Jurnalisme Warga

Revitalisasi Permukiman Warga di Desa Ujung, Singkil

Pola permukiman tersebut terdiri atas bangunan rumah yang dibangun sambung-menyambung antara satu rumah dengan rumah lainnya

Revitalisasi Permukiman Warga di Desa Ujung, Singkil
IST
Dr. FADJRI ALIHAR, Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), melaporkan dari Jakarta

OLEH Dr. FADJRI ALIHAR, Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), melaporkan dari Jakarta

POLA permukiman model kampung-kampung lama banyak sekali ditemukan di wilayah Kabupaten Aceh Singkil. Pola permukiman tersebut terdiri atas bangunan rumah yang dibangun sambung-menyambung antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Pola permukiman seperti itu menunjukkan adanya sistem kekerabatan di antara kelompok masyarakat yang ingin selalu bertempat tinggal dekat dengan keluarganya. Bahkan hingga saat ini pola-pola permukiman tersebut terus berlanjut.

Salah di antara permukiman tersebut adalah Permukiman Masyarakat Desa Ujung, Singkil. Permukiman tersebut merupakan permukiman tua seiring dengan dipindahkannya Kota Singkil lama ke Kota Singkil Baru (New Singkil) pada awal abad ke-19. Permukiman masyarakat Desa Ujung termasuk permukiman yang paling padat di Kota Singkil. Permukiman tersebut dikenal juga merupakan “Kampung Deret” dengan pola perumahan sambung-menyambung antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Biasanya batas penyekat antara rumah ke rumah hanya dibatasi oleh satu dinding. Semua bahan bangunannya terbuat dari bahan kayu. Pola permukiman seperti itu sangat rawan kebakaran. Artinya, jika satu blok rumah terbakar dengan cepat menjalar ke rumah-rumah lainnya.

Untuk kesekian kalinya permukiman warga Desa Ujung mengalami musibah kebakaran. Bencana kebakaran tersebut seakan berulang dari waktu ke waktu. Pertama pada tahun 2006 terjadi musibah kebakaran yang menghanguskan 12 buah rumah. Kedua, pada tahun 2017 musibah kebakaran kembali terjadi dan menghabiskan 13 buah rumah. Selanjutnya, pada hari Kamis, 20 Februari 2020, masyarakat Desa Ujung kembali berduka karena terjadinya musibah kebakaran yang mengakibatkan 20 buah rumah musnah dilalap api. Sebagai akibatnya, 100 jiwa penduduk kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi.

Pola permukiman di Kota Singkil merupakan warisan zaman Belanda. Hanya saja Pemerintah Belanda menyadari sejak dari awal pola permukiman seperti itu sangat rawan terhadap bahaya kebakaran. Untuk menghindari terjadinya kebakaran Pemerintah Belanda sengaja membuat blok-blok perumahan secara terpisah. Untuk memisahkan blok-blok perumahan tersebut dibuat lorong-lorong atau gang-gang. Maksudnya, jika terjadi kebakaran maka dengan cepat dapat dilokalisir, sehingga tidak menjalar ke blok perumahan lainnya.

Rumah-rumah warisan zaman Belanda, walaupun berbentuk “Kampung Deret”, namun jarang sekali tertimpa bencana kebakaran. Pemerintah Belanda sengaja membuat terpisah antara rumah induk dengan dapur. Kemudian rumah induk dengan dapur dihubungkan oleh sebuah karidor. Koridor tersebut berfungsi juga sebagai penghalang (buffer) untuk mencegah jika terjadi kebakaran di bagian dapur tidak meluas sampai ke rumah induk.

Hanya saja pola perumahan masyarakat saat ini cenderung tidak lagi mengikuti kaidah rumah sebagai tempat tinggal. Padahal, rumah-rumah yang terbuat dari kayu seharusnya memerlukan perlakuan khusus, karena terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar.

Berkaitan dengan musibah kebakaran yang menimpa permukiman masyarakat Desa Ujung kiranya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil harus segera melakukan evaluasi terhadap perkampungan dengan pola kampung deret seperti yang ada sekarang ini. Evaluasi tersebut sangat diperlukan untuk menentukan layak tidaknya masyarakat menempati perumahan tersebut. Seandainya pemerintah daerah memandang rumah-rumah tidak layak lagi dihuni sebaiknya segera lakukan revitalisasi. Revitalisasi perumahan tersebut dilakukan agar setiap kelompok masyarakat memperoleh rumah yang layak huni sekaligus terjamin keamanannya, terutama bahaya kebakaran.

Agar tidak membebani anggaran pemerintah kabupaten kiranya kegiatan revitalisasi dapat dilakukan secara bertahap, terutama untuk permukiman, dengan kondisi perumahan yang memprihatinkan. Program revitalisasi tersebut dapat dijadikan program andalan pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan “bedah rumah”. Pemkab Aceh Singkil dapat menyediakan anggaran revitalisasi minimal sebanyak 20 rumah setiap tahunnya yang dilakukan secara bergiliran pada berbagai daerah di Aceh Singkil. Kegiatan revitalisasi tersebut merupakan sebuah kegiatan ”sedia payung sebelum hujan”. Artinya, jangan menunggu sampai terjadi kebakaran baru dilakukan kegiatan pembangunan kembali seperti yang dilakukan selama ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved