Jurnalisme Warga

Gayo, Laboratorium Kopi Dunia

TATKALA mendengar kopi arabika, apa yang terbersit di benak Anda? Saya yakin, seketika refleks alam pikiran kita langsung diantarkan ke Dataran

Gayo, Laboratorium Kopi Dunia
IST
HUSAINI, S.P., M.Si., penikmat kopi arabika Gayo, Peneliti di BPTP Aceh, dan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian (IKASEP) Unsyiah, melaporkan dari Pondok Baru, Bener Meriah

OLEH HUSAINI, S.P., M.Si., penikmat kopi arabika Gayo, Peneliti di BPTP Aceh, dan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian (IKASEP) Unsyiah, melaporkan dari Pondok Baru, Bener Meriah

TATKALA mendengar kopi arabika, apa yang terbersit di benak Anda? Saya yakin, seketika refleks alam pikiran kita langsung diantarkan ke Dataran Tinggi Gayo (Gayo Highland), di mana komoditas kopi tumbuh subur bak “surga” bagi petani di sana.

Kopi arabika menjadi primadona bagi masyarakat dataran tinggi tersebut dan sangat bergengsi. Pasalnya, kopi arabika kini juga sudah diakui dunia dengan diterimanya sertifikat Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Gayo pada tanggal 27 Mei 2010.

Di Dataran Tinggi Gayo, kopi merupakan komoditas andalan dalam menunjang perekonomian warga. Kita tahu, di Indonesia jenis kopi yang dibudidayakan petani bukan saja arabika, tetapi juga ada robusta dan liberika. Namun, dewasa ini yang santer dibicarakan adalah kopi arabika. Kenapa, karena menurut data riset, mengonsumsi kopi arabika tidak berpengaruh terhadap lambung, apalagi jika dinikmati tanpa gula. Memang kopi arabika memiliki keasaman yang seimbang, tidak pahit, dan aromanya sangat khas.

Kopi arabika memiliki syarat tumbuh tertentu, terutama dari sisi geografis. Komoditas unggulan Provinsi Aceh itu akan tumbuh baik pada ketinggian rata-rata 700-1.700 mdpl dengan suhu 16-20 °C. Oleh karenanya, kopi tersebut tidak semua wilayah memilikinya. Di Indonesia, selain Dataran Tinggi Gayo (Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues) juga ada di beberapa daerah lain seperti Toraja, Sulawesi Selatan, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kintamani, Bali, dan Tenggamus di Lampung.

Sebagian orang mungkin hanya kenal beberapa varietas kopi arabika Gayo. Gayo 1 dan Gayo 2 misalnya yang umum ditanam oleh petani di sana di samping juga ada varietas Ateng Super dan P-88 yang tak kalah hebat. Ternyata hasil kunjungan kami ke Bener Meriah dalam rangka tugas negara mendapati bahwa ada banyak varietas kopi arabika lainnya di dataran tinggi itu. 

Kami mengitari kebun percobaan kopi arabika ditemani kepala kebun percontohan (KP), Ir Khalid dan beberapa staf  kebun. Kepada kami diperkenalkan berbagai varietas kopi, mulai dari proses pembibitan hingga panen. Selain itu, juga diajarkan bagaimana teknis pengolahan kopi sampai menjadi bubuk kopi siap seduh. KP Gayo sendiri merupakan unit pelaksana teknis di bawah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian  (BPTP) Aceh. 

Kebun Percobaan Kopi Gayo sebelumnya merupakan pusat penelitian kopi peninggalan Belanda yang telah dibangun sejak 1978-1986 melalui proyek IDAP, yaitu kerja sama Pemerintah Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda. Pascaproyek IDAP, pada tahun 1986 kegiatan ini dilanjutkan oleh proyek  PPW-LTA-77.

Di samping kegiatan pengolahan kopi, proyek ini juga membentuk unit penyuluhan dan unit agronomi yang mengemban misi sosial dalam pengembangan kopi rakyat di Aceh Tengah. Pada 20 Januari 1987 pabrik prosessing kopi memisahkan diri dari proyek PPW-LTA-77 dengan nama PD Genap Mupakat yang masih eksis hingga kini.

Pada tahun 1987 unit agronomi dan penyuluhan berubah nama menjadi Agro Research yang bertugas melakukan penelitian dan pengambangan kopi arabika di Aceh Tengah. Lalu, Agro Research berubah nama lagi menjadi Balai Penelitian Kopi (BPK) Gayo yang diresmikan oleh Menteri Muda Pertanian, Prof  Dr Syarifudin Baharsyah, tanggal 3 Maret 1992.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved