Breaking News:

Salam

Pejabat Seharusnya Tahan Diri Dulu ke Luar Negeri

Dari berita pertama itu kita mendapat gambaran bahwa sejak 4-12 Maret 2020 Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) merawat sepuluh pasien

HUMAS PEMERINTAH ACEH
Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT didampingi Kepala Dinas Kesehatan, dr. Hanif, Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine dan rombongan meninjau ruangan serta fasiitas ruang Isolasi Respiratory Intensive Care Unit (RICU), tempat perawatan pasien suspect virus Corona di RSU Zainoel Abidin, Banda Aceh, Kamis (12/3/2020) 

Harian Serambi Indonesia  kemarin mewartakan dua berita penting terkait virus corona dalam konteks lokal. Keduanya bernada positif dan menggembirakan.

Berita pertama berjudul Bebas Corona, RSUZA Pulangkan 8 Pasien. Berita kedua, Nova Batalkan Kunjungan ke Luar Negeri.

Dari berita pertama itu kita mendapat gambaran bahwa sejak 4-12 Maret 2020 Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) merawat sepuluh pasien suspect (tersangka) yang diduga terinfeksi virus corona (Covid-19) di Ruang Respiratory Intensive Care Unit (RICU). Setelah diperiksa beberapa kali, delapan orang dinyatakan sehat dan bebas corona, sehingga mereka dibolehkan pulang. Sedangkan dua orang lainnya hingga kemarin masih dirawat di ruang khusus tersebut.

Berita ini tentu saja menggembirakan karena manajemen RSUZA tampak profesional menjalankan tugasnya terkait corona. Selain serius merawat sepuluh pasien suspect corona, juga bersungguh-sungguh memeriksa kondisi pasien, sehingga didapat kesimpulan: ada yang diperbolehkan pulang, ada pula yang perawatannya berlanjut.

Realitas ini sekaligus memperlihatkan bahwa tenaga dan perlengkapan medis yang dimiliki RSUZA memang sudah tergolong canggih. Ini menambah optimisme kita bahwa RSUZA insyaallah mampu menangani tugas besar di bidang mitigasi virus corona di Aceh.

Sementara itu, dari berita kedua (Nova Batalkan Kunjungan ke Luar Negeri), kita menaruh respek karena sebagai kepala daerah di Aceh, Nova Iriansyah ternyata telah mengambil sikap yang jelas dan tegas, yakni tidak akan berkunjung lagi ke luar negeri selama wabah virus corona masih menjadi ancaman. Jadwal-jadwal kunjungan yang sudah dirancang, dibatalkan semua.

Langkah ini merupakan langkah yang tepat dan strategis, terlebih karena sudah 161 dari 241 negara di dunia terjangkit virus corona. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) bahkan telah menyatakan bahwa corona sebagai pandemik global.  Mau pergi ke mana lagi seorang gubernur dari Aceh? Hampir semua negara sudah dilanda corona. Beberapa kota besar di sejumlah negara bahkan ditutup (lockdown), sebagaimana nasib Wuhan pada awal corona mewabah.

Jadi, tidak bepergian ke luar negeri dalam kondisi seperti sekarang ini adalah pilihan yang bijak. Bukan saja merupakan langkah antisipatif agar tidak tertular, keberadaan seorang kepala daerah di provinsi yang ia pimpin jauh lebih berguna daripada bepergian ke luar negeri. Dengan adanya Plt Gubernur di Aceh saat ini bersama rakyatnya maka ia dapat mengomandai langsung upaya-upaya mitigasi terhadap kemungkinan jangkitan virus corona.

Di Aceh memang belum ada kasus positif corona, namun mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Upaya pencegahan itu akan lebih efektif jika dilakukan dengan sungguh-sungguh di bawah satu komando, yakni dikomandoi langsung oleh pucuk pimpinan pemerintahan. Jadi, Pak Plt Gubernur, tetaplah bersama rakyat dalam suasana suka dan duka. Mari kita pikirkan bersama-sama dari waktu ke waktu langkah antisipatif agar Aceh tak sampai dirasuki virus corona.

Empat tips sudah direkomendasikan Nova. Pertama, hentikan dulu perjalanan ke luar negeri. Kedua, hindari sementara jabat tangan dan ganti dengan simbol lain yang intinya tetap memberi penghargaan kepada sesama. Ketiga, tiadakan sementara kegiatan-kegiatan massal. Keempat, jalankan pola hidup sehat seperti yang tercermin dalam program BEREH (Bersih, Rapi, Estetis, dan Hijau).

Plt Gubernur juga telah meminta petugas karantina agar intensif memeriksa kesehatan masyarakat yang melintasi pintu masuk Aceh, khususnya di bandara. Tak berlebihan pula tentunya jika pemeriksaan kesehatan juga dilakukan di jalur laut dan darat, sebagaimana Singapura melakukannya sejak akhir Januari lalu.

Nah, kita juga angkat topi atas instruksi Nova kepada Direktur RSUZA agar memberikan insentif maksimal kepada petugas yang menangani pasien suspect corona supaya psikologi mereka terbantu. Nah, inilah gunanya seorang kepala daerah tetap berada bersama rakyatnya di tengah situasi genting seperti ini. Ia bisa langsung mengeluarkan instruksi dan mengukur indikator kerberhasilannya ataupun mencari solusi yang tepat atas setiap kendala.

Jadi, mulai dari Plt Gubernur hingga bupati/wali kota dan pejabat teras lainya di Aceh mari menahan diri sejenak. Jangan terlalu ringan kaki (lagi) melangkah ke luar negeri, apalagi jika hasil yang didapat dari kunjungan itu tetap abstrak, bahkan absurd, seperti yang sudah-sudah. Jika di sini kehadiran para pejabat lebih didamba dan bermakna, buat apa pergi jauh ke negeri orang yang bukan tak mungkin “hanya sekadar menjemput” virus corona belaka.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved