BBPOM Masih Temukan Mi Berformalin

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh, Jumat (14/2) kemarin, kembali melakukan pemeriksaan terhadap

BBPOM Masih Temukan Mi Berformalin
SERAMBINEWS.COM/MAWADDATUL HUSNA
Kepala BBPOM Banda Aceh, Zulkifli menyampaikan konferensi pers terkait temuan mi mengandung formalin dan boraks di kawasan Cadek, Kajhu, Aceh Besar, yang berlangsung di Aula BBPOM setempat, Jumat (14/2/2020). 

BANDA ACEH - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh, Jumat (14/2) kemarin, kembali melakukan pemeriksaan terhadap para produsen mi kuning (mi aceh) di Banda Aceh dan Aceh Besar. Hasilnya, dari 32 sampel yang diuji, ditemukan satu sampel yang mengandung formalin dan boraks. Sementara 31 sampel lainnya dinyatakan memenuhi syarat alias bebas formalin dan boraks.

Kepala BBPOM Banda Aceh, Drs Zulkifli Apt dalam konferensi pers di Aula BBPOM, kemarin, mengatakan, sampel mi yang mengandung campuran formalin dan boraks ditemukan pada usaha rumahan di wilayah Cadek, Kajhu, Aceh Besar.

Dari lokasi itu, pihak BBPOM mengamankan sebanyak 28 kilogram mi kuning, 15 kilogram adonan mi, satu jerigen atau lima liter cairan putih yang diduga formalin, dan 5 kilogram serbuk putih diduga boraks.

Zulkifli mengatakan, kemarin pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap 18 produsen mi kuning yang tersebar pada 10 pasar di Banda Aceh dan Aceh Besar. Kesepuluh pasar itu adalah Peunayong, Kampung Baru, Peuniti, Seutui, Keutapang, Lambaro, Ulee Kareng, Rukoh, Tungkop, Cadek, dan Kajhu.

Ada 32 sampel yang diuji. Hasilnya, sebanyak 31 sampel memenuhi syarat alias tidak mengandung formalin dan borak. Sementara satu sampel mi yang diambil pada usaha rumahan di wilayah Cadek, Kajhu, Aceh Besar, mengandung campuran formalin dan boraks.

"Sampel yang tidak memenuhi syarat ini telah dilakukan uji konfirmasi di laboratorium pengujian BBPOM Banda Aceh. Sarana yang tidak memenuhi ketentuan tersebut adalah produsen mi kuning di wilayah Cadek, Aceh Besar," kata Zulkifli.

Ia menjelaskan mi yang mengandung bahan berbahaya itu dapat tahan selama tiga hari dengan suhu kamar, serta mengeluarkan bau yang menyengat. "Ciri yang paling mudah diketahui adalah, mi tersebut tidak basi selama tiga hari, lebih mengkilat, dan ada bau-bau formalinnya. Pada mi yang kita amankan ini campurannya tidak hanya formalin saja, tapi juga boraks," ungkap Zulkifli.

Dikatakan, formalin merupakan salah satu bahan kimia yang akan berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang, seperti mengakibatkan kanker ginjal hingga ke hati. Dampak yang dihasilkan tidak langsung seketika, namun apabila dikonsumsi secara terus menerus maka akan memberikan dampak yang tidak baik bagi kesehatan.

"Menurut penuturan pembuat mi yang kita amankan ini, dalam satu hari ia membuat sebanyak 100 kilogram mi. Kita juga akan mendalami dipasarkan kemana saja mi yang diproduksinya tersebut," tambahnya.

Sementara terhadap pembuat mi itu, pihaknya akan meminta keterangan lebih lanjut dan dilakukan pembinaan dalam berdagang jangan hanya mencari untung saja, tapi perhatikan juga kesehatan konsumen yang mengonsumsi mi tersebut.

Kegiatan yang dilakukan ini, kata Zulkifli, merupakan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan sebelumnya yang dilakukan pada 2019 terhadap 10 pasar di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pada 2019 terdapat empat produsen yang berdasarkan hasil pengujian masih menggunakan bahan berbahaya di dua pasar yaitu Ulee Kareng dan Peunayong. Namun pada 2020, semua pasar tidak terindikasi lagi tapi pihaknya menemukan mi mengandung formalin dan boraks pada usaha rumahan.

"Kami Balai Besar POM di Banda Aceh akan terus melakukan pengawasan terhadap produksi mi di wilayah Aceh, karena mi merupakan ikon kebanggaan masyarakat Aeh. Kami juga mengimbau kepada pelaku usaha untuk terus menaati peraturan yang berlaku dan tidak menambahkan bahan berbahaya ke dalam produk pangan," demikian Zulkifli.(una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved