Breaking News:

Citizen Reporter

Produksi Masker, Solusi Jitu Taiwan Tekan Korban COVID-19

Taiwan sampai saat ini belum menerapkan lockdown negaranya. Kegiatan belajar mengajar, perkantoran, dan lain-lain masih berjalan seperti biasa

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Muhammad Zulfajri, S.Pd., M.Sc, Mahasiswa Doktoral Medicinal and Applied Chemistry, Kaohsiung Medical University, Taiwan. 

Sebagai contoh, Nomor ARC saya HCxxxxxxx5, angka 5 adalah angka ganjil, maka saya hanya boleh membeli pada hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.

Minggu lalu saya membelinya pada hari Jumat.

Maka dalam minggu ini saya boleh membelinya pada hari Jumat juga.

Masker yang dibeli telah dimasukkan ke dalam amplop dengan stempel khusus.

Kabar gembiranya, berdasarkan aturan terbaru, mulai 9 April 2020, saya boleh membeli 9 masker per 2 minggu dan tidak ada lagi aturan ganjil genap nomor ARC.

Artinya boleh membeli kapan saja dalam 2 minggu tersebut.

Masyarakat dapat membeli di apotek-apotek yang tersedia.

Biasanya untuk setiap apotek memiliki jadwal tersendiri untuk pembelian masker.

Untuk menghindari antrean panjang, maka diupayakan untuk mengantre lebih awal sebelum jadwal yang ditentukan.

Saya biasanya mencari info apotek-apotek yang sepi dari pembeli masker untuk menghindari lamanya waktu antrean.

Curi 2 Juta Masker dari Gudang, Direktur Perusahaan Real Estate Diringkus Polisi

VIDEO - Muspida Lhokseumawe Simulasikan Cara Aman Nongkrong di Warkop, Pakai Masker dan Jaga Jarak

Alamat-alamat apotik juga diberikan informasinya melalui email yang dikirim oleh staf kantor urusan internasional dari kampus tempat saya belajar untuk mahasiswa-mahasiswa internasional agar memudahkan melacak alamat apotik yang ingin dituju.

Saat ini, harga masker perbuah adalah 5 NT (Rp. 2500), artinya saya membutuhkan 15 NT (Rp. 7500) untuk sekali beli 3 masker.

Selain pembelian langsung ke apotek, masyarakat juga bisa membelinya melalui sistem online, namun dikenakan biaya servis 7 NT (Rp. 3500).

Kemudahan dalam hal pembelian masker sangat bermanfaat bagi masyarakat Taiwan dan juga bagi kami mahasiswa dan masyarakat Aceh yang berada di Taiwan untuk mencegah dari penularan COVID-19.

Pemerintah Taiwan sangat fokus dalam pemenuhan masker, karena mereka telah belajar dari kasus SARS ditahun 2003 yang menelan banyak korban meninggal lebih banyak dibanding dengan kasus COVID-19.

Masyarakat diimbau bahkan diwajibkan memakai masker bila berada di ruang publik, seperti transportasi umum, kantor, maupun sekolah atau kampus.

Di Indonesia, melalui Jubir Pemerintah Pusat untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengumumkan bahwa sesuai rekomendasi WHO, mulai tanggal 5 April 2020, maka semua penduduk di Indonesia diimbau untuk menggunakan masker, terutama masker kain.

Namun, salah satu masalah di lapangan adalah kelangkaan masker.

Maka saran saya, khususnya kepada Pemerintah Aceh yang saat ini sedang fokus kepada penanganan COVID-19, agar juga lebih fokus untuk mencukupi kebutuhan masker untuk masyarakat.

Pemerintah dapat membuka pabrik-pabrik baru khusus memproduksi masker.

Gubernur mungkin bisa mulai berpikir bersama Badan Usaha Milik Aceh (BUMA) agar dapat berkontribusi secara signifikan untuk bisa memproduksi masker minimal 1 juta masker per hari.

Sebenarnya, produksi masker selain melindungi masyarakat juga dapat menambah pemasukan daerah, di mana andaikan mampu memproduksi 1 juta masker per hari, artinya ada 7 juta masker per minggu.

Bila harga jual masker Rp. 2500 per buah, maka pemasukan pemerintah daerah diperoleh sebanyak 17.500.000.000 (17.5 miliar) dalam per minggu untuk 7 juta masker.

50% dari produksi dapat dijual untuk masyarakat, dan 50% lagi untuk petugas medis, kebutuhan lab, industri, dan pabrik.

Sehingga dapat mencukupi kebutuhan masker untuk seluruh masyarakat Aceh.

Mungkin jumlah pemasukan daerah itu berkurang karena sebagian masker diperuntukkan untuk petugas medis di rumah sakit, puskesmas, dan klinik  secara gratis.

Kemudian, dapat dibuat aturan pembelian masker bisa dengan jumlah maksimal yang bisa dibeli sesuai nomor KTP masyarakat dan harga masker juga sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah.

Aceh memiliki kekhususan dengan self-government-nya maka sudah seharusnya punya cara tersendiri dalam memenuhi kebutuhan masker sebagai salah satu alat pencegah mewabahnya virus ini.

Perlu diingat, di tengah wabah maka semua masyarakat punya kesempatan yang sama menjadi pembawa virus dan punya kesempatan yang sama menyebarkan virus, karena sudah banyak pasien terinfeksi virus tanpa ada gejalanya.

Selama ada tindakan yang real untuk kenyamanan warga dalam memerangi virus ini.  

*) Penulis juga merupakan Dosen Dpk. Universitas Serambi Mekkah, Guru Dayah Darul Ihsan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Ketua Komunitas Mahasiswa dan Masyarakat Aceh di Taiwan, dan Koordinator Rumoh Umat Indonesia (RUI) bidang Luar Negeri 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved