Breaking News:

Inovasi Mahasiswa

Mengenal Zuyadi dan Yuda, Dua Mahasiswa Pembuat Islamic Jammer, Peraih Cumlaude dari Kalangan Dayah

Zuyadi dan Yulidatullah, dua mahasiswa UIN Banda Aceh pembuat alat Islamic Jammer yang pernah mendapat Special Award 2018 dari Korea Selatan.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/FIRDHA USTIN
Zuyadi (berpeci) dan Yulidatullah, dua mahasiswa UIN pembuat Islamic Jammer. 

Laporan Firdha Ustin | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Nama Islamic Jammer menjadi topik perbincangan, khususnya para mahasiswa UIN Ar-Raniry.

Alat hasil inovasi mahasiswa UIN Banda Aceh yang diklaim dapat mematikan sinyal handphone dan sejenisnya di dalam masjid, menyita perhatian setelah disita oleh Badan Monitoring Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh, pada Rabu (11/3/2020) lalu.

Alat itu disita dari laboratorium kampus UIN karena alasan melanggar regulasi penggunaan frekuensi radio.

Namun, sehari kemudian atau Kamis (12/3/2020) sore, alat tersebut dikembalikan setelah pihak universitas menjemput ke kantor Badan Monitoring Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh.

Pihak universitas meminta pihak balai mengembalikan Islamic Jammer menyusul aksi protes yang dilancarkan sejumlah aktivis mahasiswa.

Mahasiswa UIN Heboh, Balai Monitor Spektrum Sita Islamic Jammer Peraih Juara 1 Inovasi Internasional

Islamic Jammer Karya Mahasiswa UIN Pernah Dapat Special Award dari Korea, Ini Dia Perancangnya

Ini Alasan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Amankan Alat Islamic Jammer dari UIN Ar-Raniry

Banyak pihak kemudian bertanya-tanya apa dan bagaimana alat Islamic Jammer itu sehingga harus disita?

Siapa mahasiswa yang membuatnya? Bagaimana cara kerjanya?

Guna menjawab hal tersebut, Serambinews.com mewawancarai secara khusus Zuyadi dan Yulidatullah, dua mahasiswa UIN Banda Aceh pembuat alat Islamic Jammer yang pernah mendapat Special Award 2018 dari Korea Selatan.

Wawancara berlangsung di Kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Sabtu (14/3/2020).

Islamic Jammer Karya Mahasiswa UIN, Bikin Heboh Setelah Dua Tahun Jadi Jawara

Islamic Jammer, alat hasil inovasi mahasiswa UIN Ar-Raniry yang berfungsi meredam sinyal handphone dalam masjid selama shalat jamaah berlangsung.
Islamic Jammer, alat hasil inovasi mahasiswa UIN Ar-Raniry yang berfungsi meredam sinyal handphone dalam masjid selama shalat jamaah berlangsung. (FOR SERAMBINEWS.COM)

Profil Zuyadi

Zuyadi, kelahiran Aceh Utara 4 Januari 1991 merupakan anak dari pasangan almarhum Tengku. H. Muhammad Ali Yusuf dan Hj. Ramlah Husen.

Zuyadi merupakan anak keenam dari sepuluh bersaudara.

Ia dibesarkan dalam keluarga berlatar belakang pendidikan  dayah atau pondok pesantren.

Dalam keluarganya hanya Zuyadi dan abangnya saja yang duduk di bangku kuliah, sementara yang lainnya mengenyam pendidikan di dayah.

Filosofi hidupnya sangat menginspirasi, ia mengutip dari kata Imam Syafii, “berjuanglah, manisnya hidup terasa setelah berjuang”.

Ia meyakini selama menuntut ilmu tidak ada yang namanya nikmat, tidak ada namanya bahagia, dan senang. 

Ia harus lelah terlebih dahulu untuk menikmati manisnya hidup, setelah lelahnya berjuang.

Zuyadi menghabiskan masa-masa kecilnya di Aceh Utara dan pernah mengenyam pendidikan di SDN Desa tutong, Aceh Utara (1997-2003), SMPN1 Tanah Luas (2003-2006), SMAN 1 Tanah Luas (2006-2009).

Selesai SMA ia melanjutkan pendidikan di Dayah Mudi Bireun (2009-2011), kemudian melanjutkan di Dayah Raudhatul Ma’arif Al Aziziyah Cot Krueng, Aceh Utara (2011-2014).

Tamat dari Dayah Raudhatul Ma’arif Al Aziziyah, Zuyadi melanjutkan studi di pendidikan Teknik Elektro UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Ia menamatkan kuliah S1 selama 3,5 tahun dengan peringkat cumlaude.

Dengan peralatan seadaanya, Zuyadi dan Yuda menghasilkan inovasi Islamic Jammer, alat yang bisa mematikan sinyal HP di dalam masjid pada saat shalat fardhu.
Dengan peralatan seadaanya, Zuyadi dan Yuda menghasilkan inovasi Islamic Jammer, alat yang bisa mematikan sinyal HP di dalam masjid pada saat shalat fardhu. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Sejak Januari 2017, ia harus mencari biaya kuliah sendiri dengan cara mengajar di SMK Muhammadiyah hingga saat ini.

Ia juga menjadi ketua bengkel atau laboratorium di SMK tersebut.

Zuyadi adalah sosok mahasiswa cerdas.

Ia kerap kali menjuarai perlombaan di bidang keagamaan, sains dan menjadi lulusan terbaik UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Zuyadi juga aktif dalam berorganisasi.

Ia pernah menjadi ketua Osis di SMAN1 Tanah Luas, sekretaris HMP, HIMAPETRO, aktif dalam ikatan santri Tanah Luas, sekretaris Alumni IKAPETRO, dan sekarang menjadi ketua bidang ibadah di Dayah Mabdaul 'Ulum Al-Aziziyah Lamteumen Timur, Banda Aceh.

UIN Ar-Raniry Ragu Kembangkan Islamic Jammer Hasil Inovasi Mahasiswa, Setelah Sempat Disita Balmon

Kodam IM Utus Perwira Lihat Alat Islamic Jammer di Kampus UIN, Ini Pesannya kepada Kampus

Profil Yulidatullah

Yulidatullah, biasa dipanggil dengan Yuda, lahir di Padang Baro, Aceh Barat Daya pada 26 Juli 1994, ia merupakan salah satu mahasiswa penemu inovasi Islamic Jammer.

Filosofi hidupnya sangat mulia, yaitu ingin menciptakan hal-hal baru dan menemukan suatu inovasi.

Menghasilkan inovasi bukan hanya di bidang Islamic Jammer saja, tapi bidang lain juga ingin ia kembangkan.

Dalam membuat suatu inovasi, Yuda kerap kali membutuhkan fasilitas berupa alat-alat yang mendukung dan juga dorongan ataupun dukungan dari  pihak terkait.

Yuda merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, lahir dari  pasangan Zulkifli dan ibunda Nurhadis.

Ia tumbuh menjadi remaja yang sangat tertarik dengan dunia pendidikan, hal itu pun terbukti di dalam keluarganya hampir semua sudah mendapatkan gelar sarjana.

Masa kecil yuda dihabiskan di Manggeng, Aceh Barat Daya.

Riwayat pendidikan Yuda di mulai dari SD di Desa Pante Pirak, Kec, Manggeng Abdya dan MTSN Mangeng.

Selesai MTS, ia sempat menganggur selama satu tahun, kemudian kembali melanjutkan pendidikan di pengajian non-formal, Dayah Darussalam, Labuhan Haji selama satu tahun.

Keinginan Yuda untuk berkuliah mulai muncul dan ia ingin melanjutkan kembali bersekolah di Madrasah Aliyah Swasta  Labuhan Haji Aceh Selatan.

Setamat dari Madrasah Aliyah, Yuda memutuskan merantau dan memulai kuliah di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh pada tahun 2014 di jurusan Pendikan Teknik Elektro (PTE). 

Sertifikat Penghargaan Inovasi Islamic Jammer, karya dua mahasiswa UIN-Ar-Raniry. Foto handover Serambinews.com
Sertifikat Penghargaan Inovasi Islamic Jammer, karya dua mahasiswa UIN-Ar-Raniry. Foto handover Serambinews.com (serambinews.com)

Yuda kecil tak pernah bermimpi menjadi seorang guru, dulu ia ingin melanjutkan di jurusan hukum.

Namun ia meyakini kehendak Allah lebih indah dari pada kehendak manusia, sehingga masuklah di Pendidikan Teknik Elektro UIN Ar-Raniry.

Ia pun  menamatkan kuliah S1 selama 3,5 tahun dan dengan peringkat cumlaude.

Sejak masuk di  Pendidikan Teknik Elektro, awalnya ia sempat bertanya-tanya, tentang jurusannya, karena ia hanya memiliki dasar pendidikan di dayah dan tidak mempelajari ilmu kelistrikan. 

Oleh karena itu, lagi-lagi ia meyakini lebih bagus pilihan Allah dari pada pilihan manusia, maka di Pendidikan Teknik Elektro ia banyak merasakan perubahan.

Setelah 2 semester menjalani masa kuliah, ia mengaku ada hikmah dan perubahan yang dirasakan sejak masuk di pendidikan teknik elektro.

Hikmah yang paling besar dirasakan Yuda saat mereka mengikuti lomba internasional dengan membuat inovasi Islamic Jammer.

Maka seiring berjalannya waktu, Pendidikan Teknik Elektro menjadi  salah satu jurusan favorit baginya hingga saat ini.

Selama di kampus ia bisa menikmati berorganisasi dan berinovasi.

Ia berpendapat bahwa organisasi itu bukan menghambat untuk belajar, tetapi dengan organisasi bisa lebih membuat semakin giat dalam belajar.

Semasa organisasi, ia lebih mengerti bagaimana mengatur anggota, kondisi, situasi, dan menyelesaikan permasalahan.

Yuda pun telah merasakan perubahan karakter, sikap dan pengetahuan dari beroganisasi.

Yuda aktif di berbagai kegiatan, ia pernah menjabat sebagai ketua jurusan selama dua periode, himpunan mahasiswa jurusan, BEM UIN, dan aktif di organisasi paguyuban.

Pernah mengikuti kelas nonformal seperti mengikuti organisasi belajar, forum-forum mengajar keagamaan dan disamping itu ia juga mengikuti kelas pemprograman dan menekuni pemrograman arduinauno.

Kesibukan berorganisasi ternyata tidak menghalangi Yuda untuk berprestasi.

Ia kerap kali menjuarai perlombaan tilawail qur’an, hafidzul qur’an dan pidato-pidato keagamaan tingkat kabupaten.

Yuda mengaku mendapatkan ilmu sains dan teknologi didapatkan selama masa kuliah, dan inovasi yang dihasilkan Yuda beserta rekannya adalah alat Islamic Jammer.

Hingga kini, sudah genap 2 tahun Yuda menjadi alumni dari pendidikan  teknik elektro.

Selesai kuliah ia langsung memutuskan untuk terjun sebagai guru di sekolah Dayah Terpadu Babul Maghfirah, Cot Keuung Aceh Besar.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai kepala laboratorium komputer, dan juga sebagai anggota direktur bendahara bank wakaf mikro yang satu satunya berada di Aceh.

Pada tahun 2018, ia juga sempat mengajar di SMK Muhammadiyah Banda Aceh.

Tetapi karena kesibukan yang sangat padat, akhirnya ia memutuskan memfokuskan untuk mengajar di dayah.

Selain itu, ia juga pernah bekerja di prodi sebagai asisten laboratorium Pendidikan Teknik Elektro pada tahun 2018-2019.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved