Luar Negeri

Presiden Iran Hassan Rouhani Sebut Donald Trump Tidak Berani Perang, Takut Kalah Pilpres Amerika

Presiden Rouhani mengatakannya pada Minggu (16/02/2020) bahwa kebijakan tekanan tinggi yang ditujukan pada isolasi negara Iran telah gagal.

Presiden Iran Hassan Rouhani Sebut Donald Trump Tidak Berani Perang, Takut Kalah Pilpres Amerika
AFP /IRANIAN PRESIDENCY/HO/NICHOLAS KAMM
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden Iran Hassan Rouhani 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Presiden Iran, Hassan Rouhani mengungkapkan adanya tekanan tinggi dari kampanye Pilpres AS 2020 membuat Presiden Donald Trump enggan perang dengan mereka.

Presiden Rouhani mengatakannya pada Minggu (16/02/2020) bahwa kebijakan tekanan tinggi yang ditujukan pada isolasi negara Iran telah gagal.

Dia mengklaim bahwa Presiden Trump tidak mau berperang dengan Iran karena takut akan mempengaruhi pemilihannya di Pilpres AS, November mendatang.

Dilansir dari Fox News, Rouhani mengatakan bahwa rezimnya tidak akan bernegosiasi dengan administrasi Trump jika AS mengembalikan kesepakatan nuklir Iran.

Negosiasi tersebut berada pada saat pemerintahan Obama dan, dan berakibat pada sanksi yang menjatuhkan dan membuat kelumpuhan ekonomi.

Pekan lalu, delapan senator dari Partai Republik beriringan dengan Partai Demokrat mendukung pengesahan pengetatan kemampuan Trump untuk melancarkan misi perang dengan iran, dalam upaya langka bipartisan.

Pembuat Undang-Undang AS merefleksikan adanya kemungkinan tegangan yang tinggi antara Iran dan AS dan mampu menimbulkan perang.

Kronologi Kontak Senjata KKB Papua dan TNI di Intan Jaya, Warga Sipil Tertembak, Anggota KKB Tewas

Pengantin Wanita Menjerit Usai Habiskan Malam Pertama, Pria Tidur Dengannya Ternyata Bukan Suaminya

Presiden Rouhani mengatakan, "Saya pikir orang Amerika tidak ingin berperang sejak mereka tahu hal itu sangat berbahaya bagi mereka jika melakukannya."

Negosiasi, menurut Rouhani akan bisa dilakukan jika pihak AS membatalkan sanksi kerusakan ekonomi dan mengembalikan komitmen yang telah dibuat pada Rencana Komprehensif Gabungan yang telah dilakukan Presiden AS sebelumnya, Obama.

Hal ini dikarenakan Trump kerap menolak kesepakatan tersebut.

Halaman
12
Editor: faisal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved