Breaking News:

Salam

Jangan Berkerumun Menjelang Ramadhan

RABU Abeh, Uroe Pajoh Pajoh, dan beberapa nama lainnya adalah kegiatan yang paling disukai banyak masyarakat Aceh setiap kali menyambut

Serambinews.com
Ribuan warga Abdya tumpuh ruah di bantaran Sungai Krueng Beukah, Blangpidie, untuk membeli daging meugang, Sabtu (10/8/2019). 

RABU Abeh, Uroe Pajoh Pajoh, dan beberapa nama lainnya adalah kegiatan yang paling disukai banyak masyarakat Aceh setiap kali menyambut datangnya bulan agung, Ramadhan. Masyarakat di Aceh biasanya memasak di rumah lalu ramairamai menyantapnya ke tepi pantai atau  tempat-tempat wisata alam lainnya, sehingga terjadi kerumunan massa.

Dalam dua hari terakhir, media sosial dan media massa dihebohkan oleh kabar tentang banyaknya warga yang mengabaikan physical & social distancing dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Banyak warga yang ramai- ramai ke pantai dan ke tempat-tempat lainnya yang biasa dikunjungi menjelang bulan puasa. Padahal, untuk kali ini, pemerintah sudah mengingatkan agar masyarakat tidak keluar rumah untuk urusan-urusan yang tidak terlalu  penting.

Sejak hampir dua bulan terakhir, banyak tempat ibadah malah ditutup sementara untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sekolah juga sudah lama diliburkan agar tak terjadi kontak phisik sesama kita. Artinya, menjaga jarak itu sangat penting, sehingga hal-hal yang wajib pun bisa ditiadakan dalam kondisi darurat seperti sekarang ini.

Dan, masyarakat mestinya memahami kondisi yang sudah memaksa pemerintah mengambil sikap seperti sekarang ini. Harus diingat pula, di akhir pekan kemarin, kita mendapat beberapa kejutan lagi terkait Corona. Pertama ada pasien-pasien baru yang positif terpapar Covid-19 yang harus dirawat di RSUZA. Dan, kedua kita juga mendapat informasi tentang ada dua mahasiswa asal Malaysia yang kuliah di Banda Aceh, ternyata positif terjangkit Corona ketika diperiksa setiba di negaranya.

Yang menjadi pertanyaan kita, apakah mereka terpapar dalam perjalanan pulang ke Malaysia dari Banda Aceh via Medan, atau mereka memang sudah terpapar sejak berada di Aceh. Di manapun dia terpapar, yang jelas lingkungan dan warga tempat tinggal kedua mahasiswi itu di Banda Aceh tentu harus "disterilkan". Kita percaya Gugus Tugas Covid 1 9Aceh dan Banda Aceh sudah bertindak untuk "mengamankan" lingkungan dan memantau masyarakat di sekitar itu.

Kembali ke soal banyaknya warga yang "meuramien" ke tepipantai menjelang puasa atau bahkan pada bulan puasa nanti, ini harus menjadi perhatian serius pemerintah masing-masing daerah. Kita mendukung sikap Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, yang akan mendenda warganya yang keluar rumah tanpa menggunakan masker. Kita juga mendukung sikap Pemerintah Kota ini yang sudah melakukan Rapid Test Corona terhadap pengunjung warung kopi serta pengunjung pantai.

Sebab, hanya dengan seruan-seruan atau imbauan-imbauan, ternyata banyak masyarakat yang mengabaikannya. Jadi, terkadang masyarakat memang harus dipaksa mematuhi imbauan terkait Covid-19 dengan sikap yang tegas. Sudah berulang-ulang pemerintah mengingatkan bahwa penanganan wabah Covid-19 membutuhkan kerja keras ekstra dari pemerintah bersama seluruh komponen masyarakat. Bahkan, kesadaran diri dan kedisiplinan setiap orang untuk mematuhi protokol kesehatan menjadi kunci pencegahan paparan virus Corona. Upaya mengedukasi masyarakat tentang bahaya dan dampak Covid-19 pun harus dilakukan secara terus- menerus, dan menyeluruh.

Masyarakat diminta supaya bisa disiplin pada protap pencegahan Covid-19. Sedangkan pemerintah mengkaji secara keseluruhan tentang dampak-dampak ekonomi, sosial, dan dampak lainnya agar masyarakat tak semakin menderita di tengah cengkeraman Covid-19. Para dokter dan pakar kesehatan masyarakat mengatakan, lockdown atau isolasi bukanlah kunci untuk menangani persoalan laju penyebaran Covid-19. Sebab, sekalipun penutupan wilayah dilakukan, jika masyarakat tidak bisa mematuhi aturan tersebut, virus korona tetap akan menyebar  emana-mana.

Jadi, kesadaran masyarakat, menjadi kunci utama dalam upaya memutus rantai penyebaran penyakit menular mematikan itu. Apapun konsep yang dilakukan, entah itu lockdown, social distancing atau apa pun lainnya, jika masyarakat tidak bisa disiplin dan punya kesadaran tinggi, itu tidak akan pernah berhasil.

Makanya, Presiden Jokowi beberapa waktu lalu mengingatkan pemerintah-pemerintah daerah, supaya miliki manajemen kelola yang mumpuni dalam mengendalikan masyarakat mereka. Pemerintah daerah harus memiliki strategi yang tegas agar imbauan-imbauan yang dikeluarkan dapat ditaati masyarakat setempat

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved