Senin, 13 April 2026

Peninggalan Peradaban Singkil Lama, Dari Quran Mini Antik hingga Piring Antibasi

Rumah mewah milik pedagang Cina, Belanda, India, dan pengusaha Timur Tengah, rata dengan tanah ketika Kota Pelabuhan Singkil Lama

Editor: bakri
serambi/dede rosadi
Al Quran mini yang ditemukan Admi penduduk Ujung, Singkil, Aceh Singkil, di reruntuhan bangunan Singkil Lama, Senin (2/3/2020) 

Rumah mewah milik pedagang Cina, Belanda, India, dan pengusaha Timur Tengah, rata dengan tanah ketika Kota Pelabuhan Singkil Lama yang berada di sebelah barat Singkil, ibu kota Kabupaten Aceh Singkil sekarang, diterjang gelombang dahsyat sekira tahun 1890-an. Bencana alam itu menghancurkan peradaban Kota Pelabuhan Singkil Lama.

Pada masanya, Singkil Lama merupakan kota pelabuhan maju, sehingga menarik bangsa Eropa dan Asia menetap di sana. Bukti majunya peradaban masa lalu Singkil itu terlihat dari benda-benda berharga yang ditemukan di sisa reruntuhan Kota Singkil Lama. Mulai dari Al-Quran antik berukuran mini, piring anti basi, guci, pot bunga, serta botol buatan Eropa. Diyakini benda-benda itu milik orang kaya pada masanya. Benda sisa kejayaan Singkil Lama itu kini menjadi koleksi Admi, penduduk Desa Ujung, Kecamatan Singkil.

Menurut Admi, Al-Quran mini itu ia temukan  di sekitar muara Singkil Lama, sekitar 20 tahun lalu atau empat tahun, sebelum gempa dan tsunami Aceh melanda. Muara Singkil Lama terletak di sebelah barat Singkil masa kini. Ukuran Quran itu sekitar dua centimeter, menggunakan sampul tinta emas. Tulisan dalam Al-Quran masih sangat jelas terlihat. "Saya temukan dalam guci tembaga terbungkus kain warna merah, sekitar 20 tahun lalu," cerita Admi kepada Serambi, Senin (2/3/2020).

Admi mengaku tak sengaja menemukan benda antik itu. Ia hanya mencongkel tanah ketika melihat ada guci tersembul dari permukaan tanah. "Quran saat ditemukan lembab dan saya jemur. Alhamdulillah kering," katanya. Termotivasi dengan temuan Al-Quran mini, Admi lantas kembali menelusuri jejak Kota Singkil Lama yang hilang menurut cerita dia dengar lenyap ditelan gelombang dahsyat.

Penelusaran itu dilakukan masih sebelum gempa dan tsunami Aceh pada 2004 silam. Dalam petualangannya, ia menemukan barang antik lain, seperti guci, botol, pot bunga, dan piring antibasi. "Piring antibasi setelah saya coba taruh nasi, sampai dua hari tak mau basi," jelasnya.

Benda-benda temuan dari Kota Singkil Lama itu kemudian menjadi koleksi pribadi Admi yang mengaku tak pernah bosan melihatnya. Penduduk Desa Ujung itu pun dengan senang hati memperlihatkan benda-benda antik koleksinya kepada Serambi.

Selain yang masih utuh, Admi juga menyimpan pecahan barang-barang terbuat dari keramik yang ditemukan di Singkil Lama. Barang-barang yang dimiliki Admi, identik dengan benda yang ditemukan Serambi ketika berpetualang ke Singkil Lama, tahun lalu.

Tanda Singkil Lama merupakan kota pelabuhan maju, selain dari benda antik yang dimiliki penduduknya, juga terlihat dari bahan mendirikan bangunan, yakni menggunakan bata merah yang telah berstempel. Sayang situs sejarah peradaban Singkil Lama itu, lokasinya tak terurus. Benda-benda semisal pecahan keramik masih dibiarkan berserakan.

Benda berharga di Singkil Lama, sebagian terus diburu. Sehingga saat ini sudah sangat sulit menemukan sisa peninggalan kejayaan Singkil. Berdasarkan literatur, Singkil sudah beberapa kali pindah akibat luluh lantak dihantam gempa dan gelombang tsunami, hingga ke lokasi sekarang yang dikenal dengan sebutan Singkil Baru (New Singkil).

Di peta (map) lama keluaran Portugis atau Belanda, wilayah Singkil yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Singkil sudah dipakai nama New Singkel. Versi Indonesianya, itulah Singkil Baru. Alkisah, wilayah Singkil sendiri awalnya di sekitar Desa Gelombang sekarang. Ada juga yang menyebutnya dekat muara Berok. Singkil Lama berdiri sekitar abad ke-7. Pada masa keemasannya, Singkil Lama menjadi kota pelabuhan tempat singgah kapal saudagar dari Timur Tengah, Eropa, dan wilayah nusantara.

Setelah terjadi peristiwa geloro (semacam tsunami) sekitar pertengahan abad ke-18, lokasinya berpindah ke Singkil Lama yang terletak di sebelah barat Singkil, ibu kota Kabupaten Aceh Singkil sekarang, lokasi Admi menemukan Al Quran antik dan guci. Lokasi itu kini berada di dekat mulut muara Singkil Lama, juga dekat dengan Desa Kayu Menang, Kecamatan Kuala Baru.

Pasaca hantaman gelombang, kejayaan Singkil kembali didirikan. Namun jelang akhir abad ke-18, lagi-lagi geloro menghancurkan kota. Akhirnya, penduduk yang tersisa pindah ke Desa Ujung, terus menyebar ke desa lain. Itulah yang kemudian menjadi landscape (bentang alam) Singkil, masa kini.(dede rosadi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved