Jamaah Masjid Jogokariyan Sangat Menghormati Perbedaan
Bupati Abdya mengutus sebuah tim guna mempelajari manajemen pengelolaan dari lima masjid di Yogyakarta dan Jakarta.
* Cerita Studi Manajemen Masjid di Yogyakarta dan Jakarta (Bagian 1)
Bupati Abdya mengutus sebuah tim guna mempelajari manajemen pengelolaan dari lima masjid di Yogyakarta dan Jakarta. Dikoordinir Sekda Thamrin, dan Wakil Bupati (Wabup), Muslizar MT, tim ini bekerja sejak 26 Februari sampai 1 Maret 2020. Tim ini beranggotakan unsur pemerintah, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), pimpinan dayah, imam besar, hingga remaja masjid. Hasil studi itu rencananya akan diterapkan dalam pengelolaan Masjid Agung Baitul Ghafur Abdya yang baru diresmikan. Wartawan Serambi Indonesia, Zainun Yusuf yang turut menyertai tim ini menurunkan laporan dua bagian, mulai hari ini.
SEKILAS tak ada yang istimewa dari Masjid Jogokariyan. Konstruksi bangunannya tidak terlalu megah, biasa-biasa saja seperti sebuah masjid di kampung pada umumnya. Namanya diambil dari nama kampung di mana masjid itu berdiri, yakni Kampung Jogokarian. Masjid ini berdiri di sudut perempatan kampung, tepatnya di Jalan Jogokariyan Nomor 36, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kotamadya Yogyakarta.
“Masjid kampung ini dibangun pada tahun 1966 di bekas ‘kampung PKI’, di mana sebagian besar warganya sampai tahun 1965, bekerja sebagai buruh,” kata Takmir Masjid Jogokariyan, Subban Rizalinur saat menyampaikan paparan di hadapan tim studi manajemen masjid dari Abdya, Kamis (27/2/2020).
Subhan menceritakan, pembangunan Masjid Jogokariyan berawal dari wakaf salah seorang pedagang batik dari Karangkajen, Yogyakarta. Pembangunannya bertahap. Awalnya, hanya terdiri dari sebuah bangunan inti, kemudian terus berkembang. Jamaahnya dominan dari organisasi Muhammadiyah. Namun begitu, masjid ini tidak menggunakan simbol organisasi manapun, sehingga perasaan semua jamaah menjadi nyaman. Imamnya pun bergantian. “Kalau imam subuhnya pakai qunut, yang Muhammadiyah alhamdulilah tidak protes, dan sebaliknya,” kata Subban Rizalinur yang mengaku dari Muhammadiyah, tapi orangtuanya merupakan tokoh NU.
Perbedaan yang sangat dijunjung tinggi itu tercermin dari kegiatan pengajian yang tidak pernah sepi dilakukan bergantian. Tetapi, diakui Subhan, ada kejadian di mana jamaah yang sudah datang ke masjid tersebut, kemudian pulang dikarenakan pengajian disampaikan oleh guru yang bukan dari kelompoknya. “Sikap seperti ini tak ada masalah, tetap adem ayem,” ungkap Subban.
Banyaknya kegiatan di Masjid Jogokariyan membuat masjid ini tak pernah sepi. Setiap kegiatan, semua masyarakat dilibatkan, terutama kaum milenial (pemuda) yang ikut mensyiarkan sehingga masjid itu semakin terkenal. Hal ini menarik perhatian masyarakat muslim tak hanya di luar Yogyakarta, tapi juga luar negeri. Masjid ini juga memiliki website yang sederhana sehingga keberadaannya semakin mendunia. “Banyak dari luar negeri yang studi banding ke sini,” beber dia.
Sebelum pemberontakan PKI tahun 1965, Kampung Jogokariyan diapit dua kampung yang berbasis Islam yang sangat kuat. Sebelah barat kampung warga Muhammadiyah dan sebelah timur merupakan warga NU (Nahdiyin/pesantren). Masjid Jogokariyan dibangun di lokasi bekas ‘kampung PKI’ itu dengan program memakmurkan masjid. Memakmurkan masjid dipahami bukan hanya menegak shalat berjamaah, namun termasuk juga mengajak atau memberi kesadaran umat untuk menunaikan zakat yang digunakan menyantuni untuk mensejahterakan masyarakat ekonomi lemah.
Oleh karena itu, pengurus Masjid Jogokariyan melaksanakan program menshalatkan orang hidup dimulai tahun 2000, setelah hasil suvei saat itu ditemukan ada sekitar 1.300 warga muslim tidak shalat. “Kita datangi mereka, kita sentuh hatinya untuk menegakkan shalat berjamaah,” ungkap Subban.
Tahun 2006, pengurus Masjid Jogokariyan mendirikan Islamic Center. Pihak masjid membuka kesempatan infaq bagi siapa pun yang berkenan. Kotak infaq dipisah-pisah sesuai alokasi dan peruntukkannya. Ada kotak infaq parkir, infaq sego (makan) Jumat, kotak infaq sego subuh, dan infaq pemasangan tenda halaman masjid. Juga ada kotak infaq kotak infaq perawatan jenazah sehingga tidak repot lagi jika ada jamaah yang meninggal dunia. Seluruh dana infaq yang diperoleh dari jamaah akan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk layanan sosial. Uang perolehan infaq segera digunakan untuk keperluan umat, bukan diendapkan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tim-studi-manajemen-masjid-abdya-mendengar-paparan-takmir-masjid.jpg)