Keluarga Harapkan Pembebasan Nelayan di Thailand  

Para keluarga nelayan yang masih ditahan meminta para nelayan yang ditahan di Thailand agar segera dibebaskan atau dipulang

Keluarga Harapkan Pembebasan Nelayan di Thailand   
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Anggota DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky, yang juga Sekretaris Komisi V DPRA bertemu dengan keluarga nelayan Aceh Timur yang ditahan di Thailand di Aula UPTD PPN Idi, Kamis (13/2/2020) 

IDI - Para keluarga nelayan yang masih ditahan meminta para nelayan yang ditahan di Thailand agar segera dibebaskan atau dipulang. Hal itu disampaikan kepada anggota DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky agar agar suami dan keluarga mereka segera dipulangkan dalam pertemuan di aula UPTD PPN Idi, Kamis (13/2).

Pertemuan itu juga dihadiri Kepala UPTD PPN Idi, Hermansyah, Kasatpol Air, Iptu Pidinal Limbong, Panglima Laot Lhok Idi, dan para keluarga nelayan yang didominasi kaum ibu yang membawa serta anak-anaknya. Para keluarga ini sangat bersedih, karena, sejak suami dan keuarga mereka ditahan di Thailand, sudah sebulan tidak pernah berkomunikasi, maupun mendapatkan kabar.

Bahkan, mereka mulai kesulitan biaya sehari-hari, bahkan anak sakit, karena rindu kepada ayahnya, bahkan tidak jajan di sekolah. Seperti diketahui, ke-33 nelayan dari KM Perkasa Mahera, dan KM Voltus itu, ditangkap di perbatasan laut tiga negara yaitu Indonesia dengan India, dan Thailand, diduga digerus ombak, sehingga masuk perairan Phuket Thailand, pada 21 Januari 2020

“Harapan kami, suami kami cepat dipulangkan, anak-anak kami masih kecil, tidak ada yang memberi nafkah,” ungkap Nur Hafni, sambil menangis. Bahkan, anak bungsunya Azkia (7 bulan) demam karena rindu kepada ayahnya. Begitu juga anaknya yang lain tak ada jajan saat sekolah. Harapan dan kesedihan serupa juga disampaikan Nurul Rahmi, dan sejumlah keluarga lainnya, khususnya kesulitan biaya sehari-hari, dan mengharapkan bantuan dari pemerintah.

Meski sudah melihat kondisi suami mereka dalam keadaan sehat melalui foto yang diperlihatkan Iskandar Al-Farlaky, berdasarkan foto yang dikirim dari KBRI, namun pihak keluarga tetap ingin berkomunikasi, karena sudah sebulan tidak berkomunikasi. “Kami sangat ingin berkomunikasi dengan suami kami, untuk mengetahui keadaannya, karena sudah sebulan tidak ada kabar,” jelas Nur Hafni, istri dari Asrizal.

Sedangkan Iskandar Al-Farlaky, mengaku sangat sedih mendengar aspirasi dari para keluarga. Bahkan, ia juga turut menangis mendengar curhatan keluarga yang kesulitan biaya kebutuhan sehari-hari, dan bahkan ada yang sakit karena rindu kepada ayahnya. “Seperti cerita sedih Hafiz, adiknya Azkia (7 bulan) sakit demam karena rindu ayahnya. Ibunya juga kesulitan biaya sehari-hari, bahkan Hafiz juga tidak ada jajan untuk sekolah. Semoga ini menjadi perhatian pemerintah,” harap Iskandar.

Iskandar mengharapkan semua stake holders untuk terus melakukan upaya pemulangan para nelayan Aceh Timur dari Thailand.  Sejauh ini, katanya belum didapatkan kronologis kesalahan nelayan ini, sengaja mencari ikan di Thailand, atau karena kerusakan navigasi. Sejauh ini juga, jelas Iskandar, pihaknya belum mendapatkan perkembangan terkini terkait upaya mediasi yang dilakukan Kemenlu dengan Pemerintah Thailand.

Namun demikian, dia juga terus berkoordinasi dengan anggota Parlemen Thailand untuk mencari solusi terbaik penanganan para nelayan Aceh ini. Melalui pertemuan itu, Iskandar juga mendata nama dan alamat para nelayan, sehingga memudahkan para pihak melakukan advokasi, dan komunikasi dengan berbagai pihak dalam rangka pembebasan nelayan tersebut.(c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved