Breaking News:

Salam

Longgar, Tapi Jangan Sampai Keblablasan  

Pertama, tiga dari empat pasien positif terinfeksi Corona yang selama ini dirawat di RSUZA Banda Aceh, dua hari lalu dikembailkaan ke keluarganya

www.serambitv.com
Tiga pasien yang sebelumnya positif Covid-19 akhirnya dinyatakan sembuh oleh RSUDZA Banda Aceh, Minggu (5/4/2020). 

Ada kondisi yang bisa membuat mental kita tambah kuat melawan ancaman Covid-19. Pertama, tiga dari empat pasien positif terinfeksi Corona yang selama ini dirawat di RSUZA Banda Aceh, dua hari lalu dikembailkaan ke keluarganya disertai sertifikat yang menyatakan mereka sudah bersih dari virus itu. Sertifikat pernyatan bebas Covid-19 itu penting bagi si mantan pasien agar ia tak terkucil dari masyarakat. Demikian pula sebaliknya, masyarakat harus menerima kembalinya orang-orang yang suda dinyatakan sembuh itu. Kedua, sejak sepekan terakhir tidak ada pasien baru yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona di RSUZA sebagai rumah sakit rujukan utama di Aceh.

Ketiga pasien yang sudah dinyatakan sembuh itu berkali-kali menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasihnya kepada tim medis RSUZA yang sudah memberi pelayanan dan penanganan medis terbaik hingga mereka bisa sembuh. “Terima kasih kepada tim medis. Alhamdulillah saya mendapatkan perawatan yang sangat baik. Kondisi saya sudah cukup baik dan dinyatakan negative Covid‑19.  Sekali lagi, terima kasih banyak kepada para dokter dan perawat yang sudah merawat saya secara ikhlas, mudah‑mudahan menjadi amal,” kata seorang mantan pasien Covid-19 yang tak kuasa membendung air matanya.

Setelah berterima kasish kepada tim medis, para mantan pasien itu menyampaikan pesan penting kepada kita semua. Mereka meminta kita supaya menjaga diri dan keluarga serta mengikuti berbagai imbauan dan arahan yang dikeluarkan pemerintah, demi keselamatan kita, keluarga, dan seluruh masyarakat Aceh. Selain itu, tetap berdoa kepada Allah Swt supaya Covid‑19 segera musnah.

Selain sembuhnya ketiga pasien serta tak adanya pasien baru yang positif, akhir pekan kemarin Pemerintah Aceh juga sudah mencabut permberlakuan jam malam. Artinya, sebagian besar masyarakat yang aktivitasnya terganggu akibat jam malam, sudah bisa beraktivitas kembali, dengan beberapa catatan, yang intinya tetap jaga jarak, tetap di rumah jika tak ada keperluan di luar. Dan, bila keluar sudah diwajibkan menggunakan masker.

Artinya, “kelonggaran” yang diberikan pemerintah itu jangan sampai membuat kita semua keblablasan dalam menyikapinya. Jika dikatakan warung kopi boleh buka, bukan berarti kita boleh berbondong-bondong nongkrong di warung kopi. Tetapi, tetap harus jaga jarak. Shalat jamaah saja masih tetap jaga jarak.

Jadi untuk para “banggi kupi”, mastinya paha betul bahwa, dalam kondisi sekarang beli kopi di warung dan minumnya di rumah akan jauh lebih baik serta jauh dari risiko Corona. Apalagi, di rumah ada orang tua dan anak-anak. Ya, ngopi di rumah lebih aman untuk sementara ini.

Dalam hal melawan Corona, perjuangan tim medis memang sangat berat. Bukan hanya harus kerja keras, tapi mereka juga mempertaruhkan nyawanya untuk merawat sang pasien. Laporan terakhir dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ada 24 dokter dan belasan perawat di Indonesia yang sudah meninggal karena terinfeksi Covid-19 dari pasiennya.

Walau dalam kondisi demikian, mereka terus berusaha untuk merawat dan menyembuhkan para korban terinfeksi, sekalipun terkendala alat‑alat yang terbatas. Beberapa bahkan meminta bantuan dari masyarakat untuk mendukung perjuangan mereka. Menurut seorang pemerhati, jumlah dokter yang meninggal gara-gara merawat pesien Corona di Indonesia merupakan yang terbanyak di seluruh negara yang terinfeksi Covid-19, seperti Cina, Amerika Serikat, bahkan Italia.

Maka, tidak terbantahkan bahwa para tenaga medis (dokter dan perawat) adalah para pejuang di garis depan dalam menghadapi pandemi virus Corona ini. Mereka bekerja sampai kelelahan merawat para pasien yang semakin bertambah setiap harinya. Bukan cuma lelah mental, perjuangan para tenaga medis melawan virus Corona pun terlihat dari fisk mereka yang melemas  karena harus terbungkus alat pelindung diri (APD) selama berjam-jam setiap bertugas. Mereka tak bisa pulang menjenguk anak istrinya atau keluarga setelah bertugas. Mareka harus menjauh dari siapapun selama dua pekan setiap habis bertugas.

Para dokter dan perawat di seluruh dunia berpesan dan meminta warga yang sehat untuk tetap di rumah dan menjaga jarak dengan setiap orang. Dengan melakukan hal tersebut, mereka mengaku bahwa itu telah meringankan beban dokter dan perawat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved