Breaking News:

Salam

Kita Mulai Kurang Dokter, Warga Jangan Membandel  

Presiden Joko Widodo pada Senin (13/4/2020) secara resmi menetapkan wabah virus corona Covid‑19 sebagai bencana nasional

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Presiden Joko Widodo 

Presiden Joko Widodo pada Senin (13/4/2020)  secara resmi menetapkan wabah virus corona Covid‑19 sebagai bencana nasional. Penetapan ini dilakukan lewat penerbitan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid‑19) sebagai bencana nasional.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan melalui Keppres itu. Antara lain,

penanganan bencana nasional akibat Corona dilaksanakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid‑19 sesuai melalui sinergi antar‑kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. Gubernur, bupati, dan wali kota menjadi Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona di daerah. Diingatkan, dalam menetapkan kebijakan di daerah masing‑masing harus memperhatikan kebijakan Pemerintah Pusat.

Terbitnya Keppres itu pastilah karena kondisi yang berkembang hari-hari ini. Meskipun di Aceh semua pasien posirif Corona sudah sembuh dan tidak ada pasien baru, namun secara nasional angkanya masih terus menakutkan. Hingga dua hari lalu, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tercatat sebanyak 4.557 orang yang tersebar di seluruh provinsi positif Covid‑19. Dari ribuan pasien positif itu, 380 orang dinyatatakan sembuh dan 399 meninggal dunia.

Korban yang berjatuhan bukan hanya masyarakat biasa, tapi juga dari kalangan tenaga medis, baik dokter maupun perawat. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyatakan ada 22 orang dokter yang meninggal karena terpapar virus Corona. Sedangkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat sudah 12 perawat yang meninggal dunia saat sedang berjuang menjalankan tugasnya merawat pasien positif Covid‑19.

Dampak makin banyaknya pasien yang positif terpapar Covid‑19 dan tenaga medis yang ikut menjadi korban jiwa kini juga mulai dirasakan. Antara lain, jumlah dokter yang menangani pasien Corona kini semakin menipis, tidak lagi sebanding dengan jumlah pasien yang masuk. Bahkan, kekurangan dokter hari ini sudah mulai dirasakan di beberapa tempat yang pasiennya banyak.

Selain itu, saat ini juga banyak dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya sudah terpapar virus Corona. Mereka harus menjalani perawatan dan pengobatan. Sedangkan dokter-dokter dan tenaga medis lainnya yang masih dapat bekerja itu juga harus mendapatkan perlindungan agar tidak terpapar dan tetap dapat menjalankan tugasnya di garda terdepan.

“WHO menentukan 1 dokter untuk 2 ribu sekian ratus orang, tapi dalam kondisi pandemi pada saat ini, pada waktu bersamaan kita sangat butuh dokter dan perawat dan ini harus kita lindungi. Kalau semakin banyak masyarakat berobat dan akhirnya dirawat, maka ini akan mengurangi ketahanan nasional kita di bidang kesehatan," kata Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid‑19, Letjen Doni Monardo.

Sebagai solusinya agar jumlah dokter yang menangani pasien Corona tetap tersedia, maka pemerintah akan memberikan surat tanda registrasi dan pelatihan dokter intensif  kepada mereka yang masih belajar.

Solusi lain untuk mencegah kekurangan dokter tentu saja menekan jumlah pasien yang terpapar virus Corona. Dan, tugas ini dapat dilakukan secara efektif oleh kita semua, terutama masyarakat. Seperti sudah setiap hari kita ingatkan, bahwa sikap paling tepat yang harus diambil masyarakat dalam rangka mencegah sebaran virus Corona adalah mematuhi seruan pemerintah. Yakni, jaga jarak tubuh, bermasker jika memang sangat mendesak harus keluar rumah, dan tetap di rumah dengan mengonsumsi makanan sehat, minum vitamin C, dan berolahraga.

Seruan ini akan terus kita sampaikan mengingat hingga kemarin masih banyak warga kita di Aceh yang nekat nongkrong di warung kopi berjam-jam sambil mengepulkan asap rokok. Yang sangat memprihatinkan, mereka tidak menjaga jarak  serta tak menggunakan masker pula. Prilaku membandel seperti itu tentulah sangat potensial menjadi “media” penyebaran virus yang sebenarnya setiap saat kita upayakan dan kita doakan segera berlalu. Aamiin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved