Opini

Covid-19 dan Ekonomi Petani  

HARI ini dapat dipastikan tidak ada satu kalangan manapun yang tidak tahu dan tidak merasa takut terhadap wabah Corona Virus Disease

Covid-19 dan Ekonomi Petani   
IST
Dr. Ir. Azhar, M.Sc., Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar

Oleh Dr. Ir. Azhar, M.Sc., Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar

HARI ini dapat dipastikan tidak ada satu kalangan manapun yang tidak tahu dan tidak merasa takut terhadap wabah Corona Virus Disease (Covid-19). Virus yang mulai berjangkit di Wuhan, Cina akhir Desember 2019 itu telah menelan korban 781.485 kasus di lebih 190 negara. Dari jumlah tersebut, pasien sembuh tercatat sebanyak 164.726 orang. Sementara meninggal dunia sebanyak 37.578 orang (Kompas.com, 31/03/2020).

Pemerintah Indonesia awalnya merasa "aman" dari jangkitan covid-19, akhirnya melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan pemberlakuan masa tanggap darurat terhitung 29 Februari hingga 29 Mei 2020. Setelah itu, berbagai kementerian dan lembaga berlomba-lomba mengeluarkan kebijakan terkait dengan pengaturan sistem kerja ASN, pembatasan jarak sosial, dan dalam situasi pro dan kontra akhirnya pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan pembatasan sipil skala besar untuk memutus mata-rantai penyebaran virus mematikan itu (Media Indonesia, 1/4/2020).

Tentu, berbagai konsekuensi bakal muncul sehingga pemerintah turut mengeluarkan berbagai kebijakan; sebut saja pembatalan pelaksanaan kegiatan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan refocussing kegiatan dan relokasi anggaran pusat (APBN) sampai dengan anggaran daerah (APBD) dengan tujuan utama meminimalisir jumlah kematian. Risalah singkat ini mencoba meneropong dampak wabah Covid-19 dari terhadap kehidupan sosial ekonomi rakyat (baca: petani).

Darurat bencana

Belajar dari berbagai pengalaman penanggulangan bencana seperti banjir, letusan gunung merapi, tanah longsor, gempa bumi, dan gelombang tsunami; ada dua tahap penting harus dilakukan oleh pemerintah, yaitu tahap tanggap darurat dan disusul dengan tahap pemulihan ekonomi. Untuk kasus Covid-19 ini, pada masa tanggap darurat seperti kita rasakan hari-hari ini, upaya yang dilakukan sifatnya jangka pendek. Adalah hal wajar jika masyarakat dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD), penyemprotan disinfektan, sabun cuci tangan, masker, obat-obatan dan vitamin serta penyadaran terhadap bahaya dan saling berkongsi tips atau kiat pencegahan penularan virus yang sangat mematikan setelah SARS, MERS, flu burung, dan HIV/AIDS.

Tidak dapat dinafikan, pada masa ini banyak pihak mulai dari legislatif, pengusaha, partai politik secara terbuka menyampaikan kepada publik rasa prihatin dan empati untuk meringankan beban masyarakat dalam bentuk potongan gaji dan bantuan berbagai bahan makanan pokok. Kita bangga dan turut bersimpati dan mengucapkan terima kasih terhadap upaya tersebut. Pertanyaannya adalah siapa dan bagaimana strategi penanggulangan dampak Covid-19 pada masa pemulihan ekonomi petani?

Pada masa transisi dari tahap tanggap darurat menuju tahap pemulihan ekonomi berbagai persoalan dihadapi petani. Pertama; akibat pembatasan jarak sosial dan fisik menyebabkan mereka harus tinggal di rumah (stay at home), sehingga mobilitas dan produktivitas menurun dan pada gilirannya berdampak terhadap kesejahteraan. Dalam arti kata lain, pada tahap tanggap darurat petani yang bekerja di sektor pertanian dengan karakteristik hasil produksi bersifat musiman, tidak dapat bekerja di luar sektor pertanian seperti pekerja bangunan, dan pekerja di usaha kecil menengah serta sektor riil lainnya.

Kedua, akibat lain dari kebijakan pembatasan ruang gerak dan mobilitas petani dan pelaku pertanian menyebabkan penawaran terhadap produk-produk pertanian menurun sebagai akibat berkurangnya permintaan. Contoh kasus: pembatasan jam operasi pasar hingga keputusan penutupan pasar merupakan "pukulan telak" bagi petani dan pelaku ekonomi lainnya. Ibarat sudah jatuh di timpa tangga, begitulah analogi yang bisa disematkan kepada petani.

Betapa tidak, selain kedua penyebab yang telah diutarakan di atas, petani juga harus menanggung beban hidup dimana harga-harga kebutuhan pokok, suka tidak suka, terus merangkak naik berbanding lurus dengan kecepatan penyebaran Covid-19. Lantas, dari skenario di atas, siapa dan bagaimana solusi cerdas agar petani dapat keluar dari situasi transisi menuju situasi pemulihan ekonomi?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved