Minggu, 10 Mei 2026

Harga Kopi Arabika Gayo Anjlok  

Penyebaran virus corona (Covid-19) memberikan dampak besar terhadap proses perdagangan kopi arabika Gayo

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/MAHYADI
Arwin Mega 

TAKENGON - Penyebaran virus corona (Covid-19) memberikan dampak besar terhadap proses perdagangan kopi arabika Gayo. Komoditas unggulan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG) itu bukan hanya anjlok harga,  tetapi nyaris tidak ada pembeli karena sepinya aktivitas perdagangan kopi dunia. Ironisnya lagi, para petani kesulitan untuk menjual kopinya lantaran sebagian besar  pembeli mulai ‘istirahat' untuk membeli. Bila pun ada, harganya yang ditawarkan sangat murah. "Hari ke hari, harga kopi turun drastis. Saat ini harganya sudah sangat memprihatinkan," kata salah seorang pelaku bisnis kopi arabika Gayo, Armiyadi kepada Serambi, Kamis (9/4/2020).

Sebagai contoh, kata Armiyadi, untuk harga kopi kategori asalan sebelum terjadinya penyebaran virus corona sekira Rp 60 ribu per kilogram. Kini, harga tersebut berangsur turun menjadi Rp 58 ribu, Rp 52 ribu, Rp 48 ribu, hingga menyentuh harga Rp 41 ribu. "Untuk harga gelondong atau biji merah, di daerah pinggiran ada yang sudah mencapai Rp 6 ribu per bambu," rinci Armiyadi.

Dia menjelaskan, selain harga kopi turun, sebagian pedagang tidak mau membeli karena tidak tahu hendak menjual kemana. Begitu juga dengan beberapa koperasi eksportir, untuk sementara telah membatasi pembelian kopi arabika Gayo. "Saat ini kontrak pengiriman kopi juga tidak ada. Semestinya di bulan April ini ada pengiriman, tetapi buyer meminta menunda sampai bulan Juni dan Juli," jelasnya.

Menurut Armiyadi, anjloknya harga kopi karena terjadinya hambatan mulai dari hulu hingga ke hilir sejak merebaknya virus corona. Untuk sementara, banyak cafe-cafe di negara tujuan ekspor kopi arabika Gayo yang tutup, sehingga terjadi penurunan permintaan. "Jika ekspor berkurang, tentu eskportir juga mengurangi pembelian. Begitu juga pedagang pengumpul, tidak berani membeli karena mau dijual kemana," tutur Armiyadi.

Bahkan, katanya, sejak anjloknya harga kopi arabika Gayo dan tidak adanya pembeli, beberapa petani menjadi putus asa. "Tadi, ada beberapa petani yang membawa kopinya ke DPRK untuk dijual, karena sudah tidak tahu mau dijual kemana. Inikan sudah sangat menyedihkan. Solusinya harus segera dicari," keluh Armiyadi.

Armiyadi menambahkan, salah satu upaya yang bisa dilakukan, yaitu dengan memaksimalkan keberadaan resi gudang. Pasalnya, resi gudang yang ada saat ini masih sangat terbatas dan  birokrasinya yang masih relatif rumit. "Selain itu, jika melihat hasil produksi kopi kita, sudah bisa dipastikan resi gudang yang ada tidak bisa menampung. Makanya, harus banyak resi gudang di daerah kita ini," imbuhnya.

Dalam waktu dekat, sebut Armiyadi, produksi kopi arabika Gayo akan meningkat seiring mulai masuknya masa panen. Sayangnya, permintaan pasar mulai berkurang seiring dengan adanya wabah virus corona. "Kondisi sekarang saja sulit untuk menjual. Bagaimana nanti karena kita tidak tahu kapan wabah corona ini berakhir," sebutnya.

Di sisi lain, Armiyadi menyebutkan, petani kopi arabika tidak semua petani murni, melainkan ada yang berprofesi sebagai pegawai serta memiliki usaha lain selain bertani. Untuk itu, dia menyarankan agar pegawai yang juga petani untuk menunda sementara menjual hasil kebunnya.

"Kalau pegawai tentu ada penghasilan lain. Mereka bisa proses sendiri kopi dan disimpan sampai kondisi mulai membaik. Sekarang yang diprioritaskan untuk menjual para petani murni yang tidak memiliki penghasilan lain dan hanya berharap dari hasil kebun kopinya. Ini hanya sebagai saran atau masukan," pungkasnya.

Anjloknya harga kopi Arabika Gayo mengancam perekonomian masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah. Pasalnya, hampir 90 persen warga di daerah berhawa sejuk itu berprofesi sebagai petani kopi. Ketua DPRK Aceh Tengah, Arwin Mega, kepada Serambi, Jumat (20/4/2020), menyebutkan, persoalan harga kopi Arabika Gayo harus segera dicari solusi, karena penghasilan utama masyarakat. “Kita menyadari bahwa anjloknya harga kopi memang karena adanya wabah corona. Meski begitu, harus ada segera solusinya,” kata Arwin Mega.

Arwin Mega menambahkan, pihaknya akan mendorong pemerintah setempat untuk mencari formula terbaik mengatasi persoalan yang berkaitan dengan nasib para petani kopi. “Kita tahu bahwa hampir 90 persen lebih warga kita merupakan petani kopi. Tentu dampaknya secara ekonomi akan sangat besar. Untuk itu kita tidak bisa diam, harus cari cara,” jelasnya.

Diakui Ketua DPRK Aceh Tengah ini bahwa pemerintah sedang fokus terhadap pencegahan penyebaran virus corona. Meski begitu, masalah ekonomi juga harus menjadi perhatian. “Jadi, harus sejalan. Bagaimana penyebaran virus corona bisa diantisipasi serta ekonomi juga tetap baik. Apakah itu dengan cara memfungsikan resi gudang atau ada upaya lain,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Aceh Tengah Joharsyah menyebutkan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pertemuan dengan semua stakeholder terkait harga kopi. “Nanti hari Senin kita akan lakukan pertemuan dengan para petani, eksportir kopi, serta anggota dewan untuk membahas masalah ini,” kata Joharsyah. (my)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved