Opini

73th HMI Berbagai Tekanan Zaman    

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir pada 5 Februari 1947 di saat umat Islam sudah mulai tercerai berai akibat dari sebagian besar umat dirasuki

73th HMI Berbagai Tekanan Zaman      
Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dan Kelautan Universitas Malikussaleh (UNIMAL) Aceh 

Oleh Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dan Kelautan  Universitas Malikussaleh (UNIMAL) Aceh

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir pada 5 Februari 1947 di saat umat Islam sudah mulai tercerai berai akibat dari sebagian besar umat dirasuki kecintaan dunia yang berlebihan. Padahal ketika itu mahasiswa yang beragama Islam cukup banyak terutama di Jogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar.

Lafran Pane beserta mahasiswa dari Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta merasakan sangat prihatin terhadap kondisi tersebut. Para mahasiswa yang selalu terpatri hatinya untuk melakukan perubahan kepada kebaikan atau yang sering disebut sebagai "agen of exchange" mencoba menyatukan kekuatan mahasiswa Islam dalam sebuah wadah.

Kondisi negara Indonesia yang baru beberapa tahun diproklamirkan kemerdekaannya masih sangat labil bila tidak diperkuat keragamanya untuk kemandirian negara kesatuan serta ditakutkan akan terjadi perpecahan kembali sebagai mana yang diinginkan kaum penjajah dan kroni-kroninya. Lafran Pane terpanggil menyatukan para mahasiswa Islam dalam satu ikatan untuk membangun negaranya.

Berbagai karya yang di toreh mahasiswa Islam tidak disangsikan oleh semua kalangan, namun karya tersebut sepertinya belum mampu menyakinkan  semua pihak khususnya kalangan akademisi bahwa sumbangsih umat Islam yang luar biasa tersebut sebagai inspirasi utama dalam membebaskan Indonesia dari cengkraman para penjajah.

Virus pecah belah yang ditanamkan penjajah yaitu "devide of impera" harus diantisipasi dengan penyatuan diri dalam sebuah organisasi yang terkoordinir dengan baik untuk kemaslahatan bersama. Mahasiswa sebagai kelompok intelektual sangat satrategis mengambil peran ini untuk menyatukan diri dalam sebuah wadah organisasi pengkaderan. Dengan menjadikan Alquran dan sunah Rasulullah sebagai pedoman dasar, maka keberadaan organisasi tersebut akan mendapat taufiq dan hidayah dari pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya. Islam sangat menekankan kepada pemeluk agamanya agar tidak berbalik kebelakang apabila berhadapan dengan musuh, karena itu merupakan pengkhiatan yang sangat dimurkai oleh Allah SWT.

Dengan selogan yakin usaha sampai (yakusa) membuat kalangan HMI bersemangat berbuat yang terbaik dengan petunjuk Ilahi Rabbi di muka bumi. Walau tantantangan yang luar biasa diterima, terutama dari bagian kalangan penguasa saat itu yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) serta anderbonya. Aktivis HMI terus berjuang membangun bangsa dan negara ini yang sejalan dengan fitrah manusia. PKI sangat bernafsu membubarkan HMI karena dianggap ganjalan utama untuk mengkomuniskan rakyat yang taat beragama. Bahkan tindakan yang di luar batas prikemanusiaan pun mereka jalankan. Namun di sisi lain organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII), adik kandung dari HMI, para santri serta kalangan cendikiawan muslim melawan terhadap keinginan PKI dan kelompok munafiq yang menyerukan pembubaran organisasi yang bernafaskan Islam tersebut.

Keinginan PKI untuk menjual kedaulatan negara dan agama kepada komunis akhirnya kandas dengan bangkitnya umat Islam di era orde baru, terutama para tantara yang memiliki tingkat jiwa nasionalisme terhadap bangsa dan negara yang tidak diragukan lagi. Masa sulit dengan ketidakpastian tersebut kemudian diterpa kembali oleh hasutan kaum nasionalis yang cenderung kepada sekuler kepada rezim orde baru dengan fitnah bahwa seolah-olah Islam itu bertentangan dengan Pancasila.

Sehingga keluar ultimatum bahwa semua organisasi wajib berazaskan Pancasila. HMI kembali mendapat ujian menyangkut azas yang menjadi pedoman utama dalam berbagai aktivitas organisasi. Pancasila yang merupakan kesepakatan dari para pendiri bangsa yaitu hasil istihat para ulama dicoba benturkan dengan keyakinan umat Islam.

Menjelang Kongres HMI ke-16 tanggal 24-31 Maret 1986 di Padang Sumatera Barat, organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia akibat dari represi rezim Orde Baru yang memaksa penerapan azas tunggal Pancasila. HMI yang semula hanya berazaskan Islam terbelah menjadi dua kubu, yaitu kubu yang tetap mempertahankan azas Islam dengan kubu yang berusaha mengikuti perintah Presiden Soeharto mengubah azasnya menjadi Pancasila.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved