Jurnalisme Warga

Zia Pergi, Ushuluddin Berduka

KABAR duka mendalam menyelimuti semua elemen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Araniry, Darussalam, Banda Aceh

Zia Pergi, Ushuluddin Berduka
IST
M. ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

OLEH M. ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

KABAR duka mendalam menyelimuti semua elemen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Araniry, Darussalam, Banda Aceh, setelah terdengar kabar bahwa pimpinan mahasiswa (Wahyu Zia Ulhaq) mengembuskan napas terakhirnya dalam misi kemanusiaan.

Sebagai gubernur mahasiswa, aktivis yang kerap disapa Zia ini memimpin rombongan yang akan menyerahkan bantuan untuk korban kebakaran di Aceh Singkil. Namun nahas, beliau mengalami kecelakaan tunggal yang membuatnya lebih awal menghadap Ilahi Rabbi di usia 22 tahun.

Ketika mendengar info kejadian tersebut, saya selaku dosen dan abang letingnya merasa sangat terguncang. Seolah tak percaya, tapi itulah faktanya. Rasa pilu memengaruhi semua aktivitas kampus. Bahkan ketika mengajar mahasiswa Ushuluddin, suasana terasa hampa karena kami semua benar-benar merasa kehilangan.  Semangat perkuliahan sejenak tampak kaku, mahasiswa Prodi Akidah dan Filsafat selaku adik-adik leting almarhum juga turut merasakan kehilangan Zia. Sebagian dari mereka ada yang langsung terbang ke tempat kediaman Zia, sedangkan sisanya mengikuti kuliah seperti biasa.

Masih jelas terasa saat terakhir saya bertemu dengan almarhum di Kantin Al-Jamiah membahas tentang program kerja sama antara mahasiswa dan alumni ke depan. Melihat bagaimana totalitasnya dia, saya seperti melihat bintang besar akan lahir dari almamater Ushuludin melalui kiprah dan relasi organisasi yang almarhum bangun. Namun, apa daya takdir berbicara lain, manusia hanya bisa berusaha, sisanya bertawakal kepada Allah Swt. Mungkin Allah punya rencana lain yang lebih baik dari apa yang dipahami hamba-Nya.

Meskipun Saudara Zia sudah meninggalkan Ushuluddin, kami yakin semangat dan perjuangannya tidak akan pernah padam. Akan diwarisi oleh teman dan sahabatnya. Saya sendiri akan dengan sangat bangga menceritakan kepada adik-adik mahasiswanya kelak bahwa ada kakak kelas mereka yang patut dicontoh dan diapresiasi. Dialah Wahyu Zia Ulhaq.

Saat hari musibah terjadi, dekan saat itu (Fuadi) memanggil semua jajarannya untuk berangkat ke rumah duka. Mendadak ada panggilan penting dari pimpinan UIN Ar-Raniry, para petinggi fakultas terpaksa menghadap rektor karena ada pergantian kepemimpinan. Alhasil, atas suatu alasan Dekan Ushuluddin diroling (pindah jabatan) dan dilantik dekan yang baru sekitar pukul 15.00 WIB. Selepas pelantikan, Abdul Wahid selaku dekan yang baru tanpa menunggu waktu lagi bersama staf lainnya langsung meluncur ke rumah keluarga Wahyu Zia Ulhaq di Aceh Timur.

Agenda melayat dan mengantarkan mahasiswanya ke peristirahatan terakhir menjadi tugas pertama (tanggung jawab) dekan baru tersebut tak lama setelah dilantik. Bukan bermaksud membanding-bandingkan, tapi itu adalah indikator bahwa almarhum adalah sosok yang sangat berpengaruh bagi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, bahkan bagi petinggi kampus.

Tidak hanya itu, info yang didapat dari perwakilan Dewan Mahasiswa (Dema), sekretariat pimpinan mahasiswa yang selama ini menjadi wadah mangkalnya almarhum saat menjalankan tugas akan digantikan namanya menjadi "Wahyu Zia Ulhaq". Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mengenang jasa dan perjuangan beliau semasa berkiprah di kampus.

Menggadaikan sepmor

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved