Breaking News:

Kelompok Anarko Ditangkap, Siapa Sebenarnya Mereka?

IPW melihat ada sesuatu yang sangat aneh saat kemunculan kelompok yang disebut-sebut sebagai Anarko Sindikalis itu.

Warta Kota/Andika Panduwinata
Aksi vandalisme bernada provokasi tersebar luas di Kota Tangerang. 'Sudah Krisis Saatnya Membakar', begitulah tulisan yang terpampang di sejumlah dinding. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Pihak kepolisian sudah menangkap lima pelaku vandalisme, Jumat (10/4/2020) lalu. Polisi menyebut mereka dengan kelompok anarko, yakni kelompok yang tidak percaya pada legitimasi negara.
Kelompok ini merencanakan aksi vandalisme secara massal pada pertengahan April nanti. Mereka ingin membangkitkan keresahan masyarakat, sehingga masyarakat ikut berbuat onar dan akhirnya melakukan penjarahan.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Sugeng Hariyanto mengatakan lima pelaku yang ditangkap sudah berstatus tersangka. Pelaku masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut di Polrestro Tangerang. "Mereka sudah tersangka dan sudah ditahan," ujar Sugeng, Minggu (12/4/2020).

Lebih lanjut, dia menambahkan, pihaknya masih akan melakukan pengembangan lebih lanjut terkait kasus tersebut. Khususnya, apakah ada pelaku lain yang ikut melakukan aksi vandalisme bertuliskan 'Sudah Krisis Saatnya Membakar', 'Kill The Rich', 'Mau Mati Konyol atau Melawan Polisi' di Tangerang. "Sementara masih dalam pengembangan," pungkasnya.

Reynhard Perkosa Ratusan Pria di Manchester, Berikut Catatan Kriminalnya, Kini Dihukum Seumur Hidup

Tinggalkan Anak Berusia 3 Tahun Demi Jadi Relawan Covid-19, Rabiatun: Ini Pengabdian untuk Bangsa

Setelah 1 Jam Lebih, Kebakaran di TKW Langsa Lama Berhasil Dipadamkan, Rumah Musnah Ternyata Belasan

Kapolda Metro Irjen Nana Sudjana mengatakan kelompok anarko ini ingin membuat masyarakat resah dan mengajak keonaran. "Mereka tidak puas dengan kebijakan-kebijakan pemerintah dan berupaya untuk memanfaatkan situasi yang saat ini masyarakat sedang resah," ujar Kapolda Metro.

Tiga pelaku ditangkap aparat Reskrim Polres Tangerang Kota bersama anggota Ditreskrimum Polda Metro Jaya di sebuah kafe di wilayah Kota Tangerang pada Jumat (10/4). Kemudian dua orang lagi ditangkap di Bekasi dan Tigaraksa, Tangerang.

Dari tangan mereka, disita barang bukti berupa cat semprot, stensil untuk membuat coretan dinding, hingga handphone. Selain di Jakarta, polisi mengidentifikasi keberadaan kelompok anarko ini di Bandung dan beberapa daerah lainnya.
Kelompok ini merencanakan aksi vandalisme secara massal pada pertengahan April nanti.

Kelompok anarko disebut ingin membangkitkan keresahan masyarakat. Hingga masyarakat ikut berbuat onar dan akhirnya melakukan penjarahan.

Polda Aceh Imbau Warga Antisipasi Perampokan Modus Tim Medis Corona

Harapkan Iba Calon Mertua karena Belum Cukup Mahar, Alasan Pemuda Rekayasa Jadi Korban Perampokan

"Dari hasil membuka handphone, mereka juga akan merencanakan aksi 18 April 2020 akan melakukan aksi vandalisme secara bersama-sama di beberapa kota besar di pulau besar yang tujuannya ada situasi keresahan dimanfaatkan mereka untuk mengajak masyarakat untuk melakukan keonaran dan ajakannya membakar, kemudian menjarah," ujar Irjen Nana.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mengatakan, masyarakat tidak perlu resah dengan isu yang ditebar oleh kelompok Anarko, yang disebut-sebut akan melakukan vandalisme agar terjadi penjarahan besar besaran pada 18 April 2020."IPW berkeyakinan bahwa Polri bisa dan mampu menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat," kata Neta.

Apalagi, katanya, IPW melihat ada sesuatu yang sangat aneh saat kemunculan kelompok yang disebut-sebut sebagai Anarko Sindikalis itu. "Tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba-tiba muncul kelompok yang disebut-sebut sebagai Anarko. Mereka muncul dan menyebar vandalisme di mana-mana, yang seolah-olah memberitahukan bakal ada penjarahan besar-besaran pada tgl 18," katanya.

Uniknya, kata Neta, vandalisme tersebut sudah ada dummynya, sehingga tinggal disemprot dengan cat pilox ke berbagai tempat, terutama tembok. "Dari sini terlihat bahwa kelompok ini secara tiba-tiba muncul dan secara tiba-tiba pula seolah-olah terlihat terstruktur, sistematis, dan masif," katanya.

Dari pola gerakannya, IPW menilai kelompok Anarko ini seperti sedang bekerja untuk menyikapi isu-isu yang berkembang di masyarakat pascapemerintah mengeluarkan kebijakan PSBB untuk menekan penyebaran virus Corona. "Artinya, kelompok Anarko ini sepertinya sedang mengukur kegelisahan publik dan sekaligus hendak mengukur kadar anarkisme di masyarakat pascaPSBB," tambah Neta.

Sehingga bisa disimpulkan kerusuhan dan penjarahan yang disebut sebut dalam pamfletnya itu sendiri sebenarnya tidak ada dan tidak akan terjadi.

"Sebab situasi sosial ekonomi Indonesia hingga saat ini belum masuk pada situasi seperti Mei 1998 di mana kebutuhan pokok sangat sulit didapat dan di sisi lain ada 'perseteruan api dalam sekam' di antara elit politik maupun elit pemerintahan, yang kemudian situasinya meledak akibat aksi spontan masyarakat dan mahasiswa yang jengkel pada rezim Soeharto," paparnya.

Meski demikian, kata Neta, IPW memberi apresiasi pada jajaran kepolisian yang sudah melakukan deteksi dini untuk mengantisipasi gerakan kelompok Anarko ini. Apa yang dilakukan jajaran kepolisian tersebut, menurutnya, adalah bagian utama dari fungsinya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, yang resah menghadapi wabah corona. (*)

Editor: Said Kamaruzzaman
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved