Jurnalisme Warga

Profesor dan Kontribusinya bagi Kemajuan Aceh

DUA hari menjelang 26 Februari 2020, saya mendapat selembar surat undangan untuk menghadiri Sidang Terbuka Senat Universitas Syiah Kuala

Profesor dan Kontribusinya bagi Kemajuan Aceh
IST
ZARKASYI YUSUF, Aparatur Sipil Negara pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH ZARKASYI YUSUF, Aparatur Sipil Negara pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

DUA hari menjelang 26 Februari 2020, saya mendapat selembar surat undangan untuk menghadiri Sidang Terbuka Senat Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dalam Rangka Pengukuhan Profesor. Undangan tersebut diberikan langsung oleh Profesor Khairul Munadi yang merupakan salah seorang yang akan dikukuhkan pada rapat senat tersebut.

Tiba tanggal dimaksud saya datang ke Gedung Academy Activity Center (AAC) Prof  Dr Dayan Dawood Unsyiah Darussalam, Banda Aceh, untuk memenuhi undangan tersebut. Mendapat kesempatan mendengarkan orasi ilmiah pada pengukuhan profesor adalah sesuatu yang langka bagi saya, mengingat saya bukan akademisi.

Pada hari itu, ada tiga guru besar yang dikukuhkan Unsyiah, yaitu Prof  Dr Khairul Munadi ST, MEng untuk bidang ilmu pengolahan sinyal multimedia dari Fakultas Tehnik dengan orasi ilmiahnya berjudul  “Pengembangan Perangkat Cerdas Deteksi Dini Penyakit Berbasis Pencitraan Termal dan Deep Learning”. Selanjutnya, Prof  Dr  Taufik Fuadi Abidin SSi, MTech untuk bidang ilmu komputer dari Fakultas MIPA dengan judul orasi ilmiah “Pemanfaatan Machine Learning dan Teknologi Big Data dalam Penambangan Informasi”. Terakhir adalah Prof  Dr Fitri Arnia ST MEng.Sc untuk bidang ilmu pengolahan sinyal multimedia dari Fakultas Teknik dengan orasi ilmiah berjudul “Pengolahan Citra Digital untuk Restorasi Naskah Kuno dan Temu Kembali (Retrieval) Konten pada Media Daring”.

Menariknya, pada hari itu Unsyiah mencatat sejarah baru dalam hal pengukuhan profesor, karena Prof Khairul Munadi dan Prof  Fitri Arnia berstatus pasangan suami istri (pasutri). Mereka berasal dari jurusan yang sama, bahkan dari rumah yang sama.

Sebelum menyampaikan orasi ilmiah, Rektor Unsyiah, Prof  Samsul Rizal memberikan sambutan terlebih dahulu. Ada beberapa hal menarik yang disampaikan rektor dalam sambutan tersebut. Semoga ini menjadi catatan penting bagi para akademisi dan kita semua.

Hari itu banyak ilmu yang saya dapatkan dari sambutan Rektor Unsyiah. Saya baru tahu bahwa jumlah profesor di Indonesia hingga akhir 2018 sebanyak 5.463 orang atau baru 1,9 persen dari total jumlah dosen yang ada di seluruh Indonesia yang angkanya mencapai 290.000 orang. Profesor di Unsyiah baru 76 orang atau sekitar 4,8 persen dari jumlah total dosen.

Seperti kita maklumi bersama bahwa guru besar atau profesor adalah ‘maqam’ tertinggi dalam dunia akademik, pangkat dosen tertinggi yang diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kepakaran dan profesionalisme seorang akademisi atas satu bidang ilmu yang ia geluti.

Untuk mencapai derajat profesor, penilaian utama didasari pada pencapaian tridarma yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Karena langka dan tidak banyak yang mampu meraih ‘maqam’ tersebut, menduduki jabatan profesor sungguh menjadi sangat istimewa.

Jumlah profesor menjadi salah satu indikator untuk mengukur kualitas sebuah perguruan tinggi. Profesor diharapkan mampu melahirkan penelitian yang mendongkrak kreativitas dan inovasi sebuah perguruan tinggi. “Kita semua berharap bahwa para profesor di Unsyiah, termasuk yang dikukuhkan hari ini mampu mengangkat martabat kampus, martabat Aceh, dan martabat Indonesia di pentas dunia melalui riset-riset mereka,” demikian disampaikan Rektor Unsyiah dalam sambutannya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved