Salam

Koordinasi Antarlembaga Kunci Pencegahan Corona

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin memberitakan bahwa enam tenaga kerja asing (TKA) asal Cina diketahui masuk ke Aceh

Koordinasi Antarlembaga Kunci Pencegahan Corona
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Tim Dinas Kesehatan Abdya memeriksa suhu tubuh seluruh penumpang pesawat Susi Air yang mendarat di Bandara Kuala Batu, Susoh, Abdya, Senin (3/2/2020). Pesawat membawa tujuh penumpang terbang dari Bandara Kuala Namu, Medan, diperiksa suhu tubuh dengan alat Thermo Scanner merupakan upaya mencegah masuknya virus Corona. 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin memberitakan bahwa enam tenaga kerja asing (TKA) asal Cina diketahui masuk ke Aceh pada 4 Februari 2020 atau sehari sebelum Pemerintah Indonesia menutup sementara penerbangan dari dan ke Cina sejak Rabu, 5 Februari 2020.

TKA asal Cina tersebut merupakan tenaga ahli pemasangan mesin yang didatangkan oleh perusahaan getah damar, PT Jaya Media Internusa di Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus corona terkait dengan masuknya tenaga kerja dari Cina tersebut Dinas Kesehatan Aceh Tengah, Kamis (6/2/2020) melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap terhadap keenam TKA tersebut dan hasilnya diperkirakan akan keluar pada Sabtu hari ini.

Selain melakukan pemeriksaan terhadap keenam warga Cina yang baru masuk itu, Dinkes Aceh Tengah beberapa hari lalu juga telah memeriksa tujuh pekerja asing lainnya yang juga berasal dari Cina. Mereka malah tiba di Aceh lebih awal, yakni pada November 2019 dan hasil pemeriksaannya dinyatakan semuanya negatif corona.

Meskipun tujuh pekerja itu dinyatakan negatif, namun pengawasan tetap dilakukan, mengingat gejala infeksi virus corona baru diketahui setelah 14 hari, di antaranya berupa demam tinggi.

Nah, sejauh ini virus corona telah menyebar di 26 negara. Tercatat, lebih dari 28.000 orang terinfeksi dan 565 orang tewas tersebab virus corona. Di negara-negara jiran Indonesia seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand juga sudah terdeteksi ada warganya yang terinfeksi virus corona. Bahkan satu warga negara Indonesia di Singapura juga dikabarkan terjangkit virus mematikan ini.

Semua fakta ini tentu sangat mencemaskan dan mengharuskan kita sebagai warga Aceh untuk lebih meningkatkan kewaspadaan agar tidak seorang pun penduduk negeri syariat ini yang terjangkit virus corona, baik mereka  ang berada di Aceh maupun orang Aceh yang sedang berada di luar negeri.

Islam mengajarkan pola hidup sehat dan berupaya menghindar dari wabah penyakit adalah wajib. Atas dasar itu sangatlah logis jika kita menaruh  arapan besar kepada instansi atau lembaga yang berwenang mencegah kemungkinan menyebarnya virus corona ke wilayah Aceh.

Untuk itu, pihak imigrasi di seluruh Aceh harus meningkatkan kewaspadaan ketika melayani orang asing yang masuk melalui bandara maupun orang Aceh yang kembali dari luar negeri. Inilah saatnya di mana koordinasi antarlembaga menjadi sangat penting. Pihak imigrasi  ersama dinas kesehatan  arus benar-benar berada di garda terdepan untuk melakukan pencegahan jangkitan virus corona. Yakni, melalui pemeriksaan terhadap orang asing maupun orang Aceh yang kembali ke provinsi ini dari luar negeri.

Jangan ada orang yang masuk Aceh lewat bandara maupun pelabuhan laut yang tidak diperiksa menggunakan thermo scanner. Orang-orang yang saat diperiksa suhu tubuhnya di atas 28 derajat Celcius, maka pantas dicurigai dan harus diperiksa intensif bahkan jika perlu dikarantinauntuk sementara waktu.

Masih dalam konteks koordinasi adalah sangat penting pihak imigrasi bersama Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk melakukan pengawasan yang lebih intensif terhadap orang asing yang bekerja di Aceh, apalagi jika orang asing tersebut merupakan warga negara Cina, tempat awal berjangkitnya virus corona.

Pengawasan terhadap orang asing, baik yang berkunjung untuk tujuan wisata, maupun yang bekerja di Aceh harus benar- benar dilakukan secara serius. Durasi pengawasan dalam bentuk razia berkala terhadap pekerja asing di Aceh harus pula ditambah jadwalnya. Per dua minggu sekali atau paling lambat satu bulan sekali harus dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja-pekerja asing tersebut semata-mata untuk mengantisipasi berjangkitnya virus corona di Aceh yang disebabkan oleh kehadiran orang asing di provinsi ini.

Jadi, koordinasi antarinstansi memang sangat dibutuhkan dalam artian yang implementatif agar Aceh terbebas dari penularan virus corona, sebagaimana dulu Aceh mampu mencegah berjangkitnya penyakit flu burung atau SAR maupun MERS. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved