Opini

Memahami Data Kemiskinan

Pada Rabu (15/1/2020) Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis angka kemiskinan September 2019 sebanyak 15,01 persen

Memahami Data Kemiskinan
IST
Hendri Achmad Hudori, S.ST, M.Si, PNS Badan Pusat Statistik Aceh

Sementara itu, rata-rata penurunan kemiskinan nasional juga hanya sebesar 0,53 persen per tahun. Artinya penurunan kemiskinan di Aceh jauh lebih efektif dibandingkan dengan daerah lain secara umum di Indonesia.

Tantangan ke depan bagi Pemerintah Aceh yaitu terus-menerus berupaya menurunkan angka kemiskinan dengan program-program yang lebih efektif. Melihat capaian penurunan kemiskinan yang sangat besar selama ini, bukan hal yang mustahil Aceh tidak akan lagi menjadi daerah termiskin di Sumatera dalam beberapa tahun ke depan karena Aceh memiliki modal dana Otonomi Khusus (Otsus) yang tidak dimiliki daerah lain pada umumnya.

Makro dan mikro

Di kalangan masyarakat, aparat pemerintahan, bahkan akademisi seringkali terjadi kekeliruan dalam memahami data kemiskinan sehingga salah dalam membuat kesimpulan. Contohnya pernyataan seorang aparat pemerintah di media online yang mengaku heran dengan penurunan angka kemiskinan September 2019 karena hanya berkurang 0,31 persen dari Maret 2019. Padahal menurutnya berdasarkan data Program Keluarga Harapan Keluarga miskin berkurang 20-30 persen.

Kekeliruan ini perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahan informasi. Perlu diketahui bahwa angka kemiskinan itu dihitung dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), sementara data penerima PKH berasal dari hasil Pendataan Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT). Data Susenas dan PBDT tidak bisa dibandingkan secara langsung untuk mengukur kemiskinan karena akan menimbulkan kerancuan. Data Susenas mengukur kemiskinan secara makro, sementara data PBDT merupakan data kemiskinan mikro.

Data kemiskinan makro dan mikro memiliki perbedaan dalam hal metodologi, sumber data, tujuan, dan kegunaannya. Data kemiskinan secara makro menggunakan metode kebutuhan dasar yang didasarkan pada garis kemiskinan. Sumber datanya berasal dari Susenas, bertujuan mengetahui jumlah dan persentase penduduk miskin di suatu daerah. Data tersebut berguna untuk perencanaan dan evaluasi program kemiskinan, tetapi tidak dapat menunjukan siapa dan dimana alamat penduduk miskin tersebut.

Sementara itu data kemiskinan mikro menggunakan metode pendekatan kualitatif yaitu melalui Proxy Mean Test (PMT) yang didasarkan pada ciri-ciri orang miskin. Data tersebut dikumpulkan melalui pendataan Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) pada 2015 yang selanjutnya diserahkan BPS kepada Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Setelah itu tim dari TNP2K yang akhirnya menentukan siapa yang berhak mendapatkan bantuan kemiskinan atau perlindungan sosial. Data kemiskinan mikro bertujuan memperoleh keterangan rumah tangga miskin menurut nama dan alamat yang berguna untuk penyaluran program PKH, beras miskin (Raskin), beras sejahtera (Rastra), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), bantuan siswa miskin (BSM), dan lain-lain.

Data kemiskinan mikro PBDT seperti penerima PKH tidak bisa digunakan menghitung persentase penduduk miskin, data tersebut hanya digunakan untuk penyaluran bantuan. Sementara data kemiskinan makro tidak dapat digunakan untuk penyaluran bantuan, tetapi hanya digunakan menghitung jumlah atau persentase saja.

Contoh kekeliruan lainnya yaitu pernyataan salah satu akademisi Aceh di media online bahwa error survei BPS sebanyak 20 persen terkait Basis Data Terpadu (BDT) di Bener Meriah dan Pidie Jaya, sehingga harus mendapatkan perhatian khusus. Menurutnya, angka kemiskinan bisa lebih kecil dari 15,01 persen seperti yang telah dirilis BPS jika dilakukan konfirmasi ulang.

Pernyataan tersebut juga menunjukan kurangnya pemahaman terhadap data kemiskinan makro dan mikro BPS seperti kasus di atas sebelumnya, karena membandingkan data Susenas dengan data PBDT dalam mengukur kemiskinan. Survei yang diduga error adalah Susenas, sementara sumber data yang dimaksud yaitu data PBDT sehingga menjadi rancu.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved