Breaking News

Dari Direct Flight Hingga Ekspor Material Bangunan

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyebutkan, satu dari tiga hasil pertemuan yang sudah disepakati dan terjadwal adalah pertemuan kedua

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Dari Direct Flight Hingga Ekspor Material Bangunan
FOTO ISMAIL RASYID
Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, berbincang dengan Letnan Gubernur Andaman & Nicobar Island, Admiral Devendra Kumar Joshi (dua dari kiri) dan kalangan dunia usaha KepulauanAndaman di Port Blair, Andaman, India, Rabu (19/2/2020).

* Mengoneksikan Aceh dengan Andaman & Nicobar (2-Habis)

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyebutkan, satu dari tiga hasil pertemuan yang sudah disepakati dan terjadwal adalah pertemuan kedua Joint Task Force Aceh Andaman Nicobar pada Juni 2020. “Kali ini, peserta JTF Aceh akan menggunakan charter flight Banda Aceh-Port Blair. Mudah-mudahan ini menjadi penerbangan rintisan untuk membuka direct flight Banda Aceh dan Andaman,” kata Nova.

Kunjungan delegasi Aceh ke India mendapat sambutan hangat dari para pihak di negeri Bollywood tersebut. Tak kurang dari Menteri Negara Urusan Luar Negeri India, Menteri Perindustrian dan Perdagangan India, serta Gubernur Tamil Nadu dan Gubernur Andaman Nicobar, ikut menerima delegasi Aceh yang terdiri atas Plt Gubernur dan kepala SKPA terkait, BPKS, serta Kadin.

Setidaknya ada tiga kesepakatan yang bisa segera ditindaklanjuti oleh kedua belah pihak. Namun, dua di antaranya membutuhkan keputusan di tingkat pusat, dari Pemerintah Republik Indonesia maupun Pemerintah India di New Delhi. Peran aktif Kementerian Luar Negeri dan kedutaan besar kedua negara, sangat menentukan kesuksesan misi Presiden Joko Widodo dan PM India Narendra Modi.

Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyebutkan, satu dari tiga hasil pertemuan yang sudah disepakati dan terjadwal adalah pertemuan kedua Joint Task Force Aceh Andaman Nicobar pada Juni 2020. “Kali ini, peserta JTF Aceh akan menggunakan charter flight Banda Aceh-Port Blair. Mudah-mudahan ini menjadi penerbangan rintisan untuk membuka direct flight (penerbangan langsung-red) Banda Aceh dan Andaman,” kata Nova kepada Serambi, di New Delhi, Kamis (20/2/2020).

Saat kunjungan ke India, Senin-Kamis (17-20/2020), delegasi Aceh menempuh perjalanan sangat panjang untuk tiba di Andaman. Dimulai dari Banda Aceh ke Jakarta, Singapore, New Delhi, Chennai, dan Andaman.

Jika pun tidak singgah di Chennai, setidaknya butuh transit tiga bandara untuk terbang dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) ke Port Blair, Andaman yang hanya berjarak 698 km dari Sabang (kira-kira sejarak Banda Aceh dengan Lubuk Pakam). Saat ini ada dua alternatif terbang dari Banda Aceh ke Port Blair, yaitu via Jakarta-New Delhi-Port Blair, atau via Kuala Lumpur- Chennai-Port Blair.

Nova mengatakan, kesimpulan kedua dari pertemuan dengan sejumlah pihak di India adalah, diperlukan arahan Presiden Joko Widodo untuk amendement air service agreement antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah India tentang Bandara Internasional SIM sebagai pelabuhan terbuka untuk Penerbangan Port Blair-Banda Aceh.

Ketiga, tambahnya, diperlukan regulasi khusus Menteri Perdagangan untuk kerja sama Aceh-Andaman Nicobar untuk ekspor material infrastuktur dari Aceh ke Andaman Nicobar. “Pada prinsipnya, Gubernur Andaman & Nicobar sepakat dengan kita untuk memfasilitasi dan mengakomodir semua aktivitas bisnis to bisnis yang akan dilakukan oleh pengusaha kedua belah pihak,” ungkap Nova.

Nova mengatakan, dalam pertemuan dengan Gubernur Andaman & Nicobar serta Kadin A&N, kedua belah pihak sepakat untuk mem-follow up rencana kerja sama ini sesegera mungkin. Pihak Andaman & Nicobar meminta Aceh mengirim pasir, kerikil, dan material bangunan lain untuk pembangunan infrastruktur yang sedang gencar dilakukan di sana. Sebagai balasan, India akan membangun infrastruktur dan rumah sakit modern di Sabang.

“Nah, kita coba mencari jalan tengah untuk tidak mengirimkan barang mentah, tapi minimal mengirim barang setengah jadi. Kalau pun harus dikirim bahan mentah, nanti kita akan bicarakan dengan Pemerintah Pusat, apakah itu memungkinkan dengan kekhususan Aceh atau tidak,” ungkap Nova Iriansyah.

Selanjutnya, lanjut Nova, kedua belah pihak juga mempelajari kemungkinan untuk memudahkan perizinan dan birokrasi, serta kemungkinan memberikan insentif dan subsidi awal agar program ini bisa segera berjalan. “Fasilitasi akan tetap kita sediakan, regulasi akan tetap kita mudahkan, insentif-insentif akan kita berikan, kalau memungkinkan dan dibolehkan oleh peraturan perundang-undangan, kita akan berikan subsidi. Misalnya subsidi untuk dimulainya air connectivity atau konektivitas udara dengan membuka rute penerbangan Banda Aceh-Port Blair,” ujarnya.

Nova menekankan, dunia usaha adalah lokomotif dari kerja sama ini. “Dalam hal ini secara institusional adalah Kadin. Tapi, sebenarnya tidak hanya terbatas Kadin, melainkan seluruh pengusaha yang ada di Andaman & Nicobar India serta pengusaha di Aceh-Indonesia. Kita harapkan para pengusaha di kedua wilayah ini bisa menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut sesegera mungkin. Pemerintah siap memfasilitasi dan memberi kemudahan,” harap Nova Iriansyah.

Pada kesempatan yang sama, Nova juga mengatakan, Pemerintah Aceh sudah mendapatkan pemberitahuan dari Uni Emriat Arab (UEA) yang mengundang Kepala Pemerintah Aceh untuk bertemu dengan Menteri Energi Uni Emirat Arab, Syaikh Suhail dan BKPM Uni Emirat Arab. Pertemuan dalam rangka menindaklanjuti hasil pertemuan Presiden Jokowi dengan Putra Mahkota Uni Emirat Arab, Mohamed Bin Zayed, ini dijadwalkan berlangsung pada 8-9 April mendatang di Abu Dhabi. (zainal arifin)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved