Breaking News
Selasa, 9 Juni 2026

JURNALISME WARGA

Irjen Pol Drs Rio S Djambak; Dalam Diam, Tegas Menjaga Aceh

ACEH adalah daerah yang cukup lama mengalami konflik bersenjata. Perjanjian Damai (MoU) Helsinki tidak langsung membuat keamanan

Tayang:
Editor: hasyim
For serambinews.com
RHEIZA VAHLEVI MH 

RHEIZA VAHLEVI, M.H., Hakim Mahkamah Agung Republik Indonesia, penugasan di Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

ACEH adalah daerah yang cukup lama mengalami konflik bersenjata. Perjanjian Damai (MoU) Helsinki tidak langsung membuat keamanan di provinsi yang pernah bergolak ini menjadi kondusif. Gangguan keamanan dari kelompok kriminalitas bersenjata (KKB), ancaman terhadap masyarakat pendatang untuk meninggalkan Aceh, masih banyaknya senjata ilegal pascakonflik yang masih disembunyikan dan digunakan untuk melakukan kejahatan, serta pergesekan politik partai lokal, merupakan permasalahan yang masih terus terjadi di wilayah Aceh. Di samping masih terjadinya polemik keabsahan bendera Bulan Bintang, provokasi dari kelompok yang tidak menginginkan Aceh damai, permasalahan hukum, serta gangguan keamanan lainnya.

Berbagai permasalahan tersebut jika tidak ditangani dengan baik dan arif, maka konflik yang pernah terjadi di Aceh bukan hal yang mustahil akan terulang kembali.

Mungkin karena begitu banyaknya permasalahan yang berkaitan dengan gangguan keamanan, sehingga sangatlah tepat Gubernur Aceh pada saat itu, dr Zaini Abdulllah, memberikan rekomendasi kepada Kapolri agar Irjen Rio S Djambak yang saat itu menjabat Wakapolda Aceh untuk meneruskan esfafet kepemimpinan sebagai Kapolda Aceh menggantikan Irjen Husein Hamidi yang memasuki masa purnabakti.

Sejak Polda Aceh dipimpin oleh Irjen Pol Drs Rio S Djambak, masyarakat Aceh menjadi saksi bahwa tidak ada kompromi terhadap siapa pun yang coba mengganggu ketenangan dan kedamaian Aceh, terutama dari para pelaku kejahatan. KKB diselesaikan dengan tindakan tegas dan tuntas oleh Kapolda Aceh dan jajarannya.Tidak berlebihan rasanya jika kami secara pribadi memberikan apresiasi terhadap Jenderal Rio, karena tidak bisa dipungkiri Aceh aman, kondusif, dan tenang selama Jenderal Rio menjabat Kapolda Aceh.

Di antara beberapa peristiwa penting yang terjadi di Aceh yang terekam dalam nota pribadi saya dan telah diselesaikan dengan baik selama Kapolda Aceh dipimpin Irjen Pol Drs Rio S Djambak, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, demonstrasi/unjuk rasa dari berbagai komunitas dengan berbagai macam tuntutan, terutama unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa Aceh yang dalam pelaksanaannya selalu dikawal oleh jajaran Polda Aceh dengan simpatik dan humanis.

Kedua, di saat seluruh mahasiswa Indonesia bergerak dan bertindak anarkis saat berunjuk rasa, tapi di Aceh mahasiswa dan aparat kepolisian terlihat begitu mesra saat mengawal mahasiswa melaksanakan unjuk rasa.

Ketiga, pada Pilkada 2017, Pilpres, dan Pileg 2019 Provinsi Aceh dinyatakan oleh pemerintah pusat merupakan daerah paling rawan ketiga 3 setelah Provinsi DKI Jakarta dan Papua Barat. Jika kita berbicara tentang pemilu di Aceh, selalu tidak pernah lepas dari “intimidasi dan teror“ yang dilakukan oleh kelompok tertentu, akan tetapi kekhawatiran masyarakat atas predikat daerah rawan ketiga di seluruh Indonesia itu dan dugaan akan banyak terjadi intimidasi serta teror saat pemilhan umum  nyaris nihil terjadi berkat kepiawaian Kapolda Aceh bersama seluruh stakeholders  yang ada di Aceh, sehingga baik Pilkada Aceh tahun 2017, Pilpres dan Pileg 2019 di Aceh dapat berjalan dengan aman dan lancar tanpa ada satu pun gangguan keamanan yang menonjol dan berarti.

Keempat, kalender tahunan Milad GAM 4 Desember merupakan momen  rawan yang selalu menjadi perhatian pemerintah pusat, maupun aparat keamanan yang bertugas di Aceh. Tapi, pada milad GAM tahun 2019 melalui pendekatan dan komunikasi yang intens dengan tokoh Komite Peralihan Aceh (KPA) mulai tingkat provinsi hingga kecamatan para tokoh mengimbau agar pelaksanaan milad GAM tahun 2019 tidak lagi mengibarkan bendera Bulan Bintang, kecuali hanya melaksanakan syukuran dan membaca doa untuk para syuhada sehingga pada peringatan Milad GAM 2019 hampir di seluruh wilayah Aceh bendera Bulan Bintang tidak dikibarkan, Keuntungannya apa? Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Ini tentunya menjadi sebuah torehan prestasi yang pantas dikenang dan diapresiasikan dari Jenderal Rio bersama jajarannya.

Kelima, telisik ke dalam, penegakan hukum terhadap internal petugas kepolisian juga dilakukan. Buktinya, puluhan polisi nakal telah ditindak. Ini jelas bahwa sang Jenderal punya komitmen yang tinggi terhadap pemberantasan narkoba dan kejahatan lainnya yang dilakukan oknum polisi di Aceh.

Keenam, pada medio September tahun 2019, publik Aceh tersentak dengan munculnya video Abu Bakar Rusdi (Yahdi) yang mengancam orang luar Aceh untuk meninggalkan Aceh. Puluhan Whatapps (WA) masuk ke handphone saya mempertanyakan keamanan Aceh. Tpi hanya butuh waktu 50 hari bagi Irjen Rio dan jajarannya untuk menangkap Yahdi hidup-hidup dan kini sang pengancam pun masuk proses persidangan di pengadilan. Jujur, saya angkat topi tanda tabik dan salut kepada sang Jenderal.

Beberapa hari yang lalu saya dikejutkan oleh sebuah kabar di media yg memberitakan bahwa Jenderal Rio akan segera mengakhiri tugasnya sebagai Kapolda Aceh dan posisinya akan digantikan oleh Brigadir Jenderal Pol Drs Wahyu Widada. Ibarat musim yang silih berganti, ada yang datang dan tentu pula ada yang pergi.

Untuk itu, tidaklah berlebihan dengan apa yg telah Irjen Rio S Djambak lakukan dalam menjaga keamanan dan ketenangan masyarakat dalam beraktivitas di Aceh. Untuk semua itu kami menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kepastian penegakan hukum, kondusivitas keamanan, pemberatasan narkoba, dan pengungkapan kasus-kasus korupsi, kasus pembunuhan, dan ketenangan atmosfer aparat hukum dalam menjalankan supremasi hukum, serta kebersamaan dengan seluruh komponen masyarakat yang telah dilakukan oleh Irjen Pol Rio S Djambak selama memimpin kepolisian di Aceh. Sekaligus kami ucapkan selamat datang dan selamat bertugas kepada Brigjen Pol Drs Wahyu Widada di Provinsi Aceh.

Jendral Rio bukan hanya mampu menjadi Kapolda Aceh, tapi juga terbukti menjadi orang Aceh, karena sebagaimana kita ketahui bahwa Aceh adalah provinsi yang pernah berkecamuk konflik bersenjata. Tentu penanganannya perlu perhatian khusus dan ekstrahat-hati dan sudah pasti tidaklah sama penanganannya dengan provinsi lain di Indonesia.

Negara butuh jenderal untuk menjaga kondusivitas keamanan di Aceh, tapi tidak semua jenderal yang dipunyai negara ini bisa dan piawai menangani Aceh. Namun beruntung, negara pernah memberi amanah pada Irjen Rio S Djambak dan memang telah terbukti piawai, apik, dan mampu dalam menjaga provinsi yang melaksanakan syariat Islam secara kafah ini.

Jenderal Rio telah membangun fondasi itu, hendaknya Jenderal Wahyu, sang penggantinya, kita berharap lebih baik lagi kiprah dan prestasinya, minimal sama dengan apa yang telah diukir oleh Irjen Rio yang dalam diam bekerja, tapi tegas menjaga Aceh.

Selamat jalan Jenderal, semoga Mabes Polri mengapresiasi kinerja luar biasa dengan tempat tugas dan posisi lebih tinggi dari yang pernah jenderal jabat di Aceh. Rakyat Aceh akan selalu merindukan dan pasti akan mendoakan yang terbaik untuk Jenderal.

Secara pribadi saya tidak mengenal Jenderal dan tidak pernah sekalipun bertemu dan berkomunikasi dengan Jenderal. Tapi saya salut dan bangga melihat sosok Jenderal yang memiliki prinsip, tidak banyak bicara, tegas, namun tetap memiliki rasa humor yang tinggi. Ya, demikianlah adanya. Salam hormat dan tabik, Jenderal.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved