Jurnalisme Warga

Malam Pertama yang Menyenangkan

Beberapa hari lalu saya mengunjungi mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan di beberapa kampung

Malam Pertama yang Menyenangkan
IST
ZULKIFLI, M.Kom, Akademisi Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen

OLEH ZULKIFLI, M.Kom, Akademisi Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen

Beberapa hari lalu saya mengunjungi mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan di beberapa kampung dalam Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Sebagai Koordinator Kecamatan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM, saya kunjungi dan memonitor aktivitas mereka, termasuk mendengarkan berbagai kisah suka dan duka selama mereka berada di lapangan.

Banyak cerita yang mereka utarakan. Saya sempat merekam pembicaraan mereka, termasuk mahasiswa asal Jepang yang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa kuliah di Umuslim. Mereka berbaur dengan mahasiswa lainnya, ikut program KKM di Bener Meriah.

Seperti diketahui Universitas Almuslim tahun ini selain melaksanakan KKM di Bener Meriah, juga mengirimkan mahasiswanya melakukan PPL-KKM di Thailand Selatan. Di sana mereka melakukan pengabdian di sekolah dan pesantren boarding school  selama 3-4 bulan.

Bersamaan waktunya,  tahun ini Umuslim juga mengirimkan mahasiswanya ikut program pertukaran pelajar ke Nagoya Gakuin Univerisity (NGU) Jepang. Mereka kuliah di “Negeri Matahari Terbit” itu selama setahun. Program ini merupakan implementasi MoU antara Umuslim dan NGU Jepang. Sudah berjalan empat angkatan.

Saya sempat bertanya kepada peserta KKM dari beberapa kampung di Bener Meriah tentang perasaan dan kondisi mereka saat pertama ditempatkan di lokasi KKM. Menurut mereka, awalnya sempat muncul perasaan susah, takut, dan galau membayangkan kondisi lokasi penempatan. Terbayang hutan belukar, jurang yang curam, cuaca dingin, dan lokasi penginapan rumah di tengah perkebunan. Pendeknya, suasana yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Apalagi memang banyak di antara peserta KKM yang belum pernah ke “Negeri Atas Awan” itu.

Faktanya, seusai acara penyerahan di kantor bupati, mahasiswa langsung dibawa ke kantor camat untuk kemudian diserahkan kepada reje (kepala desa) lokasi pengabdian. Nah, di kantor camat mereka sudah ditunggu oleh reje masing-masing. Pak Camat yang begitu bersahabat memperkenalkan satu per satu reje dan topografi serta potensi kampung secara umum.

Topografi wilayah Kecamatan Bukit yang menjadi lokasi pengabdian mahasiswa KKM Umuslim tahun ini tidak masuk dalam kategori wilayah terpencil. Sebagian desanya berada di pusat perkotaan dan perkantoran. Cuma, wilayahnya berbukit dan dikelilingi hutan, perkebunan kopi, sayur-sayuran, dan dekat pula dengan lokasi beberapa objek wisata.

Karena banyak di antara peserta KKM yang belum pernah ke Bener Meriah, sehingga lokasi ini  menjadi topik diskusi di antara mereka sebelum tiba di Bener Meriah. Perasaan galau dan dag-dig-dug berdetak begitu kencang, seirama embusan angin gunung pada sore itu.

Dalam bayangan pikiran mereka, wilayah lokasi KKM dikelinggi hutan belantara, jalan mendaki yang curam, berbukit penuh jurang, dan wilayahnya sepi senyap. Itulah yang merasuki pikiran mereka. Tapi di lapangan, begitu satu per satu reje memperkenalkan diri, mereka jabat tangan reje, sambil menatap mata sang reje dalam-dalam, lalu reje membalas dengan senyuman lembut, pelan-pelan detak jantung mahasiswa dan kegalauan itu pun menurun tensinya. Para reje ternyata menyambut peserta KKM ibarat menyambut anaknya yang baru pulang merantau.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved