun dilakukan, sehingga upat caci, sumpah serapah, fitnah, dan kampanye kebencian tidak dapat dihindari. Saya selalu berdoa semoga pemilihan keuchik di kampung halaman saya tidak seperti yang saya deskripsikan.

Ragam motivasi mendorong seseorang menjadi keuchik, apalagi dengan dukungan finansial yang cukup melimpah, mulai dari motivasi murni untuk membangun gampong hingga sebagai media untuk dapat menikmati “kue pembangunan” yang kini sudah dibagikan ke seluruh desa di Nusantara. Sebuah realitas yang tidak dapat dipungkiri bahwa menjadi keuchik adalah lahan kerja baru, mereka yang tidak memiliki pekerjaan pasti termotivasi untuk menjadi calon keuchik. Terlepas apakah yang bersangkutan punya kapasitas untuk menjadi orang yang dituakan di gampong tersebut. Jika mencari pekerjaaan menjadi motivasinya, maka ikhtiar dan modal pun dikorbankan agar cita-citanya mendapatkan pekerjaan dapt diraih dengan mulus.

Dalam kondisi ini, mengembalikan modal dan meraih keuntungan pasti menjadi target utama. Model motivasi hanya untuk membangun gampong, tanpa terkait dengan dukungan finansial kini sedikit langka dalam masyarakat. Figur pribadi keuchik yang idealis pasti akan berbenturan dengan orang yang menyimpan sejumlah kepentingan dalam kontestasi keuchik. Akibatnya, pasti akan ada upaya upaya untuk menghambat laju figur idealis.

“Sejuta” kepentingan kini telah merambah gampong. Akibatnya, orang orang kuat di gampong pun kini memamfaatkan kesempatan untuk mengendalikan seseorang menjadi keuchik. Orang kuat di gampong pasti akan menggunakan pengaruhnya untuk meloloskan seseorang yang dijagokannya menjadi keuchik dan selanjutnya akan mengendalikan orang tersebut untuk memetik kepentingan, baik kepentingan itu bersentuhan dengan pengembangan gampong maupun kepentingan komunitas tertentu.

Ketika menjabat keuchik, seseorang yang sukses dengan kendali orang kuat pasti akan menghadapi kendala dalam menjalankan misinya. Apalagi misi tersebut bertolak belakang dengan kepentingan orang kuat yang pernah menjadi tim suksesnya.

Salah satu penyebab munculnya berbagai kepentingan di gampong disebabkan anggaran yang melimpah ruah. Sebagian orang berpikir bahwa dana untuk gampong dapat digunakan seenaknya dengan mengabaikan prinsip-prinsip pemanfaatan dan penggunaan uang pemerintah, sehingga banyak orang berkompetisi untuk menjadi orang nomor satu di gampong (keuchik). Sebenarnya, prinsip penggunaan dan pemanfaatan anggaran pemerintah mengacu pada regulasi atau aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Siapa saja yang mengabaikan hal-hal tersebut–termasuk keuchik-- pasti akan berhadapan dengan penegak hukum.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved