Breaking News:

Citizen Reporter

Semarak Maulid Nabi dan Indahnya Persaudaraan Masyarakat Aceh di Sydney

Ini semua berkat kekompakan dan kerja sama semua masyarakat Aceh yang ada di Sydney.

For serambinews.com
MUTIA ELVIANI, SPdI 

Antara lain tentang pentingnya menjaga identitas diri, dengan menjaga bahasa indatu kita, yaitu bahasa Aceh, dan tidak lupa dengan bahasa Indonesia, dan menghargai bahasa asing.

Hal ini agar generasi-generasi ke depan tidak lupa pada bahasa ibu mereka dan akan terus melestarikannya dengan mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut lagi beliau berpesan, penting sekali dalam kehidupan agar mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh Rasullullah saw.

Seorang nabi yang "dilantik" secara definitif oleh Allah, yaitu dengan mencontoh perilaku dan sikap beliau dalam berinteraksi dengan sesama, yaitu dengan selalu berbuat baik kepada satu sama lainnya.

"Karena barang siapa yang menyayangi penduduk bumi, maka penduduk langit akan menyayangi mereka,” beliau menambahkan.

Beliau juga mengajak kita semua untuk selalu bersikap positif kepada setiap manusia, karena dengan bersikap positif insyaallah hati kita akan tenang, beliau menambahkan dengan selalu bersikap positif pula maka akan banyak pahala bukan dosa yang kita hasilkan dalam keseharian kita.

Beliau juga menambahkan bahwa penting sekali agar kita mendekatkan diri dengan ulama dan pentinganya menuntut ilmu.

Dalam petikan yang beliau dendangkan pada sore yang berbahagia itu, beliau sempat menyanyikan petikan bait ini.

“Tanpa agama manusia binasa, tanpa ilmu manusia buta, tanpa harta manusia sengsara dan tanpa ukhuwah manusia terpisah,” begitulah beberapa bait ceramah yang sempat saya catat pada hari itu.

Jarum jam menunjukkan pukul 05.20 waktu Sydney, kemudian acara pun ditutup dengan doa, shalat Ashar berjamaah dan dilanjutkan dengan “pajoh khanduri” (menikmati santapan) bersama.

Ada berbagai jenis masakan khas Aceh yang telah disajikan oleh panitia.

Hal ini menambah kemeriahan pelaksanaan maulid di sore yang cerah itu.

Sebagai mahasiswa Aceh yang sedang merantau, kegiatan ini sangat berarti bagi kami.

Di samping sebagai wadah untuk mempererat silaturahmi antara mahasiswa dan sesama masyarakat Aceh di Sydney dan beberapa masyarakat Aceh dari kota lainnya, acara ini juga menjadi penawar untuk mengobati rasa rindu kampung halaman.

Ibu-ibu dan bapak-bapak di sini sangat hangat sekali, “Bek male-male pajoh aju beu lee, nyoe lage di gampong aju/Jangan malu-malu makan yang banyak, anggap aja seperti di kampung,” kata salah seorang ibu panitia.

Mereka menyambut kami dengan senyum sumringah dan penuh keikhlasan. Menghadiri acara ini persis seperti pergi ke rumah saudara sendiri yang sudah lama tak berjumpa.

Semoga ukhuwah persaudaraan ini akan terus terjaga dan semarak perayaan maulid ini menjadi semangat untuk terus menjaga tradisi Aceh meskipun di negeri minoritas.

Salam dari Negeri Kangguru! (mutia.elviani@gmail.com)

Editor: Mursal Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved