Breaking News:

Citizen Reporter

Pertautan Penting antara Hadramaut Yaman dan Aceh

Kota-kota itu dikelilingi gurun pasir, tetapi di sana terdapat sebuah keberkahan ilmu agama yang luar biasa.

Editor: Mursal Ismail
For serambinews.com
SAYID MAHMUDDIN ASSEQAF 

Lebih lanjut, pada abad ke-18 M terdapat juga seorang tokoh hadrami yang masyhur di Aceh yakni Habib Abu Bakar bin Husein Bilfaqih yang makamnya terletak di Peulanggahan, Banda Aceh.

Keluarga Bilfaqih ini merupakan keturunan dari pada Syeikh Sayyid Abdurrahman Bilfaqih bin Muhammad bin Abdurrahman Al-asqa’ Ba’alawi dan makam keluarga ini terletak di pemakaman Zanbal, Tarim.

Kisah beliau masyhur juga diceritakan dalam kitab Majmu’ Kalam Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman bin Ali As-seqaf yang menjelaskan tentang tiga tokoh sufi dari Hadramaut yang memiliki karamah yang berbeda-beda diantaranya Habib Abu Bakar bin Husein Bilfaqih yang terkenal dengan tongkat ketika ditusuk ke bumi dapat mengeluarkan harta benda yang ada di dalamnya.

Selain itu, para tokoh Hadrami juga berperan aktif dalam perang Aceh yang terjadi pada tahun 1873 M.

Di antara tokoh Hadrami yang terlibat adalah Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur atau yang lebih dikenal Habib Abdurrahman Al-Zahir dan Habib Abdurrahman bin Hasan As-seqaf atau yang lebih dikenal Habib Abdurrahman Teupin Wan.

Dua tokoh dari keluarga Ba’alawi tersebut memainkan peranan yang cukup penting dalam perang Aceh, walaupun keduanya memiliki pandangan yang berbeda dalam menyikapi perang tersebut.

Selain keduanya masih banyak keluarga Ba’alawi yang berperan dalam perang Aceh diantaranya Habib Samalanga, Habib Hasan bin Abdul Wahab (Teuku Yit) di Teunom, Habib Sulaiman bin Saleh Al-Aydrus di Peuduk (Trienggadeng) dan lain-lainnya.

Dari fakta-fakta di atas dapat dilihat bahwa antara Hadramaut dan Aceh memiliki hubungan yang erat baik dari sudut intelektual maupun dalam hal menentang keberadaan kolonial penjajah di kerajaan Islam.

Selain mengunjugi Tarim, saya juga berziarah ke beberapa tempat religius lainnya, di antaranya adalah Kota Inat, tempatnya keluarga Bin Syeikh Abu Bakar bin Salim (Datuk moyang dari Habib Umar bin Hafidz), Kota Huraidah yang banyak terdapat keluarga Al-Attas, Kota Seiwun , Kota Huthah, dan lainnya.

Keturunan Al-Attas yang berasal dari Huraidah banyak terdapat di Kota Idi dan seputaran Kabupaten Aceh Timur pada masa prakemerdekaan.

Begitu juga keturunan Al-Habsyi dari Huthah yang juga terdapat di Aceh, di antaranya keturunan Tengku Chik Paloh Pidie atau yang dikenal dengan Habib Ali bin Husein Al-Habsyi.

Kedatangan para tokoh Hadrami ke Aceh merupakan upaya mengikuti jejak para datuknya untuk mensyiarkan Islam dan membangun hubungan silaturahmi dengan masyrakat Aceh.

Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak para peneliti sejarah yang menyakini bahwa proses islamisasi di Nusantara ini tidak terlepas dari pada peranan kaum Hadrami yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved