Opini

Covid-19, Ayo Siaga  

Tiga bulan terakhir, dunia dihebohkan dengan wabah novel coronavirus yang pertama sekali muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei,

Covid-19, Ayo Siaga   
IST
Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes, SpOT, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh Dosen FK Unsyiah

Oleh Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes, SpOT, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh Dosen FK Unsyiah

Tiga bulan terakhir, dunia dihebohkan dengan wabah novel coronavirus yang pertama sekali muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada 31 Desember 2019. Virus ini menyebabkan gangguan saluran nafas pada manusia, mulai dari batuk, pneumonia (radang paru-paru), hingga kematian. Pada Februari 2020, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menami penyakit ini dengan COVID-19, singkatan dari Coronavirus Disease 2019. Virusnya dinamai SARS-CoV-2 atau nCoV.).

Pada 2 Maret 2020 Presiden Jokowi mengumumkan Indonesia memiliki pasien positif covid-19, kurang dari 3 minggu kasus positif menjadi 450, 38 meninggal, 20 orang sembuh. Virus corona ini menyebar tanpa mengenal usia dan status sosial, suku dan ras. Para ahli memperkirakan puncak penyebarannya di Indonesia bisa hingga awal Mei 2020. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) memperpanjang status siaga Covid-19 hingga 29 Mei 2020 atau selama 91 hari terhitung 29 februari  2020.

Banyak yang mengatakan sebenarnya di dunia ada beberapa penyakit yang lebih mengerikan dari Covid-19, apalagi di Indonesia misalnya TBC yang membunuh lebih banyak dibanding wabah ini? Bahwa hal wajar jika kita siaga, penyebaran yang begitu cepat dan masif. Penyakit  ini baru sehingga diagnostik dan penanganannya terus berubah sesuai temuan terakhir.

Iran negara yang terjangkit paling parah di Jazirah Arab terlihat porak poranda akibat Covid ini dikarenakan fasilitas kesehatan mereka yang tidak terlalu baik akibat embargo Amerika. Italia,  menjadi tempat terparah setelah Cina, memiliki lebih dari 47.000 kasus dengan 5.032 kematian. Italia tidak cukup memiliki ventilator (alat bantu nafas) untuk menangani pasien berat hingga akhirnya medis harus memilih mana yang diselamatkan dan yang terpaksa jadi korban.

Gubernur New York Andre M Cuomo telah meningkatkan status siaga dan melakukan slowdown meminta orang tetap di rumah dan tentara menjaga perbatasan untuk mengurangi orang masuk. Saat ini lebih 160 negara terdampak Covid-19, artinya negara di dunia akan bekerja dengan kekuatan sendiri tanpa bantuan.

Paling tidak saat ini ada 5 model penanganan. Pertama lockdown selama 14 minggu, ini dilakukan Cina, Italia, Francis, Spanyol, dan Malaysia. Kedua, early contact tracing (mencari jalur penyebaran), dilakukan Singapore. Ketiga, rapid mass identify (test massal dan mengisolasi yang positif), dilakukan Korea Selatan dan Jerman (saat ini sudah mulai berpikir lockdown). Keempat, tingkatkan disiplin dan klaster wilayah seperti dilakukan Jepang dan Hongkong. Lima, transparansi melalui keterbukaan informasi, sehingga masyarakat menjaga diri dari area penyebaran seperti dilakukan Taiwan.

Bagaimana Indonesia?

Banyak saran masyarakat dan ahli menghadapi wabah ini, di antaranya meminta lockdown, satunya memutus rantai penyebarannya. Pemerintah pusat kemudian meminta para kepala daerah mencari cara menghadapi Covid-19 dengan tanpa memilih opsi lockdown karena wewenang pusat. (Kesiapan ekonomi merupakan alasan terbesar pemerintah tidak memilih opsi ini).

Serentak pimpinan daerah di Indonesia meliburkan sekolah, mulai Paud hingga perguruan tinggi meminta peserta didik beraktivitas dari rumah dengan memanfaatkan teknologi. Sayang di lapangan tidak efektif karena kurang sosialisasi sehingga terlihat aktivitas sosial masyarakat semarak seperti musim libur sekolah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved