Breaking News:

Salam

Jelang Meugang, Utamakan Pemeriksaan di Perbatasan

Harian Serambi Indonesia kemarin mewartakan bahwa Pemerintah Aceh sepakat untuk menambah kekuatan di posko-posko perbatasan

www.serambitv.com
Posko Bersama Penanggulangan Penyebaran Virus Covid-19 Aceh Tamiang hingga Kamis (16/4/2020) belum sepenuhnya menjalankan fungsi sebagai garda terdepan pemeriksaan terhadap seluruh pendatang ke Aceh. 

Harian Serambi Indonesia kemarin mewartakan bahwa Pemerintah Aceh sepakat untuk menambah kekuatan di posko-posko perbatasan demi mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) masuk Aceh.

Hal itu diutarakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Sunawardi saat menyerahkan sejumlah bantuan kepada BPBD Aceh Tamiang dan Posko Bersama Penanggulangan Penyebaran Covid-19 di Aceh Tamiang, Sabtu (18/4/2020) sore.

Menurut Sunawardi, personel-personel khusus akan  dikerahkan di terminal-terminal perbatasan. Bukan cuma personel, tetapi peralatan juga akan ditambah. Bantuan tersebut dalam bentuk peralatan pendukung kerja, misalnya tenda, mesin genset, velbed, alat pemadam ringan dan berat, serta berbagai bantuan lainnya.

Nah, kita apresiasi apa yang disampaikan oleh Kepala Pelaksana BPBA ini. Terutama karena sudah berulang-ulang dikeluhkan oleh Bupati Aceh Tamiang maupun Syahri selaku Sekretaris BPBD setempat bahwa pemkab di sana kewalahan menghadapi gelombang pengunjung maupun pemudik yang masuk Aceh melalui gerbang Tamiang.

Adalah fakta bahwa minimnya personel, peralatan, dan anggaran menyebabkan pemeriksaan suhu tubuh setiap penumpang bus umum, sopir dan kernet truk barang, apalagi pengendara dan penumpang mobil pribadi, tidak optimal dilakukan.

Kondisi ini tentu saja menjadi titik rawan bagi penyebaran virus corona ke wilayah Aceh, mengingat di Sumut jumlah pasien positif corona maupun pasien dalam pengawasan jumlahnya berlipat kali dari yang di Aceh.

Apalagi dua pasien positif corona yang terdeteksi di Aceh dalam dua hari terakhir (NSL, 41 tahun, asal Gayo Lues dan AI, 54 tahun, asal Kecamatan Medan Denai) keduanya pernah berada di wilayah Sumatera Utara. AI bahkan teridentifikasi sebagai warga Kopelma Darussalam Banda Aceh yang merantau ke Medan, lalu berobat ke kampung kakaknya yang merupakan dokter di Pidie.

Pasien positif corona sebelumnya pun yang sudah dinyatakan sembuh, yakni Aj (60), warga Banda Aceh, punya riwayat perjalanan dari Padang ke Kuala Namu Sumut, baru terbang ke Banda Aceh.

Artinya, Sumut patut diduga sebagai titik rawan bagi Aceh dalam hal penyebaran virus corona. Dari tujuh orang yang positif corona di Aceh, tiga di antaranya pernah berada atau setidaknya transit di Sumut.

Bisa saja mereka terinfeksi virus corona melalui transmisi lokal di tempat lain, misalnya Batam, Padang, atau Jakarta, tapi kemungkinan tertular di Sumut pun bukan hal yang mustahil.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved