Breaking News:

Kisah Inspiratif

Relawan Covid-19 asal Nagan Raya, Bangga Mewakili Aceh Berada di Garda Terdepan

Satu lagi relawan medis asal Aceh untuk penanganan Covid-19 (Corona) di Jakarta. Namanya Andi Syahril dari Kabupaten Nagan Raya

Editor: bakri
FOTO PRIBADI
Andi Syahril, relawan RS Darurat Corona Wisma Atlet, Jakarta, asal Nagan Raya, Senin (13/4/2020). 

Satu lagi relawan medis asal Aceh untuk penanganan Covid-19 (Corona) di Jakarta. Namanya Andi Syahril dari Kabupaten Nagan Raya. Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang jadi tulang punggung keluarga ini berangkat ke Ibu Kota demi memenuhi panggilan hati nurani, meskipun nyawa yang menjadi taruhannya.

SUDAH 10 hari, Andi Syahril AMdAK (32) bertugas menjadi relawan medis di Rumah Sakit (RS) Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Jakarta. Hari-harinya kini disibukkan dengan kegiatan melayani pasien Covid-19. Hingga Senin (13/4/2020) kemarin, terdapat 563 pasien yang dirawat di rumah sakit darurat tersebut.

Andi merupakan satu dari dua warga Aceh yang mendaftarkan diri menjadi relawan medis penanganan pasien Covid-19 di Jakarta. Seorang lagi bernama Rabiatun Adawiyah yang berasal dari Kota Subulussalam. Andi sendiri merupakan PNS yang bertugas pada bagian transfusi darah di RSUD Sultan Iskandar Muda (SIM) Nagan Raya.

Ia merupakan anak pertama dari lima bersaudara, sekaligus juga menjadi tulang punggung keluarga. Karena itu sangat wajar jika adik-adiknya sempat sedih dan keberatan ketika Andi mengutarakan niatnya ingin menjadi relawan Covid-19.  “Akan tetapi ini merupakan jihad, sehingga keluarga akhirnya memberi izin dan berlapang dada,” kata warga Kuta Baro Jeuram, Kecamatan Seunagan ini, kepada Serambi, Senin (13/4/2020).

Atas izin keluarga dan pihak RSUD Nagan Raya, ia pun berangkat ke Jakarta. Andi mengaku, keputusannya tersebut didasari atas panggilan hati nurani untuk menolong sesama, mengabdi kepada Bangsa dan Negara. “Kalau bukan sekarang, kapan juga kita berbakti pada Bangsa dan Ibu Pertiwi," ujar pria berusia 32 tahun ini.

Alumni Akademi Analis Kesehatan Banda Aceh ini ditempatkan di ruang laboratorium RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet. Hari-harinya di rumah sakit kini tak pernah lepas dari alat pelindung diri (APD) lengkap. Tidur hingga sholat pun ia harus tetap menggunakan pakaian pelindung tersebut.

“Sangat tidak nyaman. Haus dan lapar kita tidak bisa buka. Kencing saja tidak bisa. Tidur harus pakai APD, sholat juga harus pakai APD," ungkap Andi.

Ia juga merasakan takut, khawatir terpapar virus Covid-19. Sebab meskipun telah menggunakan APD lengkap, risiko penularan tetap berpeluang terjadi. Tetapi perasaan itu ia buang jauh-jauh dengan tetap mengingat Allah.

"Takut iya takut, tapi demi senyum dan raga yang lain, saya tetap semangat. Rasa takut itu akan hilang sendirinya jika kita selalu dekat dengan Allah. Walaupun nyawa menjadi taruhannya, kami tetap semangat menjalankan,” ungkap pria kelahiran 23 Juni 1988 ini.

Pantauan Serambi dari sejumlah foto di akun Facebooknya Sultan Syahril, Andi bersama sejumlah petugas medis terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Semuanya menggunakan APD lengkap. Selain itu juga terlihat beberapa tulisan sebagai bentuk motivasi kepada semua petugas medis.

Andi sendiri mengaku bangga, mewakili Aceh berada di garda terdepan penanganan Covid-19. Ia berharap, Aceh agar benar-benar serius menjalankan protokol pencegahan Covid-19. “Semoga Aceh tidak bertambah angka positif Covid-19. Jangan jauhi orangnya tapi jauhi penyakitnya dengan memutuskan mata rantai penularannya," imbau relawan asal Nagan Raya ini.(rizwan)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved