JURNALISME WARGA

Jokowi dan Spirit Kenduri

Hari Sabtu (22/2/2020), saya menyambut pagi di Bireuen, setelah lebih kurang enam jam mengarungi malam dari Kutaraja

For Serambinews.com
Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, H Usamah El Madny SAg MM. 

USAMAH EL MADNY, S.Ag., M.M., Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, melaporkan dari Bireuen

Hari Sabtu (22/2/2020), saya menyambut pagi di Bireuen, setelah lebih kurang enam jam mengarungi malam dari Kutaraja. Hari itu, bertempat di Kompleks Sekolah Sukma Bireuen diselenggarakan Kenduri Kebangsaan. Ini bukan kenduri biasa. Di antara tamu undangan adalah Presiden Jokowi bersama para pembantu dekatnya. Ada Plt Gubernur Aceh, Ketua Nasdem, Surya Paloh, dan Anggota Forbes DPR RI asal Aceh.

Acara yang berlangsung di Bireuen itu dari segi nama sangat menginspirasi dan memiliki nilai spritualitas dalam tradisi orang Aceh. Namanya: Kenduri Kebangsaan. Diksi kenduri dan kebangsaan sesungguhnya memiliki chemistry  yang saling bertautan. Kebangsaan adalah formulasi dan semangat menyatukan mimpi, semangat kerja sama, melupakan hal-hal yang menyakitkan. Memaafkan serta saling mengayomi dalam bingkai negara kesepakatan.

Lalu, kenduri yang dilaksanakan--dengan mengedepankan spirit keacehan--diharapkan dapat menjadi perekat kebangsaaan yang selama ini selalu berdinamika, termasuk di Aceh.

Di Aceh, kenduri dilakukan pada momentum tertentu. Misalnya, ketika seseorang atau sekelompok orang mengimplementasikan rasa syukurnya atas segenap karunia dan kesuksesan. Ada juga kenduri yang dilakukan sebagai momen membangun ulang harmonisasi. Ada juga kenduri sayam, kenduri setelah ada konflik yang biasanya berdarah. Lalu, Kenduri Kebangsaan yang dilaksanakan di Bireuen ini dapat lebih dilihat dalam konteks syukur dan harmonisasi.

Cara Jakarta memberlakukan Aceh selama 32 tahun pada era Orde Baru (Orba) sungguh berdarah-darah. Akibatnya, sendimen kemarahan dan kebencian masih berpotensi berkembang biak. Di era Orla dan Orba sangat banyak janji Jakarta yang tinggal janji. Janji-kanji itu bukan untuk ditepati, tapi untuk dikhianati. Dan, di atas pengkhianatan dengan wajah tanpa dosa itu dibangun janji baru. Itu bukan sekali, melainkan berkali-kali.

Ada janji penerapan syariat Islam yang diucapkan Soekarno sambil menangis di Koetaradja. Tapi yang terjadi kemudian justru Provinsi Aceh digabungkan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Ada janji Aceh jadi daerah istimewa. Kenyataannya, hanya istimewa di nama, tidak di substansi.

Terakhir, di ujung rezim Orba, Jakarta berjanji membangun rel kereta api. Kali ini janji itu dipenuhi. Di beberapa ruas Aceh rel mulai membentang ala kadar. Tapi sampai kini kereta api belum sekalipun membunyikan klaksonnya di Aceh.

Ini semua terjadi dalam keyakinan masyarakat Aceh karena gaya kepemimpinan Jakarta selama ini sangat Jawa-sentris. Namun, yang terjadi dengan kepemimpinan Jokowi justru antitesa dari kepemimpinan pola Jawa selama ini. Banyak pakar sepakat bahwa gaya kepemimpinan Jokowi selama ini adalah kepemimpinan pasca-Jawa. Salah satu yang berpendapat demikian Bang Fachry Ali, putra Aceh Barat Daya yang menjadi penulis dan pembicara terkemuka di Jakarta.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved