Jurnalisme Warga

Wujudkan Wisata Halal di Segala Lini

DINAS Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menghelat kegiatan urgen dengan tema "Penguatan Peran Dai dalam Mewujudkan Aceh

Wujudkan Wisata Halal di Segala Lini
IST
AMIRUDDIN(Abu Teuming), Penyuluh Agama pada Kuakec Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), dan pengurus FAMe, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH AMIRUDDIN(Abu Teuming), Penyuluh Agama pada Kuakec Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), dan pengurus FAMe, melaporkan dari Banda Aceh

DINAS Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menghelat kegiatan urgen dengan tema "Penguatan Peran Dai dalam Mewujudkan Aceh sebagai Destinasi Wisata Halal Unggulan."

Melihat tema, bisa dipastikan yang menjadi peserta kegiatan ini merupakan bapak berpeci, berkoko, dan sebagiannya berjanggut, alias teungku dan aktivis dakwah yang giat menebar nasihat, serta membumikan syiar Islam.

Mereka dai dari kalangan khatib dan imam masjid. Tak ketinggalan juga Penyuluh Agama Islam (PAI) yang semuanya dihadirkan dari Aceh Besar dan Banda Aceh. Kebetulan, saya bersama beberapa penyuluh agama di Aceh Besar berkesempatan ikut pembekalan ini di Grand Permata Hati (Ph), 11-12 Maret 2020.

Permata Hati satu-satunya hotel yang bersertifikat halal di Aceh, bukan berarti hotel lain tak halal. Tapi hotel ini memiliki nilai lebih ketimbang hotel lain. Itu sebab, wisatwan Malaysia kepincut bermalam di hotel yang dekat dengan Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, ini.

Berbicara halal bukan hanya makanan yang siap disantap. Tapi hotel yang tak bisa dikunyah dan ditelan pun mesti halal. Artinya, pelayanan hotel wajib islami, makanan diproses secara islami, dan tidak mengizinkan kegiatan berbau maksiat dilaksanakan di hotel itu.

Dana pembangunan fasilitas hotel harus diperoleh dari sumber islami, bukan hasil riba dan korupsi. Minggu lalu saya sempat melihat label halal di kulkas yang dipajang di toko elektronik. Artinya, apa pun harus halal, bahkan anak gadis sering berkata: Kalau cinta halalkan saja, Bang.

Disbudpar menghadirkan Dr Iskandarsyah Madjid sebagai pemateri  yang mengupas berbagai hal terkait wisata halal. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala ini berbagi pengalaman demi menyukseskan wisata halal di Aceh. Ia juga menceritakan sulitnya mendapatkan makanan bersertifikat halal jika berkunjung ke negara tertentu. Karenanya, Aceh harus menyambut baik kedatangan pelancong dengan memberikan pelayanan serbahalal.

Banyak hal yang ia kupas tentang tema ini. Saya dengar ucapannya bahwa wisata itu menjaga, seperti menjaga kantong. Artinya, ketika wisatawan datang, tentu mereka membawa uang, berbelanja di lokasi kunjungan, dan butuh kendaraan. Yang paling mereka butuhkan adalah makanan dan kuliner khas Aceh.

Untuk mewujud wisata halal, Aceh mengusung tema The Light of Aceh (cahaya Aceh). Maknanya cahaya Aceh itu bermacam-macam dengan aneka bentuk seperti budaya, kearifan lokal, kuliner, pranata sosial, dan agama. Semua yang dimiliki oleh Aceh pantas diketahui dan dinikmati oleh masyarakat internasional, kecuali hal yang terlarang.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved