Jurnalisme Warga

Tidur di Kemah Saat Ulang Tahun Partai

Setelah mendapat informasi dari berbagai pihak terpercaya bahwa banyak korban jiwa maupun luka-luka yang butuh pertolongan

Tidur di Kemah Saat Ulang Tahun Partai
IST
ASWADI LAPANG, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya dan Pengurus Ikatan Pemuda Aceh Utara (IPAU) melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah

OLEH ASWADI LAPANG, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya dan Pengurus Ikatan Pemuda Aceh Utara )IPAU( melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah

BELUM lama ini kami dari Banda Aceh bertolak ke Takengon naik satu mobil rental. Ini adalah kali ketiga saya ke Takengon. Sebelumnya, saya datang ke sini dan Bener Meriah pada tanggal 3 Juli 2013. Waktu itu kami berangkat untuk misi kemanusiaan karena Bener Meriah dan Aceh Tengah sedang berduka. Gempa bumi berkekuatan 6,1 skala Richter mengguncang kedua kabupaten bertetangga itu pada 2 Juli 2013 sekitar pukul 14.37 WIB.

Tidak tanggung-tanggung, getaran gempa pada kedalaman 10 kilometer itu juga dirasakan oleh warga Kota Banda Aceh. Padahal, jarak Banda Aceh dengan pusat episentrum gempa lebih kurang 510 kilometer.

Setelah mendapat informasi dari berbagai pihak terpercaya bahwa banyak korban jiwa maupun luka-luka yang butuh pertolongan, kami yang tergabung dalam relawan kemanusiaan di bawah payung Himpunan Mahasiswa Kebencanaan Universitas Syiah Kuala (Hibeuna) langsung bergerak untuk membantu para korban jiwa maupun yang cedera akibat gempa tersebut.

Kamping dan Kegiatan Sosial

Setelah lama tak lagi mengunjungi Takengon dalam misi kemanusiaan, maka pada hari Selasa  yang lalu saya beserta beberapa petinggi salah satu partai nasional (parnas) di Aceh kembali mengunjungi Takengon. Kali ini saya tergabung dalam Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) yang ikut memeriahkan hari ulang tahun ke-12 parnas dimaksud. Suatu kemuliaan dan kehormatan bagi saya atas undangan sebagai panitia, sehingga saya langsung berkolaborasi dengan unsur panitia lainnya.

Dalam kegiatan ini panitia dibagi dalam dua bagian, yaitu panitia inti dan nonpanitia inti. Panitia inti merupakan bagian dari pengurus parpol, sedangkan nonpanitia inti adalah pengurus sayap partai tersebut.  Kemudian, nonpanitia inti dibagi lagi ke dalam dua bagian, yaitu panitia lokal dan panitia organisasi daerah. Dewan pengarahnya berasal dari anggota DPRA dan petinggi partai.

Setelah menempuh waktu sepuluh jam perjalanan dari Banda Aceh ke Takengon dengan tiga kali waktu istirahat, di antaranya di Samahani, Sigli, dan Bireuen, maka pada pukul 01 malam tibalah kami di Takengon. Suhunya saat itu sangat dingin. Keesokan harinya, saya beserta beberapa petinggi parnas mengunjungi sekaligus mengecek lokasi kegiatan puncak HUT ke-12 partai tersebut di Pantai Ketibung.

Walaupun cuaca sangat dingin, tapi tidak menyurutkan semangat kami melihat langsung tenda atau kemah yang telah dipasang panitia lokal sebanyak 200 unit di Pantai Ketibung. Tenda atau kemah tersebut hanya beralaskan dua lembar matras. Tenda atau kemah tersebt akan ditempati oleh peserta penyambutan HUT parpol sebanyak 500 orang. Di antara 500 peserta itu ada anggota DPRK, DPRA, bahkan DPR RI beserta keluarga masing-masing. Ada juga peserta yang tak membawa keluarga karena alasan tertentu. Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai kamping terbesar di Aceh bahkan kamping yang dapat memecahkan rekor nasional.

Sebelum acara puncak, saya yang tergabung dalam organisasi Satria beserta beberapa petinggi salah satu parnas tersebut mengunjungi rumah warga di Aceh Tengah. Nah, di sinilah saya teringat akan masa lalu saat beberapa tahun lalu, tepatnya tanggal 4 Juli 2013, saat Aceh Tengah  dan Bener Meriah berada pada masa darurat bencana gempa bumi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved