Breaking News:

Salam

Jangan Perolok olok Ancaman Maut

Pasien tersebut masuk rumah sakit tiga hari sebelumnya dan menjalani perawatan di ruang Respiratory Intensive Care

SERAMBINEWS.COM/JAFARUDDIN
Ruang isolasi dan alat medis RSU Cut Meutia Aceh Utara yang menjadi RS Rujukan penanganan pasien virus Corona di Aceh. 

Satu pasien dalam pengawasan (PDP) meninggal dunia di RSUZA Banda Aceh, Senin (23/3/2020), sekitar pukul 12.45 WIB. Pasien tersebut masuk rumah sakit tiga hari sebelumnya dan menjalani perawatan di ruang Respiratory Intensive Care Unit (RICU). Pasien rujukan dari rumah sakit di Lhokseumawe itu dicurigai terinfeksi Corona karena memiliki riwayat perjalanan ke luar kota. Meski demikian, hingga ia meninggal tim Gusus Covid‑19 Pemerintah Aceh belum bisa memastikan apakah pasien tersebut terinfeksi Corona atau tidak, karena hasil pemeriksaan labotorium belum keluar.

Jubir Covid‑19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani menerangkan, almarhum sebelumnya sempat melakukan perjalanan dinas ke Surabaya dan Bogor, yaitu pada awal Maret lalu. 13 hari sejak perjalannya tersebut, almarhum masuk ke salah satu rumah sakit di Lhokseumawe dengan keluhan sakit kepala, nyeri sendi, dan badan lemas. "Beliau dirawat di rumah sakit Lhokseumawe pada 16 Maret. Karena kondisinya yang tak membaik, almarhum kemudian dirujuk ke RSUZA Banda Aceh. Sejak 20 Maret ia dirawat di RICU dan menjadi pasien yang berstatus PDP terkait Covid‑19."

Selama dalam perawatan, almarhum sempat mengeluh sesak napas. Kondisi beliau semakin memburuk. Tanggal 23 Maret mengalami sesak napas dan penurunan kesadaran. Penyebab meninggal, gagal napas karena pneumonia akut. Jadi, pasien ini belum bisa disimpulkan positif, masih berstatus PDP, karena hasil labnya belum keluar," tegas Saifullah.

Meski almarhum belum bisa dipastikan positif terinfeksi Corona, namun jenazah almarhum tetap akan diproses sesuai dengan SOP penanganan Covid‑19. "Untuk jaga‑jaga. Namun kita berharap, semoga ini tidak positif."

Semua orang berharap hasil tes almarhum akan negatif dari infeksi Corona. Tapi, sikap kita terhadap ancaman penyakit itu harus terus kita tingkatkan kehati‑hatian, mengingat ancaman virus itu semakin ofensif di berbagai belahan dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan kita untuk menjaga lingkungan tempat beraktivitas agar tercegah dari virus Corona. Langkah‑langkah pencegahan penularan menurut WHO antara lain sebagai berikut. Jagalah tempat kerja tetap bersih dan higienis. Cucilah tangan secara bersih dan menyeluruh secara rutin. Terapkan etika bersin dan batuk secara benar. Minta kolega/kerabat yang sakit untuk beristirahat terpisah.

Badan Kesehatan Amerika Serikat meminta kita mencuci tangan dengan air dan sabun minimal 20 detik, atau pencuci tangan yang minimal mengandung 60 persen alkohol. Kemudian, hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci. Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit.

Sedangkan Kemenkes RI meminta kita menggunakan masker bila batuk atau pilek. Lalu, kita diimbau mengonsumsi gizi seimbang, perbanyak sayur dan buah. Hati‑hati menyentuh hewan. Kita pun diminta supaya rajin berolahraga dan istirahat yang cukup. Jangan mengonsumsi daging yang tidak masak. Bila batuk, pilek, dan sesak napas segera ke fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas dan rumah sakit.

Selain itu, ada banyak hal lain yang disampaikan para ahli untuk mencegah Corona. Misalnya, hati‑hati dengan alat transaksi seperti uang, kartu ATM, mesin ATM, dan lain‑lain yang bisa menjadi media pengantar virus ke tangan kita. Maka, karena itu, kita diminta membatasi kontak di luar rumah serta rajin cuci tangan.

Mayoritas masyarakat di Aceh saat ini dalam keadaan cemas. Dan, pemerintah di semua lapisan sedang berusaha mencegah masuk atau menyebarnya Covid‑19 di daerah ini. Makanya, kita ada segeintir memperolok‑olok ancaman maut kian nyata itu, banyak pejabat pemerintah marah. Pejabat kepolisian juga ikut berang dan mengancam akan mengganjar hukuman bagi yang tidak mematuhi seruan terkait pencegahan virus Corona di Aceh. Dan, kita sangat setuju jika diberi sanski kepada siapapun yang memperolok‑olok seruan "jaga jarak" tersebut.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved