Breaking News:

SALAM SERAMBI

Kita Bisa Tertular, Kita juga Bisa Menularkan

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin membe­ritakan bahwa WHO khawatir akan kebangkitan Covid-19

KHALED ABDULLAH/REUTERS
Para perawat mendapat pelatihan menggunakan ventilator untuk merawat pasien virus corona. Alat bantu pernapasan ini disediakan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Foto diambil di Sanaa, Yaman, 8 April 2020. (KHALED ABDULLAH/REUTERS) 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin membe­ritakan bahwa WHO khawatir akan kebangkitan Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia ini juga memperingatkan semua negara agar berhati-hati mencabut pembatasan yang diberlaku­kan untuk menekan penyebaran virus corona.

WHO menghawatirkan, bersamaan dengan pencabutan pem­batasan sosial atau social distancing maupun lockdown terse­but akan dapat mengakibatkan kebangkitan virus yang memati­kan ini, demikian dikatakan Direktur Jenderal WHO saat jumpa pers virtual di Jenewa, Swiss, Jumat waktu setempat.

Sebelumnya juga diberitakan bahwa Cina dan Amerika Se­rikat kembali dibikin repot oleh gelombang kedua munculnya pandemi Covid-19 ini.

Kita juga pantas cemas karena sekitar 14% pasien yang sembuh dari corona ternyata kembali terinfeksi virus memati­kan ini.

Untuk lingkup Aceh, di satu sisi kita pantas bersyukur kare­na sejak kemarin tidak seorang lagi pun pasien positif corona yang dirawat di RSUZA Banda Aceh. Pasien terakhir berinisial Aj (60) yang dua kali dites swab tenggorokannya selalu positif, sejak kemarin dinyatakan negatif. Hari ini ia dibolehkan pulang ke rumahnya di Banda Aceh.

Akan tetapi, di sisi lain kita pantas khawatir dan cemas me­lihat realitas yang ada, baik di pasar, di warung-warung, kafe, dan restoran yang kini mulai ramai lagi oleh pengunjung. Bah­kan ‘live music’ kembali digelar di sebuah kafe di Peunayong. Sekilas pemandangannya persis seperti ketika di Aceh belum diberlakukan jam malam pada 29 Maret malam, lalu dicabut sepekan kemudian.

Ketika ‘social distancing’ apalagi ‘physical distancing’ tak diindahkan, demikian juga seruan memakai masker atau im­bauan cuci tangan tak dipatuhi, itu sama artinya kita sengaja mengundang virus corona untuk datang menyerang.

Memang seperti dikatakan oleh beberapa ustaz atau mu­balig dalam ceramahnya, kita tak perlu takut berlebihan kepa­da corona karena orang yang akan mati sudah ada daftar na­manya. Malaikat Izrail tidak akan salah orang dalam mencabut nyawa. Insan yang ditakdirkan meninggal karena corona tahun ini tidak akan meninggal oleh sebab lain, termasuk misalnya karena ditabrak Toyota Innova.

Ya benar, pemahaman yang seperti itu tak ada yang keliru dan tak perlu disanggah. Akan tetapi, Islam pun mengajarkan bahwa menghindar dari penyakit, apalagi wabah, itu sebuah ke­harusan. Umat juga diajak untuk menghindar dari takdir yang buruk ke takdir lainnya yang lebih maslahat bagi dirinya mau­pun orang lain.

Pendeknya, karena corona memang belum tentu seseorang mati. Buktinya banyak juga yang sembuh. Tapi di Indonesia, jumlah yang mati lebih banyak daripada yang sembuh.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved