Breaking News:

SALAM SERAMBI

Jangan Remehkan Seruan Pemerintah  

Dinas Kesehatan Aceh melalui laman webnya, hingga Rabu (18/3/2020) pukul 08.00 WIB, mencatat sebanyak 24 orang

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan pers terkait penangangan COVID-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2020). Presiden meminta agar masyarakat Indonesia bekerja, belajar dan beribadah di rumah serta tetap tenang, tidak panik, tetap produktif agar penyebaran COVID-19 ini bisa dihambat dan diberhentikan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan 

Dinas Kesehatan Aceh melalui laman webnya, hingga Rabu (18/3/2020) pukul 08.00 WIB, mencatat sebanyak 24 orang masuk kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP), terkait Covid‑19 atau virus Corona. Ke‑24 orang itu tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Dokter Hanif, menjelaskan, ke‑24 orang yang masuk kategori ODP itu adalah mereka yang dirawat di rumah karena mengalami gejala flu, batuk, dan demam ringan. "ODP itu orang dalam pemantauan, dia bisa mengalami flu, batuk, dan demam ringan, tidak perlu dirawat. Mereka tidak ada gejala sesak napas, karena kalau sudah mulai sesak napas itu harus segera dirawat dan menjadi PDP atau pasien dalam pengawasan, ini harus dirawat di rumah sakit," jelas Hanif.

Sedangkan untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP), sejauh ini Dinas Kesehatan sudah mencatat sebanyak 23 pasien. Dari jumlah itu sebanyak 17 orang sudah diizinkan pulang. "Saat ini cuma tinggal 6 orang lagi yang masih dalam perawatan atau pemantauan tim medis di RSUZA," imbuhnya.

Pasien yang masuk dalam pengawasan ini adalah mereka yang sebelumnya mengalami sesak napas, batuk, flu, dan demam tinggi. Mereka memenuhi kriteria untuk diperiksa sebagai pasien yang terduga (suspect) terjangkit Corona. "Makanya harus dirawat di rumah sakit dan menjadi PDP. Tapi dari 23 orang PDP, 17 orang sudah diizinkan pulang," terang Hanif.

Yang sangat kita syukuri , menurut Hanif, hingga Rabu (18 Maret 2020) belum ada satu pun pasien di Aceh yang positif terjangkit Corona. Semua hasil laboratorium atau spesimen yang telah dicek ke Balitbang Jakarta menunjukkan bahwa PDP dari Aceh negatif terjangkit virus Covid‑19. "Tidak ada satu pun pasien kita yang positif Corona. Jumlah diperiksa laboratorium 15, jumlah proses pemeriksaan laboratorium 8, hasilnya negatif," sebut Hanif.

Bagi Pemerintah Aceh, kondisi itu belum berarti kita boleh berpangku tangan. Makanya, pada awal pekan ini Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Nova Iriansyah, menggelar rapat bersama unsur Forkopimda Aceh membahas langkah‑langkah pencegahan penularan virus Corona di provinsi ini.

Ada 17 point yang menjadi rekomendasi rapat iyu dalam mencegah Covid‑19. Antara lain, menyerukan masyarakat supaya membatasi aktivitas di luar rumah (antara lain di warung kopi, pasar, taman, dan tempat wisata) secara tegas dengan tetap memperhatikan aspek HAM dan ketentuan hukum.

Masyarakata bersama pemerintah memantau keberadaan orang asing yang menetap di Aceh dan melarang masuknya orang asing dari luar negeri ke daerah Aceh.

Lalu, pemerintah akan memantau ketersediaan sembilan bahan pokok, mencegah pembelian dalam jumlah besar, dan menindak pelaku penimbunan. Pemerintah pun akan menginventarisir dan mengupayakan pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) dalam rangka penanganan Covid‑19.

Sebagaimana sudah kita sampaikan berkali‑kali bahwa serangan virus bisa sangat cepat mewabah jkka sudah menemukan media pengantarnya. Oleh karena itu, kita semua diminta berhati‑hati jangan sampai menjadi media pengantar virus itu ke tengah keluarga, lingkungan, dan daerah kita ini.

Usaha melindungi diri dari infeksi Corona antara lain dengan cara membatasi aktivitas di luar rumah. Dengan tidak beraktivitas di luar rumah berarti kita tidak banyak melakukan kontak fisik dengan orang lain.

Itulah sebabnya, Plt Gubernur Aceh sudah berulang‑ulang mengingatkan kita semua supaya lebih peka terhadap isu Covid‑19. Orangtua diimbau agar benar‑benar memahami dan memberikan pemahaman kepada anggota keluarga tentang pentingnya membatasi aktivitas di pusat keramaian.

Yang memprihatinkan, diliburkannya sekolah agar anak‑anak berada di rumah, ternyata sebagian mereka malah mangkal di warung kopi.  Ini terjadi karena para orangtua belum cukup memahami kondisi yang ada. Dan, ini menjadi tangan besar bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk memberi pemahaman secara mendalam kepada masyarakat agar kita semua terlindungi dari serangan Corona.

Mohon maaf juga jika harian ini harus terkesan "nyinyir" setiap hari menyampaikan seruan tentang antisipasi Corona. Toh, ini kita lakukan untuk keselamatan kita semua. Teruslah berzikir, teruslah berdoa kepada Allah Swt agar kita semua selamat dari ancaman wabah‑wabah penyakit.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved