Illiza Sa’aduddin Djamal, Prihatin dengan Pendidikan di Pulo Aceh
ANGGOTA DPR RI asal Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, melakukan pertemuan dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Menengah Atas
ANGGOTA DPR RI asal Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, melakukan pertemuan dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Aceh Besar. Pertemuan berlangsung di SMAN Modal Bangsa Aceh Besar, Senin (2/3/2020).
Dalam pertemuan itu, Illiza banyak mendengar curhatan para kepala sekolah, mulai dari masalah fasilitas sekolah, tenaga honorer, hingga masalah sekolah minim siswa dan berlokasi di daerah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).
“MKKS SMA Aceh Besar mengundang saya membicarakan berbagai persoalan terkait pendidikan salah satunya menyangkut pendidikan di daerah tertinggal seperti Pulo Aceh, yang masih jauh dari perhatian" kata Illiza usai pertemuan kepada Serambi kemarin.
Dia mengatakan, di Pulo Aceh bukan tidak ada guru. Tetapi persoalannya guru di sana sering tidak masuk sekolah, disebabkan karena ongkos yang mahal dan sibuk mengejar jam mengajar di sekolah lain di luar Pulo Aceh untuk keperluan sertifikasi.
Kondisi kosongnya guru di sekolah di Pulo Aceh pernah dilihat langsung oleh Ombudsman Aceh saat melalukan sidak ke sana. Terkait seringnya guru tidak masuk sekolah di Pulo Aceh, politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini meminta Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk memberi perhatian serius.
“Jarak Pulo Aceh dengan Banda Aceh hanya 2 jam, tapi kenapa kemajuannya sangat jauh terbelakang? Selain kita berharap perhatian dari daerah, kita juga akan dorong dari pusat untuk percepatan kemajuan Pulo Aceh,” ujarnya.
Saat ini, kata Illiza, Pulo Aceh berdasarkan hasil sensus bukan lagi daerah dengan status 3 T. Kondisi ini membuat masyarakat dan anak didik kepulauan itu merasa dirugikan karena tidak ada guru yang datang ke sana untuk mengajar.
Para guru saat ini sedang fokus mengikuti sertifikasi. Dimana untuk bisa sertifikasi, guru harus mengajar selama 24 jam dalam sehari. Agar jam mengajar tersebut terpenuhi, Pulo Aceh tidak lagi menjadi pilihan karena soal jarak dan mahalnya ongkos. “Akhirnya masyarakat jadi korban atas kebijakan yang tidak sesuai, salah satunya kekosongan guru. Guru itu kalau mengajar di sekolah daerah terpencil tidak cukup jam, maka dia mengajar di tempat lainnya,” ujar mantan Wali Kota Banda Aceh ini.
Seharusnya, status Pulo Aceh sebagai daerah 3 T tidak dicabut. Kalau masih ditetapkan sebagai daerah 3T, guru yang mengajar di sana tetap bisa mendapat penambahan pendapatan dari pemerintah karena mengajar di wilayah khusus.
“Guru yang mengajar di Pulo Aceh harus ada kebijakan khusus. Mereka (guru) tidak usah diperlakukan target 24 jam mengajar. Karena itu kita harus berjuang sama-sama, baik pemerintah daerah sampai dengan kita (DPR RI),” pungkasnya.
Dalam pertemuan dengan MKKS SMA Aceh Besar, Illiza juga membahas masalah asrama siswa SMAN Modal Bangsa Aceh Besar. Dari informasi pihak sekolah, bangunan asrama yang ada saat ini sudah tua dan sudah kurang layak.
"Bahkan rumah guru dialihfungsikan menjadi ruang tidur anak-anak. SMA Modal Bangsa sekolahnya sudah bagus, tapi asrama masih kurang layak dan sangat tidak representatif untuk anak-anak karena usia bangunannya yang sudah tua," ujarnya.
Selain itu, para kepala sekolah juga mengeluhkan dan berharap perhatian pemerintah terkait minimnya sarana dan prasarana sekolah, di antaranya ruang belajar, mushalla yang representatif, perpustakaan digital, dan gedung IT, serta alat peraga sekolah lainnya.(masrizal bin zairi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/illiza-saaduddin-djamal-saat-wawancara-khusus.jpg)