Jurnalisme Warga

Yang Jatuh, Tetapi Segera Bangkit

Penyebabnya tak lain karena banyaknya aksi terorisme yang terjadi. Di antara yang paling diingat publik adalah kasus Bom

Yang Jatuh, Tetapi Segera Bangkit
IST
QAMARUL ACHYAR Saifuddin Bantasyam, Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH QAMARUL ACHYAR Saifuddin Bantasyam, Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Banda Aceh

RADIKALISME dan terorisme merupakan dua kata yang sangat akrab dalam memori publik di negeri ini. Penyebabnya tak lain karena banyaknya aksi terorisme yang terjadi. Di antara yang paling diingat publik adalah kasus Bom Bali I dan Bom Bali II, Bom JW Marriott, dan serangan teroris di Jalan MH Thamrin, Jakarta. Serangan ini kebetulan dapat direkam dengan handphone oleh beberapa orang dan kemudian secara berulang disiarkan dalam breakingnews beberapa jaringan televisi.

Saya pun membaca berita-berita dan menonton berbagai tayangan televisi tentang radikalisme dan terorisme itu, meskipun kedua hal itu tak sepenuhnya dapat saya pahami. Namun, saya percaya satu hal bahwa terorisme memang perilaku yang sangat menghancurkan. Teroris itu seperti buta mata dan buta hati, tak mau tahu siapa yang menjadi korban, termasuk perempuan dan anak-anak yang tak ada kaitan sama sekali dengan politik. Mengapa ada orang yang mau melakukan kejahatan semacam itu? Bagaimana nasib para korban?

Saya menemukan sedikit jawaban pada 11 Maret lalu saat memenuhi undangan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh di The Pade Hotel, Aceh Besar. Tema kegiatannya adalah Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme. Sebagai orang muda yang haus ilmu, saya tak mau melewatkan sedikit pun acara ini, apalagi hadir Letkol Setyo Pranowo dari Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) Jakarta, dan Febby Firmansyah, korban bom JW Marriott pada 5 Agustus 2003.

Cerita Febby

Febby bicara dua kali. Pertama, dia tampil bersamaan dengan dua panelis lain, yaitu Satyo dari BNPT Jakarta dan Wiratmadinata MH (seorang Kabid pada FKPT Aceh). Di sesi ini, ada seorang pewawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada ketiga panelis.

Pada sesi berikut, Febby  melakukan presentasi solo mengenai bagaimana penderitaannya dan cara dia keluar dari pengalaman buruk itu. Ada pun sesi setelah siang, oleh Wiratmadinata, fokus pada  media sosial dan terorisme.

Sepanjang yang saya amati, sesi Febby adalah sesi yang mendapat perhatian penuh dari audiens yang berasal dari berbagai kalangan. Mengapa? Tak lain tak bukan, seperti saya singgung di depan, dia adalah salah satu korban dari bom bunuh diri di Hotel JW Marriot, Jakarta.

Sangatlah jarang bagi kita, termasuk saya, untuk memperoleh kesempatan mendengar langsung testimoni seorang korban aksi  terorisme di Indonesia. Jadi, ini adalah  momen sangat berharga. Seeing is believing. Dengan melihat dan mendengar langsung, saya semakin percaya bahwa aksi-aksi terorisme memang menimbulkan dampak yang tak terperikan. 

Sekitar 45% tubuh Febby mengalami luka bakar dan luka-luka lain di beberapa bagian tubuhnya.  Dari beberapa foto yang diperlihatkan saat presentasi, seluruh badannya dibalut dengan perban putih. “Saya menjadi seperti mumi,” katanya dengan senyum, tetapi juga terdengar getir.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved