Breaking News:

Salam

ODP Bertambah, Maka Jaga Dirilah  

Pemerintah Aceh kembali mengeluarkan kebijakan terbaru terkait dengan kerja PNS/ASN dan tenaga kontrak di masa darurat wabah virus Corona

SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Salah satu SMP di Kuala, Nagan Raya yang diliburkan, Senin (23/3/2020).     

Pemerintah Aceh kembali mengeluarkan kebijakan terbaru terkait dengan kerja PNS/ASN dan tenaga kontrak di masa darurat wabah virus Corona (Covid‑19). Sejak Senin (22/3/2020), seluruh pegawai pemerintah provinsi bekerja dari rumah, kecuali mereka yang berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat. Sebelumnya, Pemerintah Aceh telah memutuskan meliburkan semua sekolah dan dayah selama 14 hari, terhitung sejak 16 Maret 2020.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengatakan, kebijakan dimaksud berlaku hingga kondisi Aceh sudah dianggap aman dari wabah virus Corona, sesuai dengan ketentuan Kementerian Kesehatan dan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penerapan kebijakan dilakukan secara gradual atau bertahap. Pegawai Pemprov lebih dulu nanti akan menyusul ke kabupaten/kota. Tergantung perkembangan kondisi di lapangan.

Untuk membatasi kontak fisik di antara masyarakat Aceh, selain "merumahkan" pegawai dan meliburkan sekolah, pemerintah Aceh juga sudah melarang masyarakat berkumpul di tempat‑tempat keramaian. Jam operasional pusat perbelanjaan dan warung kopi juga sudah dibatasi.

Masyarakat dilarang nongkrong di warung kopi. Warung‑warung atau cafe‑cafe dilarang melayani pelanggan di tempat. Pelanggan hanya boleh membeli untuk bawa pulang ke rumah. Jadi tidak boleh nongkromg di warung kopi seperti salama ini.

Larangan itu juga diikuti dengan razia pematuhan masyarakat. Sebab, ternyata banyak warung dan warga yang tidak patuh pada seruan tersebut. Banyak warga yang membandel dengan tetap nongkrong di warung kopi. Tim gabungan dari Satpol PP dan WH akan menegur pemilik warung serta menghalau pulang warga yang sedang nongkrong di warung kopi.

Sebelumnya, Pemerintah Aceh telah memutuskan meliburkan semua sekolah dan dayah selama 14 hari, terhitung sejak 16 Maret 2020. Lalu, mengganti absen sidik jari (finger print) dengan absensi manual, meniadakan kegiatan apel, senam, dan upacara. Kemudian menunda menyelenggaraan acara yang melibatkan/mengumpulkan banyak ASN (seminar, pelatihan, bimtek dan sejenisnya), serta menunda penugasan ASN ke luar negeri, ke luar daerah dan dalam daerah, kecuali perintah khusus pimpinan. Semua itu dilakukan untuk mencegah penyebaran Corona di Aceh.

Selain itu, Pemerintah Aceh siap menggelontorkan dana tanggap darurat bencana, berapa pun yang dibutuhkan, untuk keperluan penanganan virus Corona. Di antaranya pengadaan alat pelindung diri (APD) untuk petugas dan paramedis. Nova pun mengaku sudah memesan alat tes virus Corona (rapid test) dari Cina. Dengan alat tersebut, pemeriksaan untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi tidak lagi memakan waktu lama seperti yang selama ini terjadi, tetapi cukup 2 hingga 5 menit. Rencananya, alat ini akan didistribusikan ke rumah sakit‑rumah sakit yang ditunjuk pemerintah. Nova belum tahu apakah akan dibagikan gratis atau harus beli. Begitu pun, Pemerintah Aceh sudah memesan ke Jakarta.

Plt Gubernur juga berencana memberi insentif khusus kepada petugas dan paramedis (dokter dan perawat) yang berjibaku di garda terdepan dalam memerangi virus Corona. Seperti diketahui, dokter dan perawat memiliki potensi besar terpapar virus tesebut. Mereka juga harus rela dikarantina jika pasien yang mereka tangani terinfeksi Corona.

Langkah‑langkah Pemerintah Aceh memproteksi masyarakat  dari serangan virus Corona sangat pantas kita hargai. Alhamdulillah, sampai kemarin tidak ada warga di Aceh yang terserang virus itu. Akan tetapi ada data yang memprohatinkan kita, yakni jumlah orang dalam pengawasan (ODP) terus bertambah dari hari ke hari. Sampai, Minggu (22/3) malam sudah mencapai 204 ODP di Aceh.

Karena itu, selain dari proteksi yang dilakukan pemerintah, perlindungan paling efektif tentu dari kita sendiri. Maka, jika diminta berdiam di rumah patuhilah. Tak perlu pemerintah harus melepas singa di dalam kota untuk menghalau warga pulang ke kediaman masing‑masing. Atau polisi menembakkan gas air mata ke dalam cafe‑cafe tempat banyak warga yang tak patuh berkumpul.

Jaga dirilah agar kita tidak menjadi "media" bagi penyebaran virus Corona. Aamiin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved