Jurnalisme Warga

Efek Corona di Jalur Barsela

SAYA baru tiba di Aceh Selatan setelah melakukan perjalanan pemantauan masyarakat Aceh yang cenderung memilih pulang kampung

Efek Corona di Jalur Barsela
IST
ZULFATA., M.Ag., Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Tapaktuan, Aceh Selatan

OLEH ZULFATA., M.Ag., Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Tapaktuan, Aceh Selatan

SAYA baru tiba di Aceh Selatan setelah melakukan perjalanan pemantauan masyarakat Aceh yang cenderung memilih pulang kampung karena efek virus corona. Perjalanan yang saya lakukan ini bagian dari penelitian saya untuk mengetahui bagaimana respons masyarakat Aceh terutama di kawasan jalur Barat Selatan Aceh (Barsela) dalam melawan Covid-19 ini.

Dalam penelitian ini, saya menggunakan metode studi lapangan dengan pendekatan observasi dan destinasi sosial. Tahapan pertama yang saya lakukan adalah “nekat” menaiki minibus bersama para penumpang agar saya merasakan bagaimana kondisi visual masyarakat dan apa yang mereka perbincangkan ketika di dalam mobil serta bagaimana kondisi para penumpang saat berada pada rumah makan di lintas Barsela.

Upaya perjalanan yang saya lakukan ini berangkat dari keyakinan sementara saya bahwa Aceh saat ini belum sampai pada status darurat pandemi Covid-19 layaknya Jakarta. Atas keyakinan itu pula saya coba memberanikan diri untuk melakukan penelitian tentang apa yang sedang saya reportasekan ini.

Dalam konteks ini saya tidak bermaksud untuk tidak mengindahkan imbauan pemerintah yang telah mengedarkan beberapa instruksi dan trik untuk dapat bekerja sama melawan corona. Beberapa di antaranya adalah bekerja di rumah, lebih baik tidak mudik, hingga menghindari bertemu dengan khalayak ramai.

Rencana penelitian saya ini berlangsung tiga hari dan tiga malam khusus untuk melihat respons isu corona oleh masyarakat di beberapa kecamatan di Barsela. Dalam perjalanan ini, saya ditemani oleh seorang rekan, yakni Muhammad Amin yang sementara ini saya jadikan sebagai staf peneliti saya.

Dalam proses penelitian ini saya temukan beberapa keunikan perilaku masyarakat, baik saat berada di dalam minibus, di rumah makan, maupun sebelum tiba ke lokasi tujuan yang saya hendaki.

Perilaku keunikan masyarakat yang pertama adalah saat menggunakan masker. Hal ini saya temukan baik di saat di dalam minibus maupun di rumah makan para yang “mudik” karena corona. Letak keunikannya karena adanya para pemakai masker yang menggunakannya secara terbalik, atau tidak konsiten menggunakan masker. Artinya, beberapa jam maskernya dipakai dan beberapa jam lainnya dilepas.

Seperti diketahui bersama, maraknya penggunaan masker bagi masyarakat yang “mudik” terjadi karena ingin waspada terhadap virus corona, tetapi golongan masyarakat seperti ini masih saja berjabat tangan dan duduk berdekatan dengan orang lain. Dapat dibayangkan betapa dekatnya jarak duduk para penumpang minibus atau betapa dekatnya jarak duduk di rumah makan yang diperuntukkan bagi para pemudik di lintas Barsela.

Ketika berada di dalam mobil penumpang, ancaman corona ini justru membuat saya agak sedikit risih dengan beberapa penumpang atau sopir yang bersin atau sesekali batuk. Padahal, sebelumnya adanya ancaman corona justru tidak membuat diri saya risih dengan seseoarang yang bersin atau batuk. Tanpa mengklaim pihak-pihak yang batuk atau bersin tersebut positif corona, bisa saja mereka sedang batuk karena merokok atau bersin karena cuaca. Semoga saja mereka diberikan kesembuhan sehingga tidak merisaukan pihak lain di sekitarnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved