Opini

Corona Membuat Cinta Bersemi Kembali  

Keserakahan dan kesombongan telah dimurnikan oleh virus sehingga membuat manusia merasakan cinta sejati yang telah lama hilang dan kembali ke jalan

Corona Membuat Cinta Bersemi Kembali   
IST
Agus Fianuddin, SHI, ST, MA, Dosen Fakultas FEBI UIN Ar-Raniry, Praktisi Perbankan

Oleh Agus Fianuddin, SHI, ST, MA, Dosen Fakultas FEBI UIN Ar-Raniry, Praktisi Perbankan

Keserakahan dan kesombongan telah dimurnikan oleh virus sehingga membuat manusia merasakan cinta sejati yang telah lama hilang dan kembali ke jalan yang benar. Virus ini telah mengingatkan banyak orang bahwa masih ada langit di atas langit, masih ada yang Maha kuasa.

Kesombongan dan keserakahan (proud & greedy) telah membuat orang lupa diri hingga merendahkan dan tidak peduli dengan orang lain. Hal ini timbul karena kepercayaan diri yang tinggi baik itu karena memiliki kekayaan, keahlian maupun kemampuan yang lebih dibandingkan dengan orang lain.

Ketika kedua penyakit tersebut tidak dikontrol dan sudah menguasai hati, maka secara perlahan-lahan akan membunuh jiwa manusia tanpa disadarinya dan jangan berharap akan ada kebahagian serta mensyukuri segala nikmat dan anugrah pemberian-Nya.

Fenomena virus corona ini jangan dipandang sebagai takdir yang Allah tetapkan kepada manusia, tetapi sebagai bentuk rasa cinta-Nya kepada makhluk yang telah lupa akan status dirinya sendiri sebagai hamba Tuhan, sifat kesombongan dan keserakahan telah melahirkan arogansi moral dan ketamakan yang tiada habisnya sehingga alam menjadi murka kepada manusia.

Alquran telah banyak menceritakan berbagai kisah kemurkaan di alam ini, seperti yang ditimpa kepada kaum Nabi Luth, Nabi Nuh, Fir'un, dan lain sebagainya. Tingkah manusia modern saat ini berbeda dengan zaman dulu, bahkan jauh lebih jahat karena didukung dengan berbagai fasilitas dan teknologi yang ada.

Pada dasarnya setiap peristiwa mengandung pelajaran yang bisa diambil, oleh karenanya manusia diperintahkan untuk mengingat sejarah dan bercermin ke masa lalu untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan karena sering kali sejarah terulang walau dalam dimensi yang berbeda tetapi memiliki esensi yang hampir sama. Kesombongan dan keserakahan membuat manusia lupa diri dan timbul sifat ketamakan yang hanya ada pada binatang hingga melahirkan sifat mementingkan diri sendiri tanpa mengenal rasa empati, kebersamaan dan kesetaraan. Di sisi lain hakikat dari penciptaan manusia adalah sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi ini dengan diberi akal yang tidak diberikan kepada makhluk lain.

Manusia mulai berpikir tentang hakikat dirinya "apakah masih menjadi raja di bumi ini? Karena kesombongan dan keserakahan sedang disterilkan oleh virus yang belum ada vaksinnya sampai sekarang dan mulai menundukkan kepala mereka hingga membuat umat manusia yang dulunya bebas beraktivitas sesukanya sekarang menjadi seperti burung di dalam sangkar yang tidak bisa terbang dan akhirnya merasakan gurihnya kekuatan alam yang diberikan oleh sang Khalik.

Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (Qs. Luqman ayat 18).

Sungguh pilu bila manusia yang sudah mencapai level pengetahuan dan teknologi seperti masa kini akan tetapi jiwanya tidak dilandasi dengan ajaran agama, akhlak dan budi pekerti yang baik serta tidak diiringi dengan penghayatan nilai keimanan yang kuat akan menyebabkan manusia lupa diri, tidak memerlukan orang lain, congkak dan merasa serba bisa. Sikap seperti ini yang merusak pangkat manusia di hadapan sang Khalik sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved