OPINI

Reformasi Keteladanan

DALAM beberapa ta­hun terakhir, dunia pendidikan kita se­ring diributkan oleh deka­densi moral remaja, terutama peserta didik

Reformasi Keteladanan
IST
Syamsul Bahri, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti di LSAMA Aceh

SYAMSUL BAHRI, MA

Guru MAN 2 Banda Aceh, Sekretaris MGMP Banda Aceh

DALAM beberapa ta­hun terakhir, dunia pendidikan kita se­ring diributkan oleh deka­densi moral remaja, terutama peserta didik. Ada berbagai tanggapan muncul seperti “anak-anak sekarang tidak sopan lagi”, “siswa sekarang kurang bermoral”, “akhlak anak sekarang sudah run­tuh”, “untuk apa kurikulum bagus tapi anak-anak tidak berakhlak,” dan lain seba­gainya. Kemerosotan moral tidak hanya dialami oleh re­maja yang berasal dari se­kolah, melainkan juga dari madrasah, bahkan pesantren atau dayah.

Namun apakah baru seka­rang ini dekandensi moral re­maja? Ataukah persoalan ini sudah sangat lama, namun kurang kita perhatikan?

Anggapan bahwa anak-anak sekarang telah menga­lami kemerosotan moral yang lebih parah ketimbang masa lalu, tidak selamanya tepat.

Mungkin bisa kita tanya­kan pada guru-guru kita, ba­gaimana mereka menangani muridnya era 80-an. Ada mu­rid yang tidak senang seko­lah, dia asal-asalan sekolah. Bahkan tidak menghiraukan apakah dia lulus atau tidak. Beberapa kali dipanggil oleh kepala sekolah, namun tetap tidak berubah perilakunya.

Era murid 80-an, sebagai­mana saya tanyakan pada guru-guru “senior” mengata­kan bahwa siswa masa lalu lebih “batat” dari siswa hari ini. Masa lalu sering tawuran, membuli guru, bahkan ada perkelahian-perkelahian yang berujung pada penghilang­an nyawa. Memang tidak ada data empirik-tertulis terkait kemerosotan moral era terse­but.

Era 90-an, siswa juga mengalami dekandensi mo­ral yang tidak kalah parah­nya. Mulai dari pacaran di sekolah, hisap ganja, mabok tuak, bolos, hingga tawuran. Lantas, apakah benar anak-anak sekarang lebih bandel? Jawabannya tidak benar.

Frekuensi bandel atau ti­dak bandel siswa hanyalah pada akses pemberitaan yang kita terima. Saat ini berbagai peristiwa dengan mudah­nya kita baca karena dapat diakses dengan cepat via in­ternet. Sehingga satu kasus kekerasan bisa disaksikan oleh banyak orang, dan bisa dibicarakan selama berbu­lan-bulan.

Di berbagai tempat, perso­alan kebobrokan moral rema­ja memang menjadi perhatian serius banyak stakeholders. Hal ini memang penting, ka­rena dengan membicarakan­nya maka akan muncul lang­kah penyelesaiannya.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved