Breaking News:

Salam

Alhamdulillah, Tapi Tetap Jangan Lengah

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, Dr dr Safrizal Rahman MKes SpOT menyatakan, seluruh masyarakat Aceh patut bersyukur

Alhamdulillah, Tapi Tetap Jangan Lengah
IST
Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes, SpOT

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, Dr dr Safrizal Rahman MKes SpOT menyatakan, seluruh masyarakat Aceh patut bersyukur dan lega. Pasalnya dalam beberapa hari terakhir tidak ada lagi temuan kasus Covid‑19 positif baru di Aceh. Semua pasien yang tadinya sempat dirawat di RSU dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh pun sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. "Namun, kita tidak boleh lengah dan menurunkan kewaspadaan diri karena pandemi ini belum berakhir. Kasus Covid‑19 positif masih terus bertambah di beberapa kota lain di Indonesia, bahkan secara nasional kasus kita memasuki angka 4.000‑an, begitu pula di negara tetangga," kata Safrizal.

Dengan kondisi Aceh yang terbuka bagi pendatang, maka masih ada kemungkinan wabah Covid‑19 merebak kembali di Aceh. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus siaga, jangan menganggap remeh, apalagi menganggap ini sudah selesai.

Apalagi, jumlah kasus akibat wabah Coronavirus di negara barat meroket, memaksa pemerintah setempat melakukan berbagai kebijakan ekstrem. Sekolah dan kampus, serta aktivitas bisnis lain ditutup total. Pembatasan kontak kerumunan masih juga dilakukan secara ketat di berbagai kota berbagai negara.

Di Asia, selain China yang jadi pusat wabah sejak awal 2020, berbagai negara mengalami hal sama. Namun beberapa negara sukses meredam wabah ini. Hongkong, Taiwan, Vietnam, Singapura, dan Korsel berhasil menekan laju persebaran, meski wilayah mereka sangat dekat dengan China daratan.

Kunci‑kunci sukses mereka meredam Covid‑19 antara lain, para ahli kesehatan di negara‑negara itu memiliki pemahaman sama, membuat keputusan bersama pemerintah untuk meredam persebaran virus Corona. Mereka memerintahkan jaga jarak antar manusia dan mengisolasi yang sudah terpapar virus. Pembersihan lingkungan lewat penyemprotan disinfektan juga dilakukan. Cara‑cara ini diadopsi negara‑negara lain di Asia termasuk Indonesia, Eropa, Amerika. Namun praktiknya di lapangan membuat perbedaan. Perbedaan paling kentara, negara lain tidak bertindak cepat. AS , Italia, dan Inggris termasuk negara‑negara yang kalah cepat bertindak dibanding agresifitas Covid‑19.

Kebijakan ekstrem lain diterapkan Hongkong secara cepat dengan menutup jalur transportasi ke China. Begitu pula Singapura melakukan tes dan menyeleksi secara ketat lalulintas orang dari dan ke China. Orang‑orang yang tidak memiliki tanda tertular, tetap harus diperiksa. Jadi, tes virus sangat krusial.

Sedangkan di Korsel,  290.000 orang menjalani tes cepat ini sejak wabah terdeteksi muncul di negara itu lewat kerumunan di lokasi ibadah. "Cara memeriksa, mengetes penduduk secara cepat ini langkah luar biasa," kata seorang professor wabah menular di Universitas Nasional Singapura.

Langkah strategis lainnya adalah otoritas kesehatan harus mampu melacak secara cepat dan akurat jejak interaksi pasien terpapar virus Corona. Data yang diperoleh bisa menentukan langkah berikutnya, karantina atau isolasi. Singapura secara baik mampu mengembangkan kemampuan pelacakan ini. Mereka melibatkan detektif dan semua perangkat pendeteksi di lapangan, termasuk kamera pengawas di berbagai sudut kota.

Hongkong juga menerapkan aturan para pendatang yang baru tiba di wilayah itu, harus mengenakan alat pelacak elektronik supaya mobilitas mereka diketahui. Kebijakan ketat seperti ini diikuti sejumlah aturan penegakan hukum yang keras. Singapura menerapkan aturan hukuman penjara bagi para pelanggar kebijakan isolasi dan karantina. Di China, tentara dan polisi akan menangkap siapa saja yang berkeliaran di jalan tanpa alasan, atau tidak mengenakan masker saat di luar rumah.

Kebijakan keras yang sudah menyukseskan ‑‑untuk sementara ini ‑ Singaoura, Korsel, Hongkong, dan Vietnam dalam meredam persebaran Covid‑19 kelihatannya sulit ditiru di banyak negara, termasuk Indonesia karena berbagai alasan dan pertimbangan. "Selain jumlah penduduk besar, faktor religius, sosial, budaya, dan alasan kebebasan sipil menjadi hambatan," kata seorang relawan internassional untuk melawan Covid‑19.

Sekali lagi, untuk masyarakat Aceh, seperti diingatkan dokter tadi, kita tidak boleh lengah. Artinya jangan lupa pakai masker jika ada urusan penting di luar rumah. Jangan lupa cuci tangan pakai sabun, dan terus patauh pada imbauan pemerintah. Insya Allah, kita bisa segera melepaskan diri dari belenggu virus Corona.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved