Salam

"Melindungi Rakyat Lebih Penting"  

Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) akan menolak sementara kunjungan kapal pesiar MS Artania

SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Kapal Pesiar Artania Cruise berlabuh di Teluk Sabang. 

Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) akan menolak sementara kunjungan kapal pesiar MS Artania ke Sabang, yang dijadwalkan pada 16 Februari 2020. Penolakan itu menyahuti permintaan Wali Kota Sabang, Nazaruddin SIKom, sebagai bentuk antisipasi penyebaran virus corona ke wilayah Pulau Weh.

"Intinya kita tetap patuhi arahan Pak Wali. Di sisi lain, kita juga harus menjaga hubungan dengan operator-operator kapal. Sebab, jadwal keberangkatan mereka sudah dua tahun lalu dikirim ke kita," jelas Pelaksana tugas (Plt) Wakil Kepala BPKS, Islamuddin.

Kapal MS Artania yang berlayar dari Colombo (Srilangka) dijadwalkan transit di Sabang pada 16 Februari 2020, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Langkawi (Malaysia). Bagi kapal MS Artania, Sabang sudah lama menjadi lokasi transit beberapa jam untuk refresing bagi para penumpangnya. 

Bagi BPKS dan Pemko Sabang, penolakan ini tentu ibarat buah simalakama. Di satu sisi ini memperbanyak kunjungan wisatawan, tapi di sisi yang lain saat ini banyak negara sedang memagari diri dari virus corona. Menurut Islamuddin, hingga akhir tahun nanti sudah terjadwal tujuh kapal pesiar lain yang akan singgah di Sabang. Kedatangan kapal itu mulai Maret hingga Desember nanti dengan waktu yang berbeda-beda. Ketujuh kapal tersebut adalah MS Norwegian Jade yang direncanakan singgah ke Sabang pada 3 Maret 2020, MS Seabourn Soujourn (16 Maret 2020), MS Seven Seas Voyager (3 April 2020), MS Seabourn Encore (21 November 2020), Costa Ship (4 Desember 2020), MS Seabourn Ovation (5 Desember 2020), dan MS Marella Discovery 2 pada 7 Desember 2020. Kapal-kapal pesiar itu dalam beberapa tahun terakhir sudah menjadikan Sabang sebagai lokasi singgahannya.

Karena itu, jika kemudian harus menolak kedatangan kapal pesiar MS Artania, itu adalah keputusan sulit yang bisa membuat manajemen kapal-kapal pesiar itu Amemboikot@ Sabang di masa mendatang. Makanya, penolakan harus dilakukan secara hati-hati sebelum mereka menuju Sabang. 

Sebaliknya, kita juga tak perlu terlalu khawatir atas kebijakan tersebut. Toh, kebijakan penolakan kunjungan kapal pesiar, sebelumnya sudah dilakukan beberapa negara karena khawatir tersebarnya virus corona dari penumpang kapal. Seperti yang dialami kapal pesiar Holland America MS Westerdam yang ditolak lima negara yaitu Thailand, Jepang, Taiwan, Guam, dan Filipina.

Jepang menolak MS Westerdam dengan mengumumkan akan menggunakan hukum imigrasi untuk memblokir masuknya penumpang asing dari kapal. Pemerintah Jepang memberitahu Holland America Line sebagai operator MS Westerdam bahwa Pemerintah Negeri Sakura tidak akan mengizinkan MS Westerdam untuk berhubungan dengan pelabuhan‑pelabuhan di wilayah negara Jepang.

Yang paling keras menolak kedatangan MS Westerdam adalah Pemerintah Guam. Gubernur Guam willayah AS, Leon Guerrero, yang  menolak MS Westerdam mengatakan, "Kewajiban kami adalah melindungi rakyat Guam (dari jangkitan virus corona)."

Pemerintah Thailand lebih bijak dalam menolak kapal pesiar itu. AKapal tidak akan diizinkan untuk berlabuh di Thailand, tapi dengan senang hati kami akan membantu menyediakan bahan bakar, obat‑obatan, dan makanan untuk kapal,@ kata Wakil Menteri Transportasi Thailand, Atirat Ratanasate.

Setelah ditolak pemerintah lima negara, akhirnya Pemerintah Kamboja memberikan persetujuan untuk kapal pesiar MS Westerdam berlabuh di wilayah negera itu. Kebaikan hati pemerintah Kamboja ini membuat 1.455 penumpang dan 802 kru kapal pesiar MS Westerdam bersuka cita. Perjalanan panjang mereka di lautan lepas bisa berakhir.

Sebelumnya, Wali Kota Sabang, Nazaruddin SIKom meminta BPKS menunda sementara kedatangan kapal pesiar ke Sabang. Dalam surat bernomor: 556/0933, Nazaruddin mengatakan penundaan itu sebagai bentuk antisipasi penyebaran virus corona yang kini sedang marak dan sudah menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia. "Ini demi menjaga Sabang sebagai kota wisata aman dari virus corona yang kini sedang mewabah di berbagai negara," kata Wali Kota.

Ya, kita setuju untuk sementara Sabang dana Indonesia pada umumnya untuk sementara menolak singgahan kapal pesiar. Apalagi berpotensi membawa virus menakutkan itu. Bagi pemerintah, seperti dikatakan Gubernur Guam, AMelindungi rakyat (dari serangan virus corona) lebih penting.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved