Jurnalisme Warga

Kendala, Tantangan, dan Tindak Lanjut Membangun Pulo Aceh

Risalah ini merupakan kelanjutan dari reportase saya sebelumnya berjudul “Membangun Pulo Aceh, dari Mana Mulainya?” (15/02/2020)

Kendala, Tantangan, dan Tindak Lanjut Membangun Pulo Aceh
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim dan Anggota FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim dan Anggota FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Banda Aceh

Risalah ini merupakan kelanjutan dari reportase saya sebelumnya berjudul “Membangun Pulo Aceh, dari Mana Mulainya?” (15/02/2020). Tulisan sebelumnya mengajak kita untuk berangkat dari paradigma, mengubah cara pandang kita sebelumnya yang memandang daerah terluar dan berada di ujung adalah daerah yang jauh dari sentral politik, ekonomi, dan kekuasaan sehingga tanpa kita sadari, kita menomorduakan perhatian kepada daerah tersebut dan secara langsung memarginalkan penduduk yang ada di daerah tersebut.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kontinental ke cara pandang maritim, karena kita adalah negara kepulauan. Pulau terluar justru harus mendapat perhatian penuh apalagi berada di perairan Samudera Hindia yang tersibuk dan terpenting di dunia.

Reportase terdahulu juga mengajak kita berimajinasi, membayangkan, atau memiliki impian tentang gambaran masyarakat yang kita inginkan di masa depan. Jika ingin memajukan Pulo Aceh, maka pulo seperti apa yang kita inginkan di masa depan, 20 atau 30 tahun ke depan atau 50 tahun ke depan? Mari kita sama-sama berimajinasi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar perlu untuk memiliki Tim Market Intelligence yang terdiri atas kalangan akademisi, di samping diperlukan memiliki konsultan hukum dan infrastruktur. Konsultan akan menjadi sahabat dalam bertukar pikiran agar pemerintah tidak salah dalam melangkah atau dalam mengambil kebijakan. Mereka akan memberikan pemikiran dan solusi bagi pembangunan  daerah. Masyarakat yang akan kita bangun adalah perwujudan dari transformasi peradaban, karena infrastruktur sendiri esensinya adalah pembawa peradaban.

Untuk itu mari kita simak beberapa hal yang menjadi kendala dan tandangan yang saat ini dihadapi Pulo Aceh. Media masih memberitakan warga yang sakit di Pulo Aceh yang dirujuk ke rumah sakit di Banda Aceh diangkut dengan boat nelayan. Belum lagi mendengar berita, ada boat yang membawa rombongan, lalu tenggelam. Hal ini sungguh memprihatinkan dan memperlihatkan bahwa alat transportasi laut sebagai pendukung konektivitas antara Pulo Aceh dan Banda Aceh belum memadai. Seharusnya di zaman sekarang, Aceh yang kaya dengan APBA dan sudah 73 tahun Indonesia merdeka, kita tidak lagi menghadapi persoalan seperti ini. Pemkab Aceh Besar dan Pemerintah Aceh perlu bersinergi untuk mencari solusi terhadap persoalan ini. Karena ini menyangkut hajat hidup dan nyawa manusia.

Pulo Aceh kurang mendapat perhatian dan statusnya juga masih berkategori 3 T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Dalam hal komoditas unggulan, Pulo Aceh belum memiliki data akurat. Data yang dimaksud adalah komoditas yang tersedia, mendukung kebutuhan pasar, dan juga tersedia secara berkesinambungan jika dibutuhkan oleh pasar regional, nasional, maupun internasional. Di sinilah sebenarnya diperlukan Tim Market Intelligence.

Dalam hal pengembangan pariwisata, mungkin masih ragu-ragu di tengah penerapan syariat Islam. Selain itu yang memprihatinkan adalah di daerah pedalaman masih ada yang belum memiliki pasar tradisional dan bank. Sedangkan kedua tempat ini adalah lokomotif bagi perputaran roda perekonomian.

Media masih memberitakan harga gas elpiji bersubsidi 3 kg dan harga semen per sak masih terbilang mahal dibandingkan dengan harga jual di Banda Aceh. Sedangkan jarak dari Banda Aceh ke Pulo Aceh tidak seperti jarak antardaerah di Papua yang harus ditempuh dengan naik pesawat. Kita tinggal menyeberang dengan kapal laut dan tak perlu naik pesawat. Walaupun kita ketahui faktor cuaca menentukan dalam pelayaran ke Pulo Aceh, tapi hal ini dapat diantisipasi jika konektivitas dan infrastrukturnya memadai.

Pulo Aceh belum begitu dibicarakan ketika membahas kerja sama dan konektivitas dengan Maladewa, Andaman, dan Nikobar, Phuket, Langkawi, dan Singapura. Beda dengan Pulau Weh yang selalu diposisikan seperti “anak kandung,” pulau yang dianggap paling penting di antara pulau-pulau lainnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved